FORHATI

Di Emperan Menguatkan Buhul Empati Kepada Kaum Dhuafa

| dilihat 736

Ramadan 1440 Hijriah momen kebajikan berulang Forum Alumni Korps Alumni HMI-wati (FORHATI) menguatkan buhul empati, menyadarkan diri untuk selalu karib dengan 'ibu' kehidupan masyarakat, rakyat! Khasnya, rakyat atau kaum miskin papa yang selalu hanya dikunjungi sekali lima tahun untuk dipetik suaranya dalam pemilihan umum.

Hanifah Husein - Koordinator Presidium Majelis Nasional Forhati mengungkap, bagi organisasinya, bulan Ramadan adalah bulan berbagi. Bersama pengurus Majelis Nasional Forhati, Hanifah dan kawan-kawan menjadikan organisasinya sebagai telangkai kebajikan kaum intelektual yang kreatif, komit pada pengabdian, sesuai ajaran Islam, sebagai manifestasi dari tanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Kami himpun derma dari para alumni, kolega dan berbagai kalangan yang hendak berbagi, dan kami salurkan kepada mustahik, mereka yang berhak beroleh infak, zakat dan sadaqah." ungkapnya. "Ini merupakan manifestasi rasa syukur kami kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sumber segala sumber rejeki," tambahnya.

Seperti tahun sebelumnya, tahun ini mereka sambangi kaum dhu'afa, fakir miskin di beberapa lokasi, antara lain Kramat Sentiong, Tangerang, dan Pademangan - Jakarta Utara. "Kami lakukan apa yang kami bisa," jelas Hanifah.

Maka, seperti kata Sekretaris Jenderal MN Forhati, Jumrana Salikki, selain membagi sembako murah dan buka puasa bersama, juga membuka pelayanan kesehatan on the spot. Tidak formal-formalan, tanpa publikasi yang gencar.

"Ibarat kata, tak ada rotan, akar pun jadi," cetus Hanifah.

Seperti yang terlihat Kamis (30/5/19) di Pademangan. Tak ada meja dan kursi yang memadai, mereka menggelar terpal di emperan ruko, melayani rakyat miskin yang antusias menjemput hak mereka.

Pademangan yang mereka kunjungi adalah lokasi perkampungan padat di Jakarta Utara yang sering menjadi mangsa kebakaran. Tak kurang dari 1000 paket sembako berupa beras 3 kg, minyak goreng 2 liter, gula pasir 1 kg, pakaian dalam, dan baju layak pakai, mereka bagikan.

Lokasi titik akhir Forhati Berbagi di Kampung Bandan - Pademangan, Jakarta Utara itu, Sabtu (11/5) menjadi mangsa api. Sejumlah rumah terlalap api. Kunjungan mereka, tak hanya meringankan beban, tetapi sekaligus menebar optimisme. Memberi keyakinan kepada kaum miskin papa, bahwa mereka tidak sendiri.

"Membangun sikap optimistis kami pandang penting," kata Hanifah. "Dengan cara itu kita memotivasi rakyat miskin untuk tidak pernah lelah berikhtiar, meski diuji dengan musibah," sambung perempuan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Medan berdarah Banten, itu.

Antusiasme warga di belakang WTC Manggadua - Kelurahan Ancol, Pademangan, yang dikenal dengan Kampung Bandan, itu terasakan. Berpadu padan dengan kesadaran (awareness) untuk memberi makna atas simpati sebagai perekat buhul empati.

"Ini adalah pangkal kesadaran kita untuk menghargai insan sesama, apresiasi yang insyaAllah, kelak akan menjelma menjadi sikap respek dan akhirnya menghidupkan cinta dan kasih sayang, rahman dan rahim," lanjut Hanifah.

Jumrana menambahkan, "InsyaAllah kita akan konsisten, istiqamah untuk terus menggerakkan soliditas dan solidaritas mewujudkan amal kebajikan yang memang menjadi ruh aktivitas kami."

Dikatakannya, tahun lalu, sekira 5000-an paket sembako disalurkan melalui program yang sama, di lima titik. Tahun ini, di tengah suasana prihatin karena ekonomi masyarakat belum bertumbuh, mereka hanya sanggup menyalurkan dengan jumlah yang sama.

"Do'akan, seluruh program kami berjalan sesuai rencana," tambah Hanifah.

Selain melakukan bakti sosial semacam ini, MN Forhati juga menggelar beragam diskusi dan seminar yang berorientasi pada ketahanan keluarga sebagai basis ketahanan nasional. MN Forhati juga bersikap pada isu-isu nasional dan internasional yang bersinggungan dengan kemuliaan manusia, perempuan, dan keluarga.

"Kami senang bisa menjalankan ibadah puasa, berbuka puasa dan berilaturahmi dengan saudara-saudara kami kaum dhu'afa," lanjut Jumrana, yang dibenarkan Kasma Kassim Marewa, Jamilah Abdul Gani, Farida Sihite, Izza, dan lainnya.

Dengan cara beginilah, kata Hanifah, kita sekaligus mengetahui langsung di lapangan, berbagai persoalan yang dihadapi rakyat. | delanova

Editor : Web Administrator | Sumber : Foto dokumentasi MN Forhati
 
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 605
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1432
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2343
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 1045
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya
Humaniora
17 Jun 19, 19:03 WIB | Dilihat : 294
Benahi Minda, WAG Cerdas
13 Jun 19, 17:31 WIB | Dilihat : 256
Integritas Syeikh Abdul Qadir Jaelani
01 Jun 19, 16:05 WIB | Dilihat : 674
Selamat Menjumpai Sumber Kebajikan, Bu Ani
Selanjutnya