Dengan Off Road dan Musik Ki Harjanto Berbagi Bahagia

| dilihat 1427

Catatan Sem Haesy

RUMAH di Jalan Ahmad Yani – Kaliboto, Kecamatan Bener – Purworejo, itu terasa memadukan teknologi dan seni dalam satu tarikan nafas.

Di ruang tamu yang berbatasan dengan dapur, tampak seperangkat instrumen musik yang biasa dipakai untuk performa musik campursari, khas Jawa Tengah. Beberapa gajah bodoh (bas betot) berdiri tegak, ada pula organ dengan teknologi mutakhir yang biasa dipakai untuk pergelaran organ tunggal.

Tamborin tergeletak di atas loudspeaker tak jauh dari drum dan gamelan. Seperangkat gendang tersusun rapi. Di dinding, terdapat dua lukisan agak surealis : tikur berbulu harimau, dan ikan berenang di jalan raya.

Di belakang rumah itu, perbengkelan mobil. Itulah bengkel Double Gardan, yang cukup beken di Purworejo. Beberapa pekerja sedang serius merampungkan bodi mobil untuk kabin jeep hardtop tahun 70-an. Halus pekerjaannya.

Di dinding bengkel itu terlihat lukisan menyerupai Presiden Soekarno yang melangkah di tengah tetes airmata kepedihan. Di bagian lain bengkel itu, beberapa pekerja tekun mengelas dan menyelesaikan modifikasi mesin mobil.

Beberapa mobil jenis jeep yang lumayan tua nyaris memenuhi laman bengkel yang lumayan lega. Aktivitas kerja bengkel yang berurusan dengan teknologi dan sains, bersekutu pada beberapa mobil off road yang sedang dibenahi. Di ruang tunggu bengkel yang nyaman dan relatif sejuk dan bersih, terdapat beberapa perangkat amplifier, lengkap dengan mic.

Sebatang tulang purba tergantung di pintu. Di beberapa bidang dinding tampak lukisan potret diri pendiri Nahdlatul Ulama (NU) hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari dan Mbah Marijan, yang sohor karena wafat dalam keadaan bersujud saat terjadi letusan gunung Merapi, beberapa waktu lalu. Tentu, ada beberapa foto pemilik bengkel itu, termasuk kliping sebuah tabloid otomotif yang bercerita tentang dirinya.

Antara ruang tamu dan ruang tunggu, terdapat patung semar, yang di dindingnya terpampang kutipan filosofi Jawa.

Harjanto, pemilik bengkel itu. Usianya di atas 60-an. Namun masih nampak sehat dan segar. Senyumnya lepas, seolah tanpa beban. Khalayak di  Kabupaten Purworejo menyebutnya, Ki Lurah Off Road. Dia memang seorang instruktur off road bersertifikat.

Siang itu, Rabu (28 Februari), Ki Lurah dengan hati jembar dan serius membuka obrolan. Lelaki yang tak merokok, tak minum alkohol, tak berjudi, dan patuh pada prinsip Malima (lima larangan berjudi, berzina, mencuri/korupsi, mabuk, dan membunuh) dalam falsafah Jawa, itu bercerita tentang kesehatan lahir batin.

Menurutnya, manusia merasa sakit, karena ada yang tidak beres di dalam dirinya, mulai dari pikiran yang kemudian menjalari fisik manusia. “Sakit pikiran sangat berbahaya, karena bisa merusak sehalanya. Dan pikiran yang sakit itu, tersebab oleh tidak bersihnya hati,” ungkap dia.

Serius, Ki Lurah Harjanto mengurai, penyakit hati begitu banyak, mulai dari bersikap ambisius, nafsu besar ingin berkuasa, yang berkolaborasi dengan hasad, hasud, iri, dengki, dendam, dan banyak lagi. Kesemuanya merusak pikiran.

Pasalnya? Manusia lupa pada realitas hidup sebagai perjalanan, sangkan paraning dumadi. Bermula dari ketiadaan akan kembali pada ketiadaan.

Karena sakit pikiran, tak sedikit manusia Indonesia kini, lupa pada tugas utamanya, menebar kebajikan dan kebahagiaan. “Ketika kita lupa menebar kebajikan dan kebahagiaan, yang tersebar dan menyebar adalah kebencian, amarah, keculasan, dan hanya nafsu untuk menguasai antara yang satu dengan lainnya,” ungkap Harjanto.

Tindakan-tindakan yang menyebabkan kebencian, kegaduhan, dan perseteruan, menurut Ki Lurah Harjanto, bermula dari ketidakmauan, ketidaktahuan, dan ketidakmampuan kita menebar kebahagiaan.

Ketidakmampuan itu terjadi, karena ada yang hilang dari sosial habitus keseharian kita, yakni akhlak. “Setiap kita harus mulai lagi mempelajari, mengamalkan, dan menularkan tentang akhlak,” katanya. Akhlak ini pula yang selalu diingatkannya berulang-ulang oleh Harjanto kepada anaknya, yang mulai mendalang.

Tentang off road, Ki Lurah Harjanto menjelaskan, hobi satu ini tak lepas dari pemahaman, bahwa manusia pada dasarnya seorang pengembara, petualang kehidupan. Menyerap fenomena, merumuskan paradigma, mengenali masalah, dan menemukan solusi.

Off road, ungkap Harjanto, tak hanya menguji adrenalin kita. Tetapi sekaligus menguji kita, seberapa tangguh kita menghadapi tantangan kehidupan yang berat.

“Off road melatih kita untuk mampu mengelola kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan budaya dalam menyikapi tantangan kehidupan,” ujarnya. Dalam kaitan itu, seorang off roader selalu tertantang untuk mengharmonisasi akal pikiran, naluri, perasaan, dan kepekaan indria dalam memilih dan menentukan cara.

Seorang off roader yang terlatih dan selalu mencoba tantangan baru, dapat menentukan pilihan, kapan harus mengikuti track yang sudah ada, juga membuat track baru yang belum ada sebelumnya.

“Di situ kreativitas dan inovasi dilakukan untuk mendapatkan invensi atau temuan-temuan baru. Termasuk dalam memodifikasi mesin, konstruksi, dan desain bodi kendaraan,” jelasnya.

Harjanto menunjukkan kerja kreatif memadukan teknik dan artistik dalam memadu padan mesin elektronik dan mesin manual, merancang dan membangun rangka bodi, termasuk menghitung cermat pilihan pada per, schockbreaker, rem, persneling, kopling, dan gas, sehingga fleksibel dengan medan seberat apapun.

“Ini bukan hanya teknik. Ini juga seni, mas...,” ungkapnya sambil tersenyum.

Ki Lurah Harjanto mengajak saya menguji hasil padu padan teknik dan seni pada salah satu kendaraan off road modifikasi bengkelnya.

Menakjubkan. Selain bisa mengatasi rintangan tebing terjal, 70 – 80 derajat dengan ketinggian 4 – 5 meter, kendaraan off road modifikasinya bisa pula ‘melompat’ dari satu tebing ke tebing lain, sekaligus menyeruak belukar di sela hutan jati.

Off road ternyata membuat ketagihan. “Nanti kalo datang jangan pake baju untuk pergi ke masjid.. pake kostum sport, ya..,” serunya, bercanda.

Selama uji coba, saya tanya kepada Ki Lurah Harjanto, apa alasannya tak semua belukar diterabasnya. Dia menoleh, sambil mengendalikan kemudi, gas, rem, dan kopling.

“Saya tidak akan merusak habitat belukar yang menurut nurani saya, di dalamnya di huni aneka makhluk kecil yang berfungsi menyuburkan tanah yang menopang pohon jati ini..,” ujarnya. “Track baru yang kita pilih, adalah belukar yang di bawahnya tak ada tanah gembur. Itu tanah bebatuan dan tanah liat,” sambungnya. Ini  bagian dari akhlak kita kepada alam.

Kembali ke rumahnya, Harjanto duduk di belakang key board orgaannya. Menyanyikan beberapa lagu lama, karya Prambors, Mercys, Koes Plus, dan Ebiet G. Ade. Ketika dia menyanyikan lagu Ebiet G. Ade, spontan saya membacakan puisi untuknya.

Kami saling bertepuk lima jari. Tertawa lebar, meski bahaknya terkendali. “Dusun dan desa di sini selalu membuka pintu untuk Pak Sem.. mari kita kolaborasi, menghidupkan wisata alam, sambil mengenali lebih jauh, tanah air kita sungguh indah.. dan akhlak kita harus memeliharanya. Supaya rakyat bahagia,” ungkap Harjanto. Dan... kami berpisah, untuk selalu bertemu dan bertemu lagi.

Di Kaliboto – Puworejo, bersama filosofi Jawa yang merayap di dalam pikiran, jiwa, dan laku Ki Lurah Harjanto, hidup memang membahagiakan... |

 

Editor : sem haesy
 
Humaniora
21 Sep 18, 11:57 WIB | Dilihat : 90
Perempuan Adat Pelaku Pembangunan Berkelanjutan
12 Sep 18, 11:22 WIB | Dilihat : 276
Harapan Hampa Tenaga Honorer Kategori 2
11 Sep 18, 11:39 WIB | Dilihat : 280
Sadaf Taherian Sang Pemberontak
Selanjutnya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 779
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 538
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 542
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 683
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
Selanjutnya