Deddy Mizwar di Ujung Ramadan

| dilihat 603

Catatan Sem Haesy

RAMADAN 1438 Hijriah punya makna tersendiri bagi H. Deddy Mizwar. Tak hanya karena pada tahun ini, sinetron ramadan Para Pencari Tuhan yang dibintanginya, tak tayang di layar salah satu stasiun televisi.

Juga karena di penghujung Ramadan, persisnya pada Rabu (13/6/18) bertepatan dengan 28 Ramadan 1439 H, Deddy mengakhiri masa baktinya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.

Ihwal Para Pencari Tuhan, tak ada komentar Deddy. Sinetron yang sudah 11 tahun menemani sahur dan berbuka sebagian umat Islam yang menjadi penggemarnya – sekaligus penggemar sinetron dakwah, itu harus berakhir begitu saja.

Salah satu musababnya adalah keputusan Bawaslu Provinsi Jawa Barat yang melarangnya bermain sinetron, tanpa alasan yang benderang. Tapi, Deddy mengambil hikmahnya: sepanjang Ramadan 1439 H, dia sibuk mengunjungi rakyat Jawa Barat di berbagai wilayah.

Berkunjung langsung kepada konstituen, menyambangi hati para calon pemilih dalam Pilkada Jawa Barat 2018, adalah cara kampanye yang dipilih Deddy Mizwar dan pasangannya Dedi Mulyadi. Pasangan ini memang punya cara tersendiri yang khas dalam berkampanye.

Bermain sinetron adalah bagian dari hidup dan bahkan kegemaran Deddy, setara dengan kegemaran orang lain bermain golf, lawn tennis, bersepeda, dan lainnya. Sayang, tak ada larangan bagi kandidat Pilkada Jabar bermain golf, tennis, bersepeda, dan lainnya.

Meski menggunakan haknya untuk menggugat, Deddy tak ambil pusing dengan larangan itu. Mungkin, seperti dialognya dalam sinetron Mat Angin, Deddy Mizwar akan bersikap, “Anggap aje angin..,” atas hilangnya kesempatan itu. Deddy adalah orang yang patuh pada aturan, dan dia mengikuti aturan itu. Apalagi, dia ingin Pilkada Jawa Barat, berlangsung aman, nyaman, lancar, dan menggembirakan.

Seperti dalam pidatonya saat deklarasi, “Kita berusaha menjadikan Pilkada Jawa Barat ini merupakan peristiwa politik yang menyenangkan, bukan menakutkan.”

Secara eksplisit, bahkan Deddy Mizwar menegaskan, proses Pilkada, melalui aksi kampanye, merupakan cara untuk menghimpun yang terserak, mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang dekat, untuk berkomitmen, saling memuliakan.

Deddy Mizwar memandang, demokrasi merupakan cara mewujudkan harmoni kebangsaan. Pandangan ini, dimanifestasikan betul oleh Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi, pasangannya.

Dalam acara Debat Kandidat Pilkada Jawa Barat yang ditayangkan beberapa stasiun televisi, Deddy membuktikannya. Termasuk menjaga situasi, agar ajang kampanye dan debat, tidak memanipulasi dan sekadar menduplikasi data, tanpa verifikasi dan konfirmasi.

Deddy Mizwar yang berdarah Betawi – salah satu anasir budaya masyarakat Jawa Barat – dan menikah dengan Giselawati yang sangat Sunda – orang tua Gisela berasal dari Ciamis dan Purwakarta – sejak belia memang sudah tampil sebagai sosok egaliter yang terbuka. Sekaligus mudah beradaptasi dengan dimensi budaya yang mengelilinginya.

Sebagai sosok pribadi yang nyantika, nyantri, dan berkualifikasi sebagai sinatria pilih tanding, dia berpegang pada prinsip laku budaya berbasis akhlak : andap asor pamakena, bubuden teu ieu aing. (Baca: Deddy Mizwar, Sinatria nu Pinandita). Sosok yang punya integritas, mudah bergaul, dan konsisten. Terutama dalam memenuhi janji.

Ujung Pengabdian di Ujung Ramadan

DALAM hal berakhirnya masa jabatannya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy mengatakan, “Kekuasaan hanyalah seperti singkatnya lambaian tangan, lalu ia meninggalkanmu begitu saja.” Yang justru mesti dipahami adalah, pertanggungjawabannya.

Deddy mengungkapkan, kelak di hadapan Allah, yang akan ditanya adalah bagaimana kekuasaan itu dijalankan, selama kita memegangnya. Esensinya adalah pada kekuasaan dan jabatan tersimpan amanah.

Bagi Deddy – yang sudah selesai dengan dirinya, terutama dalam hal ekonomi dan sosial – jabatan politik yang disandangnya selama lima tahun, itu memberi aksentuasi luasnya ruang berkiprah sebagai wujud ibadah.

Deddy membuktikannya. Selama lima tahun – setidaknya sampai dia cuti dari jabatannya beberapa bulan lalu – banyak hal dilakukan Deddy. Dia sungguh memainkan perannya sebagai Wakil Gubernur dan tak pernah sekejappun berfikir lain.

Itu sebabnya, hubungannya dengan Gubernur Ahmad Heryawan dalam menjalankan tugasnya, selalu harmonis. Dia dan Ahmad Heryawan – yang selalu dia panggil dengan sebutan Kang Aher – mengemban amanah dalam harmoni yang indah.

Beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengakui, Deddy dan Aher memberi contoh bagaimana menjalankan tugas pokok dan fungsi jabatan secara proporsional dan tetap berada dalam koridor peraturan dan kebijakan yang disepakati.

Deddy tak pernah melalaikan tugasnya, meski tak jarang, lawan politiknya menyoal aktivitasnya sebagai aktor, yang dia lakukan di waktu libur dan atas persetujuan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Termasuk dalam mengambil keputusan yang tegas, khasnya terkait dengan masalah lingkungan, pertambangan, dan berbagai tugas yang diberikan Ahmad Heryawan kepadanya. Deddy pun menjalaninya, termasuk menyatakan sikapnya, tanpa beban.

Dia berteriak lantang soal reklamasi di lepas pantai utara Jakarta yang berdampak pada kerusakan lingkungan di wilayahnya. Teriakan itu dia sampaikan, tak hanya kepada media, melainkan kepada para anggota DPR RI , menteri terkait, bahkan Presiden dan Wakil Presiden.

Bersama Ahmad Heryawan dan para kepala satuan kerja pemerintah daerah di Provinsi Jawa Barat, Deddy membuktikan kesungguhan kerja melayani rakyat dalam meningkatkan kesejahteraan.  Untuk itu, dia tak pernah bosan berinteraksi, berkomunikasi, berkoordinasi, dan bahkan konsultasi dengan para inohong masyarakat Jawa Barat.

Dia juga menunjukkan sikap terbuka dalam menjalankan fungsinya. Termasuk ‘mengundang’ Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mencegah penyelewengan dan pelanggaran hukum dalam pelaksanaan program dan proyek pembangunan.

Kepada banyak sahabatnya, seringkali dia mengingatkan untuk tidak masuk ke dalam wilayah yang bisa menimbulkan konflik kepentingan. Deddy tak memberi ruang siapapun memanfaatkan kekuasaan yang melekat pada jabatannya.

Lima tahun menjabat Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy lebih banyak berdialog dengan para sahabatnya untuk berkontribusi menggerakkan transformasi di Jawa Barat. Ia kerap menyampaikan semangatnya meningkatkan kualitas pelayanan rakyat, yang memungkinkan terjadinya percepatan kesejahteraan yang sungguh berkeadilan.

Banyak hal sudah diperbuat, masih banyak lagi yang harus dituntaskan. Inilah yang mendorongnya ikut kontestasi dalam Pilkada serentak 2018. Didampingi Giselawati yang juga tak pernah bosan mengkritisinya, Deddy pun meningkatkan terus kualitas dan kapasitas dirinya, sehingga ia berhasil menyelesaikan studi magister ilmu pemerintahan di Universitas Padjadjaran – Bandung.

Dalam konteks pelayanan luas kepada rakyat, Deddy berteguh pada prinsip pembangunan sebagai gerakan kebudayaan. Wujudnya: menjamin ketahanan pangan yang mampu dibeli oleh rakyat, kuatnya akses rakyat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan, penguatan kewirausahaan – khasnya di kalangan generasi muda, reformasi briokrasi, dan menciptakan kondisi meningkatnya terus kualitas insan yang beriman, dan menurunnya angka kemiskinan.

Deddy pun pernah menyentak kita, ketika dia tampil ke depan, saat Al Qur’an dinista, dan dia merupakan satu-satunya kandidat dalam Pilkada Jabar yang paling kongkret menunjukkan sikapnya.

Selebihnya, dia tak terlalu pusing dengan perilaku politisi dan partai politik yang menghianatinya. “Itulah politik. Begitulah politik. Semacam itulah, perilaku sebagian politisi kita. Ini tantangan kita untuk membangun budaya politik yang lebih beretika,” katanya.

Menurut Deddy Mizwar yang lumayan lama berkecimpung dalam dunia politik, kini perjuangannya yang terdekat adalah memenangkan peluang untuk sungguh melayani rakyat Jawa Barat. “Hanya itu. Mudah-mudahan kelak menjadi bagian ibadah yang terindah,” ungkap Deddy, yang sangat sering mengimami salat para staf yang melekat pada jabatannya, selama menjabat Wakil Gubernur Jawa Barat.

Di penghujung Ramadan, Deddy mohon ma’af bila masih banyak khilaf dan alpa, serta belum maksimal melayani rakyat pada lima tahun yang lalu. |

Editor : sem haesy | Sumber : foto-foto dari berbagai sumber
 
Budaya
18 Okt 18, 13:42 WIB | Dilihat : 188
Majelis Adat Bamus Betawi Mesti Kembangkan Kebudayaan
06 Okt 18, 10:24 WIB | Dilihat : 535
ISBI Bandung Garda Depan Transformasi Budaya
15 Sep 18, 01:15 WIB | Dilihat : 301
Di Tengah Pusaran Zaman Fitan
13 Sep 18, 13:36 WIB | Dilihat : 296
Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams
Selanjutnya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 823
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 566
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 572
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 717
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
Selanjutnya