Gairah dan Ghirah Mujahid Mujahidah 212

| dilihat 234

Pengajian keluarga Senin malam dihangatkan oleh cerita pengalaman spiritual masing-masing anggota keluarga yang ikut menghadiri Reuni Akbar Mujahid 212 di Lapangan Monumen Nasional (Monas) - Jakarta.

"Tak ada yang pergi ke Masjid Istiqlal, pagi itu?" tanya Farhan, yang mendapat giliran memandu kajian. Semua menggeleng.

"Memang ada apa di Istiqlal, Om?" tanya Nita. "Ada kajian Islam yang diselenggarakan Badan Pengelola Masjid Istiqlal," jawab Farhan sambil senyum.

Nita dan kemenakan yang lain juga tersenyum. Matanya mengerjap.

Farhan persilakan mereka bercerita pengalaman pribadinya masing-masing.

Nadya yang duduk di sudut ruangan dipersilakan mengawali cerita. Dia sudah berada di Monas sejak dinihari. Ikut salat tahajjud dan (kemudian) salat subuh berjama'ah.

"Ada sesuatu yang terasa dalam batin saya, tapi sulit Farhan ungkapkan dengan kata-kata. Sepanjang hidup saya, saya merasakannya dua kali. Pertama, ketika wukuf di Arafah, dan kedua, ya di lapangan Monas, ahad (2/12/18) dinihari itu," ungkapnya.

"Apa itu?"

"Hening.. ini puncak keheningan dalam ibadah saya. Tak ada yang mengganggu.. ada kerinduan kepada Allah dan Muhammad Rasulullah.. Om bisa bayangkan bagaimana kerinduan sepenuh rasa dan raga, padahal di sekeliling kita ribuan orang melakukan hal yang sama," ungkapnya.

Hanani mengacungkan jarinya, minta bicara. Farhan mempersilakan.

"Betul yang diungkapkan Nadya, Om. Kita merasakan, bahwa diri kita bukan apa-apa. Selepas tahajjud, aku melihat Nadya masih khusyuk, aku cemburu.. aku ingin khusyuk seperti dia. Alhamdulillah, aku mendapatkannya ketika salah subuh berjama'ah," sambungnya.

"Yang kurasakan itu, apa Om?" tanya Nadya.

"Itulah khusyuk.. Momen yang kita merasakan diri ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, lalu keseluruhan naluri dan perasaan kita menyatu dengan pikiran dan raga, tertuju ke satu titik.. dan di di dalam diri, hanya ada Allah dan Rasulullah belaka," jawab Farhan.

"Kalo yang kurasakan?" sela Hanani.

"Yang kamu rasakan itu, kecemburuan pada perbuatan baik yang dilakukan Nadya," jawab Farhan.

Yasmine mengacungkan tangannya. "Aku datang pagi, Om. Selepas dhuha.' Aku tak merasakan apa yang dirasakan Nadya dan Hanani. Tapi, aku masih mendapat getaran hati, ketika salawat, takbir, dan tahmid kumandang serempak," ungkapnya.

Lantas dia bercerita, ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tampil bicara, sebagaimana dia bicara, di dalam dirinya berkecamuk beragam rasa. "Ada perasaan bangga, ada rasa syukur, terbayang ulang apa yang terjadi dan pernah aku rasakan pada 4 (empat) November 2016 dan 2 (dua) Desember 2016. Aku cemburu dengan keberanian dan ketegasan yang disampaikan Anies. Hanya dengan selembar kertas dan tanda-tangan, Anies menggunakan otoritasnya untuk menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar," ujarnya.

"Aku merasa, apa yang kulakukan selama ini di kantor, sesuai dengan otoritasku, tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang dilakukan Anies sebagai Gubernur," sambung Yasmine.

"Itulah ghirah. Kecemburuan untuk melakukan kebaikan yang berdampak besar dalam konteks amar ma'ruf nahyi munkar, sehingga kamu ingin melakukan yang lebih besar dan berdampak kebajikan yang lebih luas," jawab Farhan.

Yasmine masih terpana. Tapi, Ferial sudah angkat tangan, dan langsung bicara. Dia bercerita, ketika menyimak pidato Anies dan kemudian pembicara lain, dia merasakan resonansi untuk terus memelihara sikap berani menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar, meski dalam skala yang kecil. "Yang kurasakan ini, apa sebenarnya Ami?" tanya dia.

"Itulah gairah. Gairah dan ghirah menyatu dalam diri manusia untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan, menjadi bagian dari perjuangan serentak dan serempak menegakkan kebenaran dan keadilan. Gabungan gairah dan ghirah itu, yang menggerakkan ragamu, raga kita untuk bergerak ke Monas di ahad yang bersejarah, itu," ungkap Farhan.

Farhan mempersilakan Jeehan bicara. Tante yang dicintai para kemenakan ini, melepas senyumnya. Lalu cerita, bagaimana dia mengayunkan langkahnya menuju ke Monas, dan merasa dirinya belum sebanding dengan jama'ah lain.

"Saya merasa bukan apa-apa, ketika melihat bagaimana kaum ibu dan begitu banyak kalangan menyediakan makan dan minum untuk jama'ah. Saya merasa belum apa-apa dibanding dengan para perempuan berkaus ungu dan para relawan menyiapkan kantung sampah untuk menampung sampah. Saya merasa belum apa-apa dibandingkan dengan beberapa pemuda, yang di punggunya tertempel tulisan yang memberitahu, dirinya membawa obat-obatan untuk jamaah lain," ungkap Jeehan.

Jeehan yang selalu arif dan lembut menyampaikan fikirannya itu mengungkapkan, gairah dan ghirah untuk berjihad di jalan Allah, meski dengan cara paling sederhana, menjelma utuh menjadi cinta dan itulah yang menggerakkan jutaan ummat Islam datang berbondong ke lapangan Monas, hari Ahad itu.

"Ketika gairah dan ghirah menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar sudah menjelma menjadi cinta dan menguatkan keyakinan kita terhadap nilai-nilai dasar ajaran Islam, ketika itu juga keikhlasan berjuang menjadi energi yang selalu terbarukan untuk melakukan perubahan. Energi yang tak pernah padam, memotivasi kita berjuang menciptakan kondisi yang lebih baik bagi syi'ar islam," ungkapnya.

Para kemenakan, sepupu, termasuk para tante yang lain, terlihat bahagia menyimak dialog itu.

Farhan mempersilakan tante Aisyah, yang sudah tua, tetapi masih penuh gairah dan ghirah, untuk berbicara.

Dengan suara lembut, tante Aisyah bicara. Beliau bercerita panjang sekaligus mengulang cerita dari Njid dan Jidah (kakek dan nenek) kami, bagaimana 73 tahun yang lalu, di lapangan yang sama -- pada bulan September 1945, menurut Gubernur Anies -- para pejuang kemerdekaan bangsa ini, berada di panggung sederhana, dan rakyat Jakarta datang berbondong-bondong ke lapangan IKADA (yang kini kita sebut Monas). Di panggung sederhana, itu komitmen kebangsaan untuk mempertahankan kemerdekaan dikumandangkan.

Tante bercerita tentang dimensi kebangsaan dalam konteks kita, tak pernah bisa melepaskan simpul harmoni antara ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an.

Tanpa mengecilkan peran kaum yang lain, yang juga sama berjuang memerdekakan bangsa ini, tante mengungkapkan, bagaimana mujahid dan mujahidah - muslimin dan muslimat bersatu padu, mengintegrasikan diri dalam satu ruh perjuangan yakni membangun bangsa ini dengan kesadaran tauhid, kemanusiaan, ta'awun - kebersatuan dalam berbuat kebaikan dan kebajikan, keummatan yang melebur dalam kerakyatan dengan platform musyawarah.

Kesemuanya ditujukan pada cita-cita yang sama: mewujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Tema besar ini, ungkap tante, yang juga tertampak pada tahun 1955 ketika untuk pertama kalinya bangsa ini menggelar pemilihan umum untuk memilih anggota konstituante. "Tapi, berulang kali, gelombang tantangan menguji umat Islam dan bangsa ini, seperti penghianatan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak peristiwa Madiun," ujar tante.

"Apa yang kalian rasakan di lapangan Monas, hari Ahad lalu, adalah kelanjutan dari perjuangan panjang umat Islam untuk memperjuangkan kedaulatan bangsa ini dengan melibatkan saudara-saudara sebangsa yang berlainan keyakinan dan keimanan," ungkap tante lagi.

Tante mengatakan, umat Islam tidak pernah memulai pengerasan identitas primordial atau sentimen sektarian yang menghancurkan nilai hidup bangsa ini. Terutama karena umat Islam berpegang pada panduan Allah sebagai ummat yang wasath, pertengahan.

Karenanya, lucu, kalau ada orang yang hendak mengajari sikap moderat dan toleransi kepada umat Islam. "Dari siaran TV-One yang tante ikuti sampai selesai, tante bangga, kita sebagai umat Islam selalu memberi ruang bagi umat lain untuk merasakan gairah dan ghirah kita membela Indonesia, tanah air dan bangsa kita," ujar tante.

Farhan memungkas pengajian keluarga malam itu. Dia mengungkapkan, Reuni Mujahid 212 kembali menciptakan sejarah, bahwa umat Islam yang konsisten dan konsekuen membela agama, bangsa, dan negaranya, selalu berpihak kepada rakyat senyatanya.

Mujahid - mujahidah tak pernah guncang oleh penghianatan kaum munafik. Kafilah tak pernah terganggu oleh gonggongan anjing yang menyalak seketika, lalu senyap nyelindap di balik semak, kala kafilah berlalu.. | sem haesy

Editor : Web Administrator | Sumber : foto dari berbagai sumber, maia luthfia
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 921
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 633
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 648
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
21 Sep 18, 09:06 WIB | Dilihat : 403
Giliran Direksi Pelindo III Dirombak
20 Sep 18, 12:28 WIB | Dilihat : 674
Matamu Itu !!!
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 505
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
Selanjutnya