Bulan Ada Gagasan Baru dari Kemendikbud

Gerakkan Pendidikan untuk Menyiapkan Peradaban Masa Depan

| dilihat 148

N. Syamsuddin Ch HAESY

Saya tak pernah meragukan generasi baru cenderung lebih cerdas dari generasi sebelumnya. Perkembangan sains dan teknologi, luasnya peluang untuk melakukan riset dan penelitian sangat terbentang, varian kemungkinan beroleh keterampilan (skill) juga semakin luas.

Setiap zaman selalu membuka ruang lebih luas bagai generasinya untuk menjawab beragam tantangan kehidupan. Pengetahuan (acknowledgement) dan ilmu pengetahuan (sciences) akan terus berkembang, metodologinya kian beragam, teknologinya pun kian canggih.

Maknanya adalah aktivitas intelektual dan praktis keseimbangan pengetahuan dan ilmu pengetahuan mencakup studi sistematis tentang struktur dan perilaku dunia fisik dan semesta kian aktual melalui observasi dan eksperimen. Terutama, ketika setiap manusia menyadari, bahwa hidup adalah garis azimuth pendidikan, bentang panjang proses pembelajaran tak berujung.

Rasulullah Muhammad SAW jelas menegaskan prinsip dasar pendidikan seumur hidup (long life education), yang tak hanya berurusan dengan didaktika dan pedagogi belaka, tak hanya berurusan pada pengembangan kognisi, afeksi, motorik dan sensorik anak belaka, tetapi berurusan dengan keseimbangan nilai lama dan nilai baru, kebiasaan dan keadaban yang akan mengalami proses penyempurnaan tanpa henti membentuk peradaban yang bermuara pada kebahagiaan (fana dan baka), yang tak terhancurkan oleh petaka (naar) di dunia dan akhirat.

Karenanya, manusia yang hendak selamat dan menyelamatkan dirinya (salam salima) wajib, "melindungi dirinya dan keluarganya" dari petaka dengan memelihara - mengembangkan - menghidupkan kebudayaan berbasis kedisiplinan hidup yang dijaga oleh keseimbangan punishment (asidda' - bukan hanya 'aiqab) dan reward ( ruhama - yang melahirkan simpati, empati, apresiasi dan respek). Terutama, karena manusia bukan hanya homo faber, homo sosius dan homo economicus belaka.

Kehidupan manusia pun dipandu secara kontiniti dari masa ke masa dengan alat kelengkapan paling sempurna (think, instink, sense, feel) yang keseimbangan pengelolaannya akan menyebabkan manusia mempunyai kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan kultural. Karenanya Tuhan menciptakan manusia dimulai dari kondisi tabularasa - clean and clear, dengan beragam kebebasan asasi ( antara lain: freedom of think, freedom ef expression, freedom of will) sebagai hak asasi disertai tanggungjawab asasi, yang memungkinkannya menjadi manusia independen yang paham realitas dependensinya secara korelatif dengan Penciptanya (al Khaliq) dan semesta.

Pendidikan sebagai Cara

KEBUDAYAAN -- yang terus berkembang dan menempa karakter manusia --  yang dicontoh-teladankan oleh 25 insan pilihan dalam bimbingan Tuhan, diikuti dan dilanjutkan oleh ratusan sahabat, serta ribuan dan jutaan cendekiawan dan orang bijak, membuka pemahaman tentang penghormatan kepada manusia sebagai khalifah, representatif Tuhan di atas muka bumi.

Kebudayaan (selanjutnya peradaban) menempatkan manusia sebagai subyek di seluruh proses keadaban dan peradaban dengan titik keberlanjutan (sustainable point), ketika Rasulullah Muhammad SAW mewujudkan (sekurang-kurangnya 4 misi kerasulannya): menyempurnakan penegakkan hukum - law enforcement (Musa as) menjadi keadilan - justice; pengembangan estetika dan sains (Daud as) menjadi peradaban - civilization; dan cinta kasih - love (Isa as) menjadi kemanusiaan - humanity.

Beranjak dari pandangan ini, saya selalu menempatkan pendidikan sebagai cara menghidupkan, menyegarkan, dan mengembangkan kebudayaan untuk mencapai peradaban unggul, sekaligus mengubah nasib manusia (dari skala individu, komunitas, sosial, negara dan bangsa)  dari kegelapan - keterbelakangan ke keadaan baru yang cermerlang - mencerahkan - maju dan membahagiakan.

Bila ajaran Tuhan yang secara spesifik diajarkan (samawiah) melalui empat kitab suci (Taurat, Zabur, Injil dan al Qur'an) dengan panduan para rasul-Nya, dan berbagai ajaran kebajikan para insan mulia (ardhiah) saya pahami sebagai way of live, cara berkehidupan. Maka, pendidikan (tak mesti formal, informal, non formal) merupakan proses melatih keterampilan mengaktualisasi cara berkehidupan. Karenanya, seluruh proses pendidikan bermuara pada tersedianya modal insan yang mampu menyediakan modal sosial (bukan lagi hanya sumberdaya manusia) untuk membangun peradaban baru yang unggul di masa kini dan masa depan. Dalam pengertian mengembangkan segala kebaikan dari peradaban lama dan kini. Basisnya adalah akal-budi dan tak membuka ruang toleransi pada kelakuan hina, buruk dan rendah: akal-akalan, tak terkecuali akal-akalan politik.

Peradaban lampau dan peradaban kini meninggalkan pencapaian literatif, numerik dan karakter. Tapi masih ada pekerjaan rumah kolektif yang sangat berat, karena modal insan manusia Indonesia baru sampai pada taraf 'bisa membaca belum paham yang dibaca, mengenal angka dan bisa berhitung belum mampu menghitung (menganalisis data secara presisi dan fungsional), mengenal karakter tapi belum berkarakter.'

Belum Ada Gagasan Baru

DI tengah arus besar megaproblem abad ke 21, seperti: populasi penduduk yang belum terkendali, belum terciptanya lingkungan sehat - cerdas - mampu (secara ekonomi), miskin persisten, pergerakan cepat singularitas, peningkatan keterampilan, transhumanisma, dan terombang-ambing di tengah arus besar globalisasi kapitalistik dan demokrasi (berbasis politik pragmatis dan traksaksional), cita-cita sejak 1905: penyelenggaraan pendidikan manusia berwatak dan merdeka 'masih jauh laut dari pantai.'

Konsep pendidikan manusia berwatak dan merdeka yang digagas Omar Said Tjokroaminoto tentang kebangsaan (relijiusitas, ke-indonesia-an, dan keilmuwan) di Paneleh Surabaya yang diajarkannya kepada Soekarno, Kartosoewirjo, Semaun, dan lain-lain -- sebagai kelanjutan dari pola pendidikan watak Kyai Hasan Besari, belum lagi tuntas. Konsepsi praktik trilogi pendidikan berbasis budaya yang digagas Ki Hajar Dewantara (hing ngarsa sung tulada, hing madya mangun karsa, tut wuri handayani) baru sampai di tingkat 'sesanti,' dan terus mengalami problem. Terutama karena undang-undang sistem pendidikan nasional tak serta-merta diikuti dengan tata perundang-undangan lain. Misalnya, tindakan guru mendisiplinkan murid -- belum jelas batasannya dan kapan saja bisa terancam delik pidana. Lingkungan sekolah belum sepenuhnya menjadi tempat berlangsungnya proses belajar mengejar yang nyaman, karena guru masih memikul beban administrasi.

Tak ada gagasan baru dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Upaya reaktualisasi gagasan lama tentang sekolah atau kampus merdeka, patut dipujikan, tapi belum diikuti oleh pemikiran mendalam tentang hakikat pendidikan manusia merdeka dan berwatak dalam konteks kedaulatan manusia berbudaya dan beradab. Padahal, Muhammadiyah - Nahdlatul Ulama - Al Irsyad al Islamiyah (bahkan sebelumnya Jami'at Khaer) - Mathla'ul Anwar (untuk menyebut beberapa nama) - mempunyai jam terbang yang sangat panjang -- bahkan sejak sebelum Negara Republik Indonesia (yang diproklamasikan 17 Agustus 1945) ada. Termasuk dalam mengimbangi sistem pendidikan persekolahan yang diterapkan penjajah Belanda.

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pun mempunyai pengalaman memadai dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama dalam mengembangkan aplikasi prinsip-prinsip didaktis pengajaran.

Alhasil organisasi-organisasi penggerak pendidikan ini telah membuktikan melalui sejarah perkembangan bangsa ini, komitmen penyelenggaraan pendidikan dalam konteks kebangsaan yang egaliter (toleransi sosial hanya bagian kecil saja dari egaliterianisma) dan menggerakkan perubahan posisi manusia Indonesia dari hanya sekadar sumberdaya manusia menjadi modal insan yang mampu menggerakkan modal sosial yang relevan dengan masa depan.

Transformasi Jelas Arah

BERANJAK dari realitas ini, siapapun yang beroleh kepercayaan mengemban amanah sebagai Menteri Pendidikan, tak bisa berkilah "saya tidak tahu masa lalu, karena saya tahu masa depan," karena kilah (reason) ini mudah dipahami sebagai 'split thinker.' Padahal institusi kementerian masih mengenakan nama atau istilah Pendidikan dan Kebudayaan, yang semestinya bisa menghadirkan artikulasi, "saya tahu masa depan, karena saya paham masa lalu, karena hari ini dan masa depan tersambungkan dengan hari kemarin." Karenanya, proses perubahan dramatik (transformasi) yang mau dilakukan jelas arah dan ritmenya, termasuk menggerakkan dunia pendidikan berbasis kebudayaan ke garis azimuth-nya: mencerdaskan, membangun (watak), menggerakkan potensi (kreatif, inovatif, inventif) budaya bangsa menuju visi: kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan keunggulan peradaban.

Saya bisa menerima orang muda memimpin institusi strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Apalagi wakil trans generation (dari generasi baby boomer ke generasi millenial) yang kreatif, inovatif, dan inventif supaya terjadi proses transformasi. Dia tak harus seorang akademisi dengan jubah formalitas keilmuan dan jabatan akademik, tetapi dia harus seorang intelektual, yang paham budaya bangsanya, sejarah perjalanan bangsanya, paham persoalan pendidikan dan sudah seberapa jauh melenceng dari garis azimuth kebangsaan, dan sungguh paham esensi transformasi. Dengan  begitu dia paham mengapa sesuatu dibangun di masa lalu dan bagaimana dia mesti merenovasinya.

Selaras dengan itu, sebelum memikirkan - merancang - menggerakkan dan memimpin transformasi, dia sungguh sudah mengenali betul realitas bangsanya -- secara multidimensi. Dengan begitu dia akan tahu dan paham konsep transformasi bagaimana yang mesti dia lakukan (apa focal concern-nya, apa saja driving forces-nya, apa saja takarannya), sehingga jelas tujuannya, visi -- sebagai titik capai akselerasi mewujudkjan tujuan --, main mission-nya, program-nya, action plan-nya, dan paham bagaimana mesti beraksi. Dalam prinsp imagineering (rekacita) ilusi - fantasi dan imajinasi terpisah jelas satu dengan lainnya, imajinasi kolektif setelah melalui proses imaginery selection, akan berkembang menjadi visi, sehingga transformasi sungguh mengacu pada visi dan tidak terperosok ke dalam fantacy trap (jebakan fantasi).

Transformasi pendidikan dan kebudayaan sangat penting karena terkait dengan upaya merancang dan menggerakkan peradaban baru yang tak tak membuat manusia atau bangsa tertinggal di masa lalu atau tertambat di hari ini. Tak juga disibukkan oleh keasyikan 'mencari ketiak ular,' dan tak pernah menyelesaikan masalah. Di sini, percepatan keterampilan (skill) harus diimbangi dengan kearifan dan kecerdasan budaya baru yang dapat menghindari terjadinya keterbelahan nilai (split value).

Berdampak Bencana Sosial

SAAT ini krisis kesehatan, krisis ekonomi, dan krisis sosial yang bisa menimbulkan krisis multidimensi memberikan peluang untuk membuktikan bagaimana bangsa ini, khususnya generasi millenial menunjukkan keterampilan dan kearifannya dalam memecahkan masalah pendidikan tanpa menimbulkan masalah berat bagi rakyat. Yakni, gagasan tentang proses pendidikan jarak jauh (yang sebenarnya sudah digagas sejak dekade 70-an, sejak satelit Palapa diluncurkan untuk kepentingan pendidikan, dan karenanya diselenggarakan Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Universitas Terbuka).

Budaya virtual yang tak bisa dihindari dalam proses pendidikan ternyata kompleks persoalannya, ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak menyiapkan kurikulum yang relevan. Tidak pula paham, bahwa infrastruktur dan kualitas perangkat teknologi (untuk memulai internet on thinks) belum berkualitas di seluruh wilayah negara. Tak pula paham realitas begitu dalamnya kesenjangan sosial ekonomi rakyat mengikuti kesenjangan antar wilayah dan kesenjangan pusat - daerah.

Dampaknya? Selain akan terjadi kelelahan virtual di kalangan peserta didik (karena kurikulum belum memerdekakan manusia sebagai subyek), persoalan domestik keluarga (income merosot belanja primer meningkat), dan persoalan lain yang sudah mengemuka dalam guncemcatur televisi dan radio, podcast, media sosial, dan diskusi daring. Muaranya, dapat diprediksi akan tiba bencana sosial berupa stres dan depresi sosial.

Selesaikanlah dulu soal ini, supaya kita tak terlalu lama terjebak dalam kubangan fantasi, dan serempak - serentak bisa menggerakkan pendidikan untuk mewujudkan budaya baru. Tunjukkan, generasi millenial ketika memimpin sungguh seperti nasehat orang tua di Betawi : "Pemimpin ntu ibarat pu'un kelapa, dari akar ampe lidi manpaat semua. Jangan kaya pu'un pinang, kagak bisa dipake neduh, dipanjat susah, buahnye sepet..." |

| Penulis pembelajar kebudayaan



Artikel terkait : Mencandai Masa Depan

Editor : Web Administrator
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1146
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1996
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1676
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 407
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 401
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 357
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya