FORHATI : Berantas LGBT Cegah Kerusakan Bangsa

| dilihat 1346

LESBIANISME, Gay, Biseksual dan Transgender  (LGBT) bukan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Apalagi dikait-kaitan dengan prinsip keadilan dalam konteks keberadaan Warga Negara Indonesia. LGBT adalah penyakit sosial yang tersebab oleh gaya hidup menyimpang.

Pernyataan ini dikemukakan Hanifah Husein, Koordinator Presidium FORHATI (Forum Alumni HMI-wati), Jum’at (2/2/18) di KAHMI Center, Jl. Turi, Kebayoran Baru – Jakarta Selatan, ketika mengantar diskusi tentang LGBT, terkait dengan perlindungan keluarga.

“Kita tidak sedang membicarakan HAM dan perlakuan keadilan terhadap WNI, namun sesungguhnya kita membicarakan penyakit sosial akibat prilaku menyimpang seorang WNI yang membahayakan kelangsungan hidup manusia,” ujar Hanifah, tegas.

Karenanya, LGBT menurut Hanifah, mesti dimaknai sebagai perilaku yang berada di luar wilayah citizen private yang pencegahan dan penanggulangannya selalu dikait-kaitkan dengan HAM, ketidakadilan dan perlakuan diskriminatif terhadap WNI.  

FORHATI memandang LGBT sebagai masalah sosial yang harus diatasi bersama oleh segenap elemen bangsa. Karenanya, menurut Hanifah, LGBT seharusnya merupakan common enemy seluruh warga bangsa. (Baca : Tak Ada Toleransi untuk LGBT)

Terutama, karena perilaku menyimpang ini melanggar norma agama, susila dan budaya Indonesia.  “Negara dan seluruh elemen bangsa harus hadir untuk memberantas perilaku tersebut, supaya tidak menyebar luas.

“Berantas LGBT dan cegah kerusakan bangsa,”  tegas Hanifah. 

Dalam konteks itu, sambung Hanifah, aturan hukum atau regulasi negara harus tegas. Selaras dengan itu upaya-upaya penyembuhan penderita LGBT harus dilakukan serentak dan serempak sejak dini.

“Kita harus lakukan upaya menyeluruh di seluruh lingkungan sosial kita: keluarga, sekolah, tempat kerja, masyarakat, dan lainnya,” ungkap Hanifah.

Ketegasan hukum, jelasnya, merupakan terapi ampuh dalam penanggulangan LGBT. Wujudnya, ketegasan tentang pemidanaan dan pembinaan terhadap perilaku LGBT.

Terkait hal inilah, menurut Hanifah, kehidupan keluarga yang harmonis dapat menjadi benteng utama yang penting. “LGBT yang ada dan menyebar, serta mengancam anak-anak dan keluarga kita, ini bukan penyakit bawaan lahir, dan dapat disembuhkan,” ujarnya.

“Yang tak dapat disembuhkan adalah penyakit medis yang ditimbulkan oleh perilaku LGBT, seperti HIV/AIDS,” tegasnya.

Hanifah memandang, tugas setiap warga bangsa menyelaraskan nilai-nilai keluarga berbasis agama, budaya nasional kita, untuk kelak melahirkan nilai-nilai sosial baru yang membentengi keluarga dari penyebaran LGBT.

FORHATI sebagai bagian integral bangsa ini, ujar Hanifah, ikut bertanggung jawab mengawal pemerintah dan DPR yang sedang memproses pasal pemidanaan terhadap perilaku LGBT dalam  RUU KUHP. Termasuk melakukan bimbingan dan penyuluhan dalam kerangka pemulihan dan rehabilitasi penderita LGBT.

Dalam diskusi setengah hari yang tekun diikuti seluruh peserta yang memadati KAHMI Center hingga jelang maghrib, itu hadir dan tampil sebagai pembicara Prof. Dr. Euis SUNARTI, Dra. Elly RISMAN, dan DR. Neng DJUBAEDAH. Sebelumnya Majelis Nasional KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) periode 2012 - 2017 sudah menentang LGBT. (Baca : Majelis Nasional KAHMI Tolak Ideologi LGBT)

Dalam paparannya, masing-masing pembicara menyajikan beragam data empiris terkait dengan ancaman maraknya LGBT. Elly Risman menyajikan beragam data mutakhir aksi LGBT dengan beragam ekses yang ditimbulkannya.

Dalam diskusi yang juga dihadiri oleh penyair Taufik Ismail dan para alumni HMI yang peduli terhadap masalah LGBT dari kalangan pendidik, politisi, dan praktisi ketenagakerjaan, ini para pembicara saling menguatkan pandangan satu dengan lainnya.

Esensi pandangan dari ketiga pembicara tersebut adalah perlu kesadaran kolektif untuk mewujudkan tanggungjawab sosial mewujudkan manusia Indonesia yang sehat lahir batin, cendekia, dan taat pada ajaran agama, dan hidup wajar sebagai manusia.

Dalam diskusi itu mengemuka pandangan, bahwa LGBT merupakan wujud dehumanisasi yang nyata. Penyakit sosial LGBT berdampak langsung dan tidak langsung terhadap peningkatan kualitas anak dan keluarga sebagai pertahanan masa depan bangsa dan agama.  Terutama karena penyebaran perilaku dan orientasi seksual menyimpang ini dilakukan secara sistemik. Bahkan dilakukan dengan penyebaran konten media secara penetratif – hipodermis.

Sejumlah materi programa siaran televisi, termasuk film kartun dan animasi untuk anak-anak, telah menyebarkan bibit penyimpangan seksual, seolah-olah perilaku LGBT adalah biasa.

Karenanya, di penghujung diskusi yang diikuti tekun oleh seluruh peserta, ini FORHATI mendesak seluruh pemimpin Republik Indonesia, baik di lingkungan penyelenggara negara, Pemuka Agama, Pemuka Masyarakat, Pemimpin Media, dan lainnya meningkatkan tanggungjawab sosial kolektif dalam melakukan perlindungan anak dan keluarga dari bahaya LGBT dan perzinahan.

Kepada Akarpadinews, Koordinator Presidium FORHATI Nasional, Hanifah Husein menegaskan, FORHATI mengambil inisiatif untuk menggalang kaum perempuan dan organisasi kaum perempuan merumuskan dan menyusun sistem nasional penangkalan dan penanggulangan LGBT.

FORHATI juga mengambil inisiatif untuk menggalakan Aksi Nasional Tolak LGBT. Termasuk menolak setiap kecenderungan dari siapapun juga, yang berupaya mereduksi atau mempertahankan pasal-pasal yang memberi toleransi terhadap pengembangan LGBT, dalam KUHP dan atau undang-undang lainnya.

“Kita tidak boleh diam, bila kita ingin menjaga dan memelihara Indonesia menjadi bangsa yang maju dan diridhai Allah,” ungkap Hanifah. | delanova


Boleh baca lagi : Perlu Undang Undang Larang Legabistra ; dan Seks, Demokrasi dan Revolusi 
 

 

Editor : sem haesy
 
Humaniora
07 Agt 18, 10:55 WIB | Dilihat : 1483
Igauan Intelektualisma Pasal Lawan dan Libas
27 Jul 18, 10:57 WIB | Dilihat : 1953
Pegiat Budaya Depok Silaturrahmi Ke PCNU Kota Depok
21 Jul 18, 14:02 WIB | Dilihat : 1143
Gigi
Selanjutnya
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1714
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 653
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 445
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya