Ibadah Ramadan di Palestina

| dilihat 1476

SEPERTI di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, di Palestina, bulan Ramadan adalah bulan bagi kaum mikminin dan mukminat (tak sekadar muslim) menjalankan ibadah shaum (biasa kita sebut puasa).

Bulan Ramadan, tulis Zef Vesel di PaliRoots (14/5/18) adalah momen untuk melakukan refleksi, sekaligus peningkatan dan penguatan hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam kalender Hijriah, Ramadan adalah bulan kesembilan dari yang berlangsung selama 29-30 hari, dimulai dan diakhiri dengan bulan baru. Pada umumnya bulan Ramadan hanya berlangsung 29 hari, kecuali pada tahun kabisat.

Hari-hari di bulan Ramadan, ditandai dengan ibadah puasa, sejak fajar tiba, hingga senja berakhir. Selama masa itu, mereka yang berpuasa, menahan diri dari tidak makan atau minum, peningkatan salat dan do’a, memberi amal saleh kepada mereka yang miskin – yatim piatu – dan tak mampu, dan pengabdian intens kepada agama.

Sepanjang hari selama Ramadan, intensitas aktivitas manusia berkurang, paling tidak menurun volumenya. Sebagian besar kaum muslim, menghabiskan waktu mereka di rumah. Pada masa itu, aktivitas menonton televisi dan mendengarkan berita melalui radio, meningkat.

Selain untuk mendengar dan menyimak beragam syiar dan informasi keagamaan, juga berita-berita yang meningkatkan kewaspadaan. Terutama, di kawasan-kawasan tertentu yang menjadi ajang zionis Israel melakukan aksi dehumanitas dan tindakan 'kriminal resmi' lainnya.

Aktivitas ekonomi relatif berkurang pada masa itu. Banyak toko dan kedai, juga pasar komunal, nyaris tak aktif di siang hari, dan baru aktif kembali, ketika senja tiba dan malam hari. Karena selama Ramadan, aktivitas sosial banyak berlangsung pada malam hari.

Selepas salat tarawih, aktivitas sosial ekonomi berlangsung, hingga tengah malam.

Selepas itu, ada aktivitas yang menjadi tradisi, aktivitas orang-orang membangunkan warga kota untuk makan sahur. Di beberapa kota di luar Jerussalem, banyak orang secara berombongan memukul drum – tambur, supaya mereka yang terlelap tidur, terbangun.

Mereka disebut Musaharati. Keberadaan mereka, membuat malam Ramadan di Palestina lebih berirama dan nadi kehidupan kota menjadi terkesan mendalam.

Sahur adalah momen bagi warga muslim Palestina berkumpul. Dalam momen itulah suasana keluarga menjadi terasa maknanya. Kendati demikian, di beberapa zona, khasnya di Gaza dan tepi Barat yang selalu menjadi sasaran gempuran tentang Israel dan sekutunya, makan sahur, sering bersuasana lain. Terutama, karena keluarga tak lengkap lagi, seperti masa-masa sebelumnya.

Setiap keluarga muslim di Palestina, memaknai momentum sahur sebagai suatu masa yang sungguh diberi aksentuasi komunikasi kualitatif. Tak hanya sebagai momen preparasi untuk melaksanakan ibadah puasa esok harinya.

Suasana sahur memang berbeda dengan dengan suasana menjelang buka, ketika keluarga menyiapkan iftar dan kemudian berbuka puasa bersama dengan menikmati hidangan yang kaya selera.

Saat menikmati iftar, setiap orang beroleh energi baru, sehingga mereka bisa menunaikan salat tarawih dan qiyamul lail (salat malam) yang lebih khusyu.’ Termasuk menderas selepas menunaikan salat tarawih, kemudian salat tahajjud dan salat hajat, sebelum akhirnya dipungkas dengan witir.

Sebagian warga, terutama anak-anak dan remaja, menghias malam mereka dengan lentera, meski sederhana. Inilah yang menghiasi suasana rumah pada malam hari, selain berbagai dekorasi lainnya. Lentera dan hiasan rumah dengan cahaya, walaupun hanya cahaya lilin, memberi makna, Ramadan sebagai bulan untuk menyegarkan kembali energi dan semangat, sekaligus harapan baru untuk merayakan hakekat kemanusiaan dengan muru’ahnya.

Jika anda berkunjung ke Palestina selama bulan Ramadan, pada siang hari, jangan berharap anda bisa beroleh tempat untuk makan dan minum, hanya beberapa hotel saja yang menyediakan makanan, itu pun bila kita bisa menjelaskan posisi kita sebagai musafir.

Bagi Anda yang tekun menjalankan ibadah, bulan Ramadan adalah momen terindah untuk merasakan menjalankan ibadah puasa di negeri tempat Allah menurunkan tiga agama.  Pada masa ini, akan terasa bagaimana indahnya ibadah puasa, ketika seluruh resto dan kedai kopi tutup.

Lantas pada hari Jum’at, kita bisa merasa sebagai warga setempat yang bergerak ke Masjid al Aqsa yang monumental dan historis sebagai salah satu masjid suci. Apalagi pada hari itu, biasanya Israel memperbanyak dan memperketat pos pemeriksaan memantau aktivitas umat Islam di tanahnya sendiri.

Ramadan ditandai oleh intensitas ibadat, salat dan do’a, amal kebajikan, dan intensitas penguatan kesalehan personal dan sosial. Di penghujungnya, kewajiban zakat, mengekspresikan kesungguhan dari prinsip keadilan, kemanusiaan, dan kesetaraan yang merupakan ekspresi peradaban yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Salallahu alaihi wa salam.

Di Palestina, momen idul fitri, 1 Syawal, bukan hanya momen sukacita merayakan proses kemenangan insani atas hawa nafsu, melainkan – yang paling utama --  adalah terasakannya dimensi  ketaqwaan yang menjelma dalam interaksi ukhuwah yang kokoh. Dan zakat, menjembatani ketimpangan antara yang kaya dengan yang miskin. Ide utamanya adalah membangun persahabatan dan persaudaraan, kepercayaan, dan solidaritas umat Islam di berbagai strata.

Sekali sekala, datanglah ke Palestina ketika bulan Ramadan, insya Allah kita dapat sungguh memahami indahnya Islam dan mulianya menjadi mukmin dan mukminat. | Jeehan

Editor : sem haesy
 
Polhukam
16 Sep 18, 22:11 WIB | Dilihat : 265
Mandatori Ulama Kuatkan Langkah Pasti Prabowo & Sandi
14 Sep 18, 13:07 WIB | Dilihat : 212
Bertarung di Palagan Politik Pemilu 2019
10 Sep 18, 13:37 WIB | Dilihat : 334
Ihwal Kampanye Pilpres 2019
Selanjutnya
Humaniora
12 Sep 18, 11:22 WIB | Dilihat : 241
Harapan Hampa Tenaga Honorer Kategori 2
11 Sep 18, 11:39 WIB | Dilihat : 274
Sadaf Taherian Sang Pemberontak
09 Sep 18, 01:37 WIB | Dilihat : 225
Mbak Tutut
23 Agt 18, 11:35 WIB | Dilihat : 1981
Hakekat Haji Mabrur
Selanjutnya