Seputar Khurafat dan Sihir

Hantu Drum Roll di Rumah Mompesson

| dilihat 257

UJUNG pekan yang menarik. Seorang famili jauh datang ke rumah Ahad siang. Wajahnya agak pucat. Saya menggodanya supaya agak ceria sedikit. Tapi, tak mempan.

Usai salat dzuhur, saya minta dia bercerita, apa pasal yang membuatnya nampak tak seperti biasanya. Keceriaannya, seolah hilang.

Saya terkesiap sesaat, lalu tersenyum, ketika dia bercerita situasi hidupnya empat pekan terakhir, dia merasa sedang menjadi sasaran sihir. Lantas dia bercerita tentang berbagai kejadian yang dialaminya selama empat pekan terakhir. Cukup menyeramkan juga.

"Ah.. kau tersugesti film-film klenik yang sering kau tonton, kali?" goda saya.

"Serius, Bang.. aku jarang nonton film semacam itu," jawabnya.

Saya jelaskan kepada dia, hal semacam itu, termasuk bagian dari khurafat, alias informasi atas sesuatu peristiwa aneh dalam hidup seseorang yang dihampiri dengan presumsi-presumsi atau dugaan-dugaan negatif. Kemudian diyakini sebagai sesuatu yang benar dan nyata. Cerita yang sesungguhnya tak masuk akal, dan ketika diceritakan akan bertali-temali dengan berbagai peristiwa yang seolah-olah berhubungan satu dengan lainnya.

Ibnu Kalbi menyebut, khurafat mulanya nama seseorang dari Bani Udzrah atau Bani Juhainah yang menghilang beberapa lama, kemudian tiba-tiba muncul di kampungnya. Dia mengaku mengalami peristiwa aneh selama 'menghilang,' karena diculik Jin, dan kemudian dihantarkan kembali.

Lantas, orang itu bercerita berbagai pengalaman yang tak terbayangkan, di luar empirisma manusia pada umumnya. Mereka yang mendengar dan menyimak cerita itu, terlongong-longong. Lantas tidak percaya dengan cerita itu.  Masyarakat pun keterusan mengatakan, bila mendengar cerita semacam itu, dengan istilah 'cerita khurafat.'

Lantas saudara saya itu bertanya soal sihir dan para penyihir. Saya kemukakan pada dia, pada pertengahan abad ke-17 ketika pemikiran rasional berkembang, terjadi polemik sengit antara filsuf wanita, Margaret Cavendish versus ilmuwan Joseph Glanvill, tentang masalah penyihir.

Glanvill, anggota The Royal Society of London, pada tahun 1663 pergi ke Tidworth, Inggris, untuk mempelajari fenomena aneh di rumah John Mompesson, yang bekerja di milisi lokal.

Selama masa tinggalnya di rumah, itu Glanvill mendengar suara goresan di tempat tidur anak-anak. Dia juga mendengar suara terengah-engah mirip dengan suara anjing. Pada kesempatan lain, dia melihat jendela rumah bergetar keras. Peristiwa ini menguatkan kesaksian Glanvill, ada kekuatan di luar empirisma manusia yang kemudian bisa dilihat, didengar, dan dirasakan, tak bisa dirabanya.

Mompesson bercerita kepada Glanvill, keluarganya selama setahun, diganggu oleh suara drum roll, pintu yang terbuka dan tertutup pada waktu yang tak wajar, bau mephitic dan guncangan keras tempat tidur menyiksa istri dan anak-anaknya.

Mompesson menyebut semua itu disebabkan oleh hantu drum yang gemar membunyikan suara kasar dan suara-suara yang menakutkan dan lama kelamaan, menyeramkan.  

Suatu hari, salah seekor kudanya, ditemukan tersumpal mulutnya oleh kaki belakangnya. Tak hanya itu, ibunya Mompesson menemukan pisau tertancap di tempat tidur, dan membuat ibu itu menjerit ketakutan. Di waktu lain, muncul mata merah dalam gelap menghampiri seorang pelayannya yang ketakutan dan terjerembab ke kaki tempat tidur di kamarnya, dekat gudang.  

Sebagai seorang ilmuwan, Glanvill bermaksud mengamati peristiwa aneh yang terjadi di rumah keluarga Mompessons, itu dan menawarkan penjelasan yang masuk akal dan rasional.

Akan halnya Mompesson, menduga yang terburukm dengan berfikir,  fenomena ini merupakan hasil eksplorasi dan eksploitasi daya dari pengikut sihir - yang terlibat dengan roh jahat dan iblis. Tujuannya, hendak menyiksa keluarganya. Mompesson juga curiga, semua itu merupakan pembalasan dari seorang drummer pengembara, yang dia tangkap beberapa bulan sebelumnya, dan tak lama kemudian mati.

Bagi Mompesson semua peristiwa menyeramkan yang dialaminya adalah nyata, dan tidak seperti analisis ahli kejiwaan yang menyebut dia dan anggota keluarganya mengalami gangguan mental, yang kemudian dirasakan mengganggu secara fisik. Dia yakin, yang dialaminya bukan tipuan, tapi dia merasa dirinya merupakan target  amarah roh gentayangan yang membuatnya cemas dan bingung, lantas tidak bisa berbuat apa-apa.

Glanvill menunjukkan ketenangan menghadapi situasi di rumah Mompesson, dan kemudian menuliskan fenomena itu, yang membuatnya menjadi salah satu penulis pertama yang menetapkan prinsip-prinsip filosofi eksperimental baru dari Royal Society.

Dalam bukunya Scepsis Scientifica (1665), Glanvill menolak dogma apa pun tentang pengetahuan ilmiah, Lantas, dia merekomendasikan kehati-hatian terbaik sebelum menegaskan kebenaran proposisi apa pun. Glanvill menangani fenomena di kediaman Mompesson itu dengan moderasi kritis.

Adakah yang dialami Mompesson, itu memperjelas korelasi Magic dengan Sihir? Jean Palou memilahnya. Menurut Palou, ada diskriminasi antara pengertian Magici dan Sihir.

Sihir, menurut Palou merupakan seni untuk memimpin kekuatan Jahat. Sihir mencoba mengendalikan kekuatan yang sama. Magician alias pesulap (penyilap mata) merupakan seorang inisiat dengan banyak misteri. Sedangkan Penyihir hanya mengusai misteri kecil.

Magician adalah seorang guru, akan halnya penyihir merupakan seorang murid yang sering melepaskan kekuatan yang dia tahu sedikit dan yang dia tidak lagi dia kuasai. Ada pengetahuan nyata tentang formula, yang satu mempopulerkan yang lain.

Di abad pertengahan, para magician atau belakangan disebut ilusionis, merupakan penghuni kota, sedangkan penyihir atau Sorcerer adalah penduduk desa.

Magician sering merangkap sebagai pengikut bidat baru, sedangkan penyihir, dengan praktik-praktiknya, melanggengkan tradisi dogma-dogma keyakinan (khasnya tentang animisme dan dinamisme) yang dianggap telah mati,  kultus-kultus druidis atau yang inkar dengan keyakinan terhadap Tuhan.

Magician karib dengan sains, mengambil risiko - di mata orang-orang percaya - hanya jiwanya, karena dia merupakan anak didik orang-orang besar yang menjadi penasihat orang-orang besar pula. Akan halnya Sorcerer alias penyihir merupakan retarder sosial, yang mempertaruhkan jiwa dan nyawanya, karena ia hanya tumpuan kebencian dan kecemburuan saudara-saudaranya yang menderita.

Pada abad ke-17, di Normandia, para petani membuat perbedaan yang menarik antara  Penyihir dengan para tabib dan pembuka tabir nasib penggembala.  

Glanvill memberikan gambaran, bahwa sihir itu ada dan berbeda eksistensinya dengan para magician dalam pengertian pesulap. Sihir menggunakan daya di luar empirisma manusia, yang diyakini sebagai makhluk hidup, seperti Jin dan kawan-kawan. Sedangkan magician menggunakan sains yang menghubungkan dunia empiris dan non empiris, sehingga mampu mendeteksi energi dari sesuatu yang tampak dengan energi yang tak tampak.

Dalam konteks Islam, fondasi sihir terbentuk oleh relasi nilai dan budaya masyarakat Arab di era jahiliyah yang 'gelap.' Tradisi dan budaya Arab masa itu, menyediakan alat dan perangkat magis yang biasa untuk perlindungan, penyembuhan, ramalan, yang terintegrasi.

Dari abad kesembilan hingga kesepuluh, pengenalan dan dominasi pemikiran esoteris Hellenistik (Yunani-India-India) mengacaukan kerangka umum intervensi magis, antara lain, determinasi astrologi dalam desain dan pengembangan pengembangan praktik talismanik.

Secara konsep, melalui Al Quran Tuhan mengutuk tentang sihr (sihir-sihir), karena tidak adanya definisi dan penetapan batas. Di sisi lain, analisis proses magis telah berkembang dan Ibn Khaldûn, antara lain, telah mengambil dan menentukan perbedaan  sikap, kemudian diikuti oleh Evans-Pritchard.

Dalam Rashail ikhwan as-safa, sihir dan jimat dimasukkan ke dalam tradisi orang-orang jahil (kedunguan) dan kurafat, mempercayai dusta dan presumsi. | bang sem

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 816
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
13 Sep 19, 21:15 WIB | Dilihat : 825
Asap Menyergap Udara Pengap Petinggi Bersilang Cakap
28 Agt 19, 14:56 WIB | Dilihat : 274
Menyimak Samboja - Sepaku, Membayangkan Naypyidaw
03 Agt 19, 00:30 WIB | Dilihat : 401
Mencermati Politisasi Sampah dengan Ekologi Politik Kota
Selanjutnya
Humaniora
12 Sep 19, 09:18 WIB | Dilihat : 953
BJ Habibie Cermin Besar Kebangsaan
10 Sep 19, 00:10 WIB | Dilihat : 298
Hidup itu sederhana
25 Agt 19, 19:31 WIB | Dilihat : 258
Hantu Drum Roll di Rumah Mompesson
25 Agt 19, 19:58 WIB | Dilihat : 394
Kesabaran dan Kebahagiaan Terletak pada Hal Sederhana
Selanjutnya