Hidup itu sederhana

| dilihat 383

Bang Sém

Salah satu pesan allahyarham ayah dan ibu saya yang paling saya ingat adalah : manusia mengalami perputaran kehidupan.

"Kala sedang diuji dengan kemudahan dan harta, jangan lupakan mereka yang sedang diuji dengan keterbatasan dan susah, meski hanya beberapa detik. Kala sedang diuji dengan keterbatasan dan susah, mintalah pertolongan hanya dengan Allah saja. Kelak Allah akan tunjukkan siapa yang menjadi alat-Nya membantumu."

Begitu pesan mereka. Ketika dilakoni memang seperti itu adanya.

Pesan allahyarham yang lain adalah: "Selalulah berbuat kebajikan dan jangan pernah mengingat-ingatnya, selalu mengingat noda dan dosamu, sehingga kau punya cara untuk selalu tahu diri."

Ketika pergi merantau, allahyarham ibu mendo'akan, supaya saya tidak bergaul dengan orang-orang tamak, sehingga tidak tamak dalam mengelola harta. Tidak bergaul dengan orang-orang bakhil, sehingga tidak ikut bakhil dalam mengelola harta.

"Ingat baik-baik, di dalam hartamu ada hak orang-orang mustadhafin yang menjadi bagian dari tanggungjawabmu," pesan allahyarham ibu.

Kedua orang tua saya selalu mengingatkan saya tentang dua hal dalam konteks manusia, yakni jism (rupa) dan thabi'ah (watak). Keduanya bisa terpisah laiknya cangkang dan isi.

Saya bersyukur, karena sebagian terbesar sahabat dan kerabat saya tidak tergolong kaum yang disebutkan kedua orangtua. Jism dan thabi'ah mereka tidak lagi merupakan cangkang yang terpisah dalam suatu wadah.    

Hubungan kami bukan hubungan transaksional. Tidak juga suatu hubungan bisnis. Melainkan hubungan persaudaraan yang saling membantu dalam kebajikan, bukan dalam persekongkolan. Ikatannya adalah gagasan dan idealisme.

Mereka yang menjalin relasi sebagaimana cangkang dengan isi, seperti air dengan gelas, atau piring dengan juada, lantaran tertekuk tabi'at bakhil dan tamak, tak pernah kekal, bahkan cepat terpisahkan. Karena pada tabi'at bakhil dan tamak ada ketidak-jujuran, dusta, dan pengingkaran atas nilai kemanusiaan dan persahabatan.

Akibat tabi'at semacam itu, manusia hanya cangkang yang bergerak dengan segala kemasannya, sehingga Nietzsche lantang menyatakan, "kemanusiaan hanyalah ilusi."

Di situ individualisme menguasai manusia dan menyebabkan manusia terjebak oleh laku lajak, sehingga mudah terseret pada dehumanitas. Kemudian memandang relasi antar manusia hanyalah untuk kepentingan persekongkolan semata.

Jauh dari nilai platform kebajikan, khairunnas anfa'uhum lin naas (sebaik-baiknya manusia adalah yang memiliki manfaat banyak bagi manusia lain). Bagi mereka tak berlaku nilai urip iku urup, hidup itu mencerahkan dengan segala kemanfaatan.

Secara personal saya memandang mereka yang bakhil dan tamak, sesungguhnya sedang meninggalkan dirinya, sehingga dia lupa diri, tersebab dia lupa kepada Allah sebagai al Khaliq dan Rabb yang menciptakan dan memelihara dirinya.

Persis seperti yang difirmankan Allah dalam Surah Al Hasyr:19, "Dan janganlah engkau seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.

Saya teringat semua ini, ketika dikunjungi seorang sahabat, yang sedang diuji Allah dengan segala keterbatasan dan menjadi bagian dari kaum mustadh'afin. Sahabat yang di masa jaya, senantiasa berbuat kebajikan, dan dalam kelemahannya, masih 'memberi' kepada para sahabatnya, berupa do'a.

Sahabat ini tak pernah tergoda dengan status sosial yang tinggi di masa lalu. Dia tidak membedakan manusia lain karena status dan posisi sosial, dan selalu memperlakukan siapa saja setara dengan dirinya.

Dulu, setiapkali saya berkunjung ke kantornya, tangannya sendiri yang menyiapkan kopi atau teh tamunya. Bukan dia tidak percaya kepada pelayan, melainkan karena dia selalu ingin melayani tamunya.

"Ini kesempatan saya melayani tamu, karena jabatan dan segala kehormatan yang melekat pada kedudukan saya ini tak akan abadi. Siapa tahu, nanti saya kelak tak bisa lagi melayani seperti ini," ungkapnya berulangkali, acap ditanya, mengapa dia lakukan hal sedemikian.

Sahabat saya, ini tak seperti kebanyakan mantan chief executive officer (CEO) di perusahaan besar milik negara yang di hari tua mesti berurusan dengan institusi pemberantas rasuah, atau mereka yang bergelimang harta - karena tak terjangkau oleh institusi tindak pidana khusus, itu.

Dia nikmati hidup sangat sederhana. Dia merasa cukup dengan apa yang dia punya dengan cara jujur dan halal. Saat mengalami persoalan yang tak terduga, banyak sekali orang yang digerakkan oleh Tuhan untuk membantu. Seringkali malah yang tidak dia duga.

Dia cerita, beberapa mantan office boy yang dibantunya menyelesaikan studi dan kini menikmati posisi wajar sebagai manajer dan bahkan direktur, tak diduga-duga datang berkunjung kepadanya. Membantunya, laksana anak berkhidmat kepada orang-tuanya sendiri.

"Hidup itu ternyata sederhana," ujarnya. "Buatlah sesiapa sukses, kelak Allah mengutus entah siapa, membuatmu bahagia," lanjutnya. Tapi, katanya, jangan juga heran menyaksikan, tak sedikit orang yang tamak dan bakhil, yang tanpa mereka duga, Allah mengambil hartanya dengan cara yang pahit dan getir.

"Jangan pernah pikirkan kebajikanmu, karena kita bukanlah sesiapa," ujarnya.

Sebelum berpisah, dia berikan saya sepenggal puisi Maulawi Jalal ad Dien Rumy. Begini:

Jangan engkau membuat rumah di tanah orang lain. / Bekerjalah untuk dirimu, dan jangan untuk orang asing.

Siapakah yang dimaksud orang asing? / Ia adalah jasadmu yang berasal dari tanah,

yang untuknya engkau pusatkan seluruh perhatianmu.

Sepanjang engkau suapi jasadmu dengan makanan-makanan lezat, niscaya engkau tidak akan menemukan intisari roh.

Jika engkau rendam jasadmu dalam minyak kesturi, maka intisarinya akan muncul setelah engkau mati.

Minyak kesturi menyentuh roh, bukan jasad. / Sebab, minyak kesturi itu adalah asma Allah yang Mahaagung.

Ah.. mata saya berkaca-kaca membaca puisi Maulawi Rumy ini. Sekarang saya pahami, nasihatnya sebelum mereka pergi ke alam abadi. Hidup itu sederhana, dan manusia merumitkannya.. !

Editor : Web Administrator | Sumber : ilustrasi istimewa
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 179
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1292
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 467
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 898
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 192
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 619
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 162
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya