Catatan Duka Seorang Sahabat

Hadi Mustofa Djureid Melintasi Jalan Keselamatan

| dilihat 530

N. Syamsuddin Ch. Haesy

SAYA terhenyak. Kabar itu, menyesakkan dada. Saya baru masuk rumah dan langsung ke kamar, ketika Jum'at siang, sekira pukul 13.30, jurnalis utama - anggota Dewan Kehormatan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) - mantan Pemimpin Redaksi Republika dan Pemimpin Umum LKBN Antara, Asro Kamal Rokan.

Kondisi saya memang kurang fit dan karenanya lebih banyak bekerja dari rumah. Siang itu, meski agak 'kliyengan,' saya mesti mereview power point untuk  "webinar" dengan beberapa teman dari Universitas Hasanuddin (Makasar) dan Universitas Padjadjaran (Bandung), untuk membahas rencana penelitian tentang coastal and river management, bekerjasama dengan Litbang Syarikat Islam, Universitas Breda dan Universitas Tilburg (Belanda).

"Sudah baca WA (WhatsApp) saya? Hadi wafat," tanya Asro, yang biasa saya panggil Kyai Asro. Yang dimaksud Kyai Asro adalah Hadi Mustofa bin Djuraid. Lelaki saleh, jurnalis rendah hati yang sudah malang melintang di dunia media, mulai dari Jawa Pos, Republika, MetroTV, kemudian memimpin Redaksi BUMN Track, Anggota Dewan Pengawas LKBN Antara, BUMN Insight, lalu Staf Khusus Ignasius Jonan saat menjabat Menteri Perhubungan dan Menteri Energi Sumberdaya Mineral, kemudian anggota Dewan Energi Nasional.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji'un.

Ketika membuka WA, saya terhenyak di sudut tempat tidur. Kepala saya yang sejak pagi pening, kian pening, melihat gambar yang diposting di WA, itu. Hadi tergeletak di atas pedestrian, kakinya masih di atas pedal sepeda lipatnya. Tak jauh dari kampus Universitas Gunadarma, di Jalan Terusan UI (Universitas Indonesia) - Kelapa Dua, Depok.

Narasi dalam gambar di postingan WA, itu mendeskripsikan, allahyarham terjatuh seketika, saat mengayuh sepeda lipatnya menuju jalan pulang, sekira pukul 11.00. Belakangan allahyarham memang gemar bersepeda. Pojok pengkolan menuju jalan masuk UI dari jembatan terusan Kelapa Dua, sering menjadi lokasinya berfoto, bahkan kadang bersama istrinya. Suatu hari, allahyarham ke rumah saya, juga dengan menggowes sepeda lipatnya, dari Kelapa Dua - Depok ke Kelapa Dua - Kebon Jeruk.

Hubungan Hadi dengan saya, tak lagi hanya hubungan profesional, jauh dari itu, hubungan sangat personal. Kami seperti kakak adik. Banyak hal pelik yang diobrolkannya dengan saya.

Seorang mitra kerja menghianati kami, yang karena ulahnya, rekening bank allahyarham dan saya sempat di-block beberapa lama. Kami baru tahu kemudian. Ketika itu, allahyarham akan menikahkan puterinya.

Saya sempat naik pitam dan nyaris melakukan tindakan keras kepada mitra itu. Hadi 'menyelamatkan,' saya. Menenangkan saya beberapa saat, lalu menyelesaikan masalah, dengan menanggung sesuatu yang tidak harus dia tanggung.

Berhari-hari Hadi berkomunikasi, mengabarkan progres penyelesaian masalah, dengan caranya. Tegas tapi lembut. Semua masalah bisa teratasi, prosesi pernikahan puterinya juga berlangsung meriah. Dihadiri berbagai kerabat dan sahabat. Pribadinya yang supel dan penguasaan human and people relations yang baik, terlihat dalam resepsi pernikahan putrinya.

Hadi juga penulis dan editor buku yang teliti. Bukunya yang paling monumental adalah tentang Ignasius Jonan dan Kereta Api Indonesia, yang cetak ulang beberapa kali, dan dia belum beroleh royalti-nya. Lantas, bersama Kyai Asro, Tommy Soetomo (Direktur Utama Angkasa Pura I) secara keroyokan kami menulis buku, "The Wave of Transformation," ketika Angkasa Pura I membangun terminal baru Bandar Udara Internasional Ngurah Rai -- sekaligus meletakkan dasar aerocity.

Sebulan terakhir, allahyarham sering kontak saya. Selain menanyakan kondisi kesehatan saya -- selain anak dan menantu saya, Allahyarham yang bagaimana saya transformasi tata kelola dan layanan bandar udara internasional di Bali, itu.

Sesudah itu kami menulis buku tentang proses kreatif, teknik, dan teknis bandar udara internasional Sultan Aji Muhammad Sulayman - Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Hadi yang memberi tajuk buku, itu: "Lompatan Kalimantan."

Suatu ketika, setelah itu, kami berdua menulis buku tentang proses berliku dan kompleks pengambil alihan PT Inalum dari kepemilikan mayoritas Jepang (The Return of a Missing Child to His Mother's Lap).

Sejumlah buku turunan seputar transformasi Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Inalum , secara material tidak sepadan. "Abang tenang aja, rejeki kita sudah ada di langit. Ini investasi kebajikan. Nanti Allah Yang Maha Kaya yang akan memberikan imbalan," katanya. Belakangan saya baru paham tentang hakikat di balik istilah, "rejeki gak ke mana."

Selama menjabat staf khusus Jonan, baik Hadi maupun allahyarham Tuanku Mirza (mantan manajer saya di Televisi Pendidikan Indonesia), selalu berkomunikasi. Setiapkali salah seorang atau keduanya dan saya ada waktu kami bertemu. Diskusi. Keduanya paham sikap saya, untuk tidak pernah memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi. Kami terbiasa kerja profesional, fungsional, dan saling memuliakan.

Sekitar sebulan terakhir, allahyarham Hadi Mustofa Djureid kerap berkomunikasi dengan saya. Dia selalu memastikan saya sudah fit dan pulih kembali. Begitu pandemi nanomonster Covid-19 menyerang, dia selalu mewanti-wanti saya untuk disiplin mengikuti protokol yang ditetapkan WHO (World Health Organization).

"Kalo gak perlu-perlu amat, abang di rumah aja. Kerja dari rumah," ujarnya, jelang masuk bulan Ramadan.

Hadi juga memonitor saya lewat akun media sosial. Dia senang ketika selama masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) melihat saya tetap produktif, termasuk menulis dan berkolaborasi dengan Endang Caturwati - Guru Besar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung. Dia juga senang mengikuti perkembangan saya lewat channel YouTube, yang selama empat tahun tak sempat saya urus.

Selepas Idul Fitri, allahyarham mengabarkan, bersama mantan staf redaktur saya sedang menyiapkan beberapa rancangan penulisan buku. Lantas minta saya mensupervisi. Saya sepakat.

Beberapa waktu kemudian, dia mengabarkan dengan sukacita kelahiran cucunya. Kami, setidaknya di grup B-Relation,  yang sebagian terbesarnya adalah mantan corporate communication manager -- beberapa di antaranya, kini menjabat Direktur -- berbagai BUMN merasakan sukacitanya, karena kami berprinsip: "Senang melihat sahabat senang, bersusah hati melihat teman susah, ikut berduka melihat teman berduka."

Pada tanggal 12 Juli 2020, jelang Dzuhur, allahyarham mengabarkan, mantan redaktur saya, sekeluarga positif Covid-19. "Dia mengabari saya A tadi malam, dan sempat saling berbalas WA. Tapi pagi ini dia belum balas WA saya. Semoga Allah SWT melindungi dia dan keluarga, segera pulih dan kembali sehat," tulisnya via WA. Hadi sendiri mengabarkan dirinya melakukan Rapid test atas inisiatif sendiri dan negatif. Tapi, dia berinisiatif melakukan test lagi, Rabu, 15 Juli 2020. Hari itu juga dia mengabarkan lagi ke saya, "Alhamdulillah hasilnya non reaktif."

Kemarin (16/07/20), ketika saya share porograma siaran streaming via YouTube tentang Indonesia Tangguh, dia merespon cepat. Pada siaran itu, saya mengungkap, bahwa manusia merupakan pembelajar yang baru akan selesai belajar, ketika sudah mencapai gelar termulya, yakni "Allahyarham," dengan kualifikasi pencapaian tertinggi "Husnul Khatimah," bukan cumlaude atau summa cumlaude. Busana kemuliaannya bukan toga, tapi "kafan," dan prosesi 'wisuda'-nya yang paling berkesan adalah salat jenazah dan pemakaman.

Jelang dzuhur, allahyarham berkabar lagi via WA, menjelaskan, mantan redaktur saya yang positif Covid-19, sudah keluar dari rumah sakit, sekeluarga dan sembuh.  Karena kuatir dengan saya, dia wanti-wanti lagi, supaya saya tetap stay at home, works from home. Saya sampaikan kepada allahyarham, kemarin, sudah mulai jenuh, mungkin sudah mulai mengalami virtual fatique, karena setiap hari, sejak pukul 07.00 pagi selama beberapa kali tak henti melakukan siaran virtual, rapat daring, dan webinar.

"Abang tetap di rumah. Kurangi aja agendanya," pesan allahyarham. Dia tahu saya sendirian di rumah.

Tadi jelang (dan sesudah) salat Jum'at, kepala agak kliyengan dan mata saya berair. Kabar tentang wafatnya allahyarham, membuat saya lemas.

Orang baik yang selalu tersenyum, dengan perilaku - akhlak -- yang sangat baik, memperteguh sikap saya untuk terus memampukan diri hidup qana'ah. Konsistensi ubudiahnya yang selalu salat tepat waktu. Kepada allahyarham, saya belajar sikap welas asih sekaligus menghilangkan 'dendam' dan 'sakit hati,' meski kepada orang yang sudah mendzalimi kami.

Dengan allahyarham saya sering berbincang tentang hakikat maknawi dari "laa ilaaha illa Anta subhanak inni kuntu minadzdzalimiin." Kesadaran dan penyadaran, bahwa seringkali kita mendzalimi diri sendiri.

"Di.. aku meyakini, tadi siang, ketika salat Jum'at sedang berlangsung, ruhmu dibawa malaikat tuk mengenali tempatnya, sebelum kau turun sejenak untuk ikut mengiringi jasadmu ke pemakaman. Aku meyakini, ruhmu kembali menuju ke tempat yang sudah disediakan Allah dengan sukacita.. dihantar oleh keikhlasan, kebaikan, kebajikan, tabungan amalmu yang tak sedikit.. Aku meyakini, kamu mengikuti seluruh proses 'wisuda'-mu dengan kafan yang bersih dengan bulir wewangian amal kebajikan.. dengan predikat pencapaian husnul khatimah.. kuhantar kamu dengan do'a.. Allah telah menyelamatkanmu dari himpitan petaka yang sedang mengepung dunia, tanpa kepastian, entah bila akan berakhir.. Allahummaghfirlahu.. warhamhu, wa'afihi wa'fuanhu, wa akrim nuzuulahu, wawasik madhalahu.. kelak, amal jariahmu, ilmu yang sudah kamu tebarluaskan kepada banyak orang.. dan do'a anak-anakmu nan salihah akan terus bersamamu.. dan bulir air mata isteri, anak, menantu, kerabat, dan sahabatmu.. semoga menjadi do'a yang melengkapi keindahan keabadianmu.. Aku yakin, ruhmu melintas di jalan keselamatan... bahagia saudarakuu.." | Kelapa Dua - Kebon Jeruk, 17 Juli 2020.

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Budaya
26 Nov 20, 21:50 WIB | Dilihat : 97
Mencuci Piring Melatih Pikiran
25 Nov 20, 07:25 WIB | Dilihat : 107
Merenung Jarak Budaya
19 Nov 20, 21:00 WIB | Dilihat : 153
Dinamika Ronggeng di Tengah Transisi Masyarakat
12 Nov 20, 04:07 WIB | Dilihat : 166
Ronggeng dalam Perspektif Endang Caturwati
Selanjutnya