Di Mana Kamu

| dilihat 857

Refleksi Bang Sem

Di mana kamu? Ketika gempa melantakkan Lombok dan emak-emak beserta anak-anak mereka, terhimpit beton rumahnya. Ketika gelap menyergap pada malam. Ketika tangis tak lagi bisa didengar.

Di mana kamu? Tak kutemukan kamu di antara reruntuhan tembok dan beton yang memporak-perandakan rumah saudara-saudara kita. Bukankah bencana ini menimbulkan persoalan kemanusiaan yang akan berakibat jauh pada peradaban bangsa ini?

Di mana kamu? Ah.. tiba-tiba kau nampak di layar televisi, tersenyum dan bertepuk tangan, ketika upara pembukaan dan penutupan Asian Games menjadi paradoks yang mengusik kesadaran insaniah kita.

Di mana kamu, ketika emak-emak, para bocah dan lansia menggigil kedinginan dibekap angin malam di tenda pengungsian. Di mana kamu?

Mengapa di saat-saat sulit, di tengah persoalan menyergap, duka, nestapa, derita, dan marah berebutan membekap kemanusiaan para korban bencana, kau tak pernah tampak. Atau kau datang diam-diam lewat gelap malam, mengendap-endap menyambangi para korban di tenda-tenda pengungsiannya?

Ah, tak seorangpun pengungsi yang menceritakan keberadaanmu. Maaf, kalau aku berburuk-sangka kepadamu, dan tak henti mengajukan pertanyaan yang tak menyenangkan hatimu.

Kau masih seorang perempuan, seorang ibu, atau bahkan kau masih ibu bangsa? Tidak kah kau merasakan bagaimana derita rakyat, anak-anak bangsamu yang menjadi korban gempa di Lombok? Atau kau sedang menunggu waktu untuk berkunjung, sambil menyiapkan yel-yel usang yang kau anggap menggelorakan semangat itu?

Yel-yelmu tak akan laku.. Para korban gempa di Lombok lebih suka berdzikir, bersalawat, mengalunkan takbir dengan lirik teramat indah, lewat adzan tepat ketika waktu salat tiba.

Dzikir, salawat, takbir, tahlil, dan tahmid itu juga yang kumandang di Palu, Donggala, dan Sigi, ketika gempa mengguncang dan tsunami tiba menjelang mentari lenyap dari pandangan, sebelum tiba waktu untuk bersujud.

Dzikir, salawat, takbir, tahlil, dan tahmid itu juga yang terdengar kumandang di Parigi Moutong dan Mamuju. Itulah suara sukma yang bergema seketika. Tentu kau tak merasakan apapun jua, karena kau tak ada di sini, tak ada, di sini !

Di mana kamu? Ya.. di mana kamu, ketika bagian dari ibu pertiwi ini gelap gulita dan para korban bencana kehilangan kontak, terisolasi dari dunia luar.

Ketika air bertsih tak ada, sanitasi berantakan, dan bagian-bagian kota tenggelam ke dalam bumi beserta saudara-saudara kita, terutama para emak, anak-anak, dan lansia. Di antara yang tenggelam tersedot lumpur bumi yang mengejar, ada perempuan-perempuan hamil. Di antaranya perempuan-perempuan seusiamu.

Di mana kamu? Ketika petugas partai itu datang beserta para pembantunya yang lain, yang berusaha menenangkan situasi dengan ungkapan klise : sabar… sabar… sabar.. Lantas, para juruwarta mengarahkan kamera mereka, memotret penderitaan tanpa hati, sambil kehilangan kesadaran untuk mengungkapkan apa sungguh derita yang sedang tersemai.

Di mana kamu? Ketika rakyat, korban bencana yang memerlukan cara menyelesaikan masalah, cara menanggulangi keadaan, tak lagi menguasai lapar dan haus, tak lagi mampu menahan dingin angin malam yang merasuk ke tulang belulang. Ketika air mata sudah kering dan kesabaran berubah menjadi kemurkaan.

Di mana kamu? Ketika para korban bencana yang tak kuasa menahan derita, menggedor-gedor kedai, merangsek masuk ke dalamnya, lalu mengambil apasaja yang mereka perlukan, meski satu dua ikut pula masuk ke dalam para kriminalis.

Oh.. di manakah kamu, ketika media menebar beragam pernyataan petinggi negeri yang tak tahu di mana menyimpan cara, dan hanya menemukan alasan-alasan untuk mengekspresikan kepanikan.

Di mana kamu? Di mana? Aku akan mencarimu di sela puing-puing dan mayat berserakan. Di tetes-tetes peluh para relawan yang gegas bekerja mengatasi persoalan dengan segala keterbatasan. Aku akan mencarimu di sela-sela kantuk dan lapar rakyat di pengungsian.

Kalau kulelah, kutunggu kamu, di sini, di sela para pengungsi yang rebah, dingin yang ngilu, sedih yang tak terkatakan, dan bumi yang belum juga bosan bergoyang.

Datanglah. Bawakan kami cara memaknai kebersamaan mengatasi masalah. Jangan bawa yel dan platform partai ke sini… !!!

Editor : Web Administrator
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1496
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1191
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 1164
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Seni & Hiburan
06 Sep 19, 22:46 WIB | Dilihat : 264
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy
18 Agt 19, 21:05 WIB | Dilihat : 1070
Kemerdekaan Adalah Jiwa Raga Sehat Tegakkan Keadilan
13 Agt 19, 20:56 WIB | Dilihat : 785
Gubernur Anies Undang Warga Jakarta Nonton JMF2019
Selanjutnya