Penganugerahan Dr Honoris Causa ITB kepada Jusuf Kalla

Civitas Akademika ITB Jangan Berhenti Menebar Inovasi

| dilihat 261

Muhammad Jusuf Kalla yang lebih populer dipanggil JK, mengingatkan seluruh civitas akademika Institut Teknologi Bandung (ITB), jangan berhenti melakukan dan menebar inovasi.

JK menyampaikan pesannya itu di pengujung orasinya, saat menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Produktivitas dari institut berusia 100 tahun, di Aula Barat Kampus ITB - Jalan ganesha, Bandung, Senin (13/01/2020).

"Anda semua adalah generasi terbaik bangsa. Anda adalah lokomotif kemajuan dimana bangsa ini berharap peran besar ITB sebagai inisiator dan motor peningkatan produktivitas. ITB tidak boleh terkungkung dalam jeratan sistim yang birokratis, karena birokrasi yang berlebihan akan mengekang kreatifitas dan daya berinovasi," ujar JK di institut tempat Bung Karno pernah kuliah itu.

Tim promotor yang dipimpin Prof. Dr. Abdul Hakim Halim mengatakan, ITB memberikan kebijakan pemberian gelar tersebut kepada seseorang (yang dinilai) memiliki karya nyata atau pemikiran dan penelitian yang terbukti bermanfaat bagi masyarakat.

Dia mengatakan, "Berdasarkan karya-karya inovatif dan rekan jejak yang telah dilakukan, Tim Promotor yakin Jusuf Kalla layak mendapatkan gelar Doktor Kehormatan dalam bidang produktivitas."

Pemberian gelar doktor kehormatan ini sudah dialami JK berulang kali dari luar dan dalam negeri. Namun begitu, JK merasa bangga mendapat gelar Dr. HC dari ITB sebagai lembaga pendidikan tinggi yang penting di Indonesia.

Rektor ITB, Prof. Dr. Kadarsah Suryadi, berharap agar penganugerahan gelar doktor kehormatan ini menjadi awal dari gerakan nasional produktivitas, dalam rangka menyongsong bonus demografi.

Dalam kesempatan berpidato, Prof. Kadarsah sempat menampilkan potret JK kala menjadi mahasiswa, memimpin demonstrasi di Makassar. Foto itu mendapat respon baik dari hadirin.

Dalam orasinya bertajuk "Mendorong Produktivitas, Meningkatkan Kesejahteraan Bangsa," JK mengemukakan berbagai pengalaman dirinya berkiprah dalam dunia bisnis, politik, dan pemerintahan. JK mengaku, baru menyadari, bahwa istilah yang sering dia pakai, "lebih cepat lebih baik," relevan dengan produktivitas.

JK mengemukakan enam pengalaman yang dipandangnya berkaitan dengan produktivitas. Yaitu: Pertama, menjadikan Bukaka produsen dan eksportir garbarata; Kedua, Konversi Energi; Ketiga, Perubahan (konsep) Pembangunan Bandara di Indonesia; Keempat, Mewujudkan produksi panser buatan Indonesia (Anoa); Kelima, PLTA mandiri; dan Keenam, Asian Games 2018.

Produktivitas adalah Kunci Kemakmuran

JK mengemukakan, dari berbagai hasil studi di berbagai negara, produktivitas merupakan kunci kemakmuran

"Negara dengan produktivitas tinggi, akan mampu memproduksi barang dan jasa melebihi kebutuhannya. Selisih antara apa yang diproduksi dan dikonsumsi memungkinkan mereka melakukan investasi, yang pada gilirannya mendongkrak produktivitas dan kemakmuran ke taraf yang lebih tinggi lagi," ungkapnya.

Pertanyaan itu terkait dengan pemaparannya, bahwa saat ini terdapat hampir 200 negara di dunia dengan berbagai variasi. Ada negara yang memiliki kekayaan alam berlimpah, ada pula yang tidak.

Ada negara berpopulasi besar, ada juga yang kecil. Ada negara yang terletak di daerah beriklim panas, ada pula yang dingin. "Terlepas dari variasi tersebut, seluruh bangsa memimpikan kemakmuran, dimana saat ini Produk Domestik Bruto per-kapita (PDB per-kapita) adalah ukuran yang paling banyak dipakai," ungkapnya.

JK mengemukakan, data PDB per-kapita menunjukkan tidak adanya kaitan yang kuat antara jumlah populasi suatu negara dengan dengan tingkat kemakmuran. Ada negara berpopulasi besar yang makmur, ada juga yang miskin.

Hal yang sama juga terjadi pada negara berpopulasi kecil. Menurutnya, fakta juga menunjukkan tidak adanya korelasi yang kuat antara letak geografis suatu negara dengan tingkat kemakmuran. Ada negara di lingkar kutub, sub-tropis dan tropis yang makmur, tetapi ada juga yang miskin.

Kekayaan alam pun bukan merupakan jaminan kemakmuran. Banyak negara makmur tetapi memiliki kekayaan alam yang terbatas, sebaliknya banyak negara yang kaya dengan sumber daya alam tetapi justru gagal mewujudkan kemakmuran.

Bahkan kekayaan alam seringkali membuat suatu bangsa terjebak dalam kebijakan yang salah dan konflik berkepanjangan; fenomena yang sering disebut dengan natural resources trap atau dutch deseases. Mereka fokus pada upaya mengeksploitasi, lupa berkreasi.

Tentang natural resources trap atau dutch deseases ini pernah diungkapkan Prof. Dr. Ahmad Fauzi dalam orasi pengukuhan guru besar sumberdaya ekonomi di Institut Pertanian Bogor (10/10/2007), tentang economic of natures non convexity.

Dalam orasinya itu, JK juga mengemukakan, PDB merupakan agregat produksi dan pendapatan kita, yang menggambarkan ukuran kue ekonomi yang dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.

Pertumbuhan PDB yang tinggi dan berkesinambungan merupakan kunci bagi kita untuk dapat bergeser dari middle income saat ini, menjadi high middle income dalam jangka menengah, untuk memasuki high income dalam jangka panjang. 

"Untuk terhindar dari middle income trap dan mampu tinggal landas menjadi negara maju, ekonomi kita harus selalu tumbuh diatas enam persen per-tahun dalam 20 tahun mendatang. Jika gagal mewujudkan tingkat pertumbuhan yang meyakinkan, maka kita berpotensi kehilangan momentum bonus demografi, dan akan menjadi tua sebelum kaya," ungkap JK.

Sejalan dengan pengalaman bangsa-bangsa di dunia, menurut JK, pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan tersebut hanya akan terwujud jika bangsa Indonesia mampu meningkatkan produktivitas SDM dan produktivitas pemanfaatan kapital, baik itu di perusahaan maupun di instansi pemerintahan.

JK menyebut Paul Krugman, pemenang Nobel bidang ekonomi, yang mengatakan,  bahwa suatu negara akan mampu tumbuh berkelanjutan dengan inspiration not perspiration, dengan inspirasi bukan hanya dengan memeras keringat. Artinya, peningkatan jumlah SDM dan modal adalah penting, tetapi kualitas SDM dan investasi jauh lebih penting. Saat ini kerja cerdas seringkali lebih menentukan daripada sekedar kerja keras.

Dalam pandangan JK, "Penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia dari kisaran 60 persen di tahun 70-an menjadi di bawah 10 persen saat ini, tidak terlepas dari sukses upaya meningkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian."

Kombinasi Revolusi Hijau melalui perbaikan bibit, pupuk, irigasi dan akses kredit lewat BIMAS/INMAS serta Revolusi Pendidikan melalui pendirian SD/SMP Inpres di seluruh pelosok Indonesia, telah berhasil meningkatkan produktivitas.

Produktivitas pertanian pun meningkat dari hanya tiga ton padi per-hektar pada era 70-an, menjadi sekitar lima ton per-hektar saat ini. Peningkatan ini berbanding lurus dengan perbaikan tingkat kemakmuran rakyat.

"Proses seperti ini tidak boleh berhenti demi perbaikan ekonomi, khususnya di pedesaan. Dengan luas lahan yang terbatas, peningkatan produktivitas merupakan solusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan," cetus JK.

Pada akhir 80-an, ungkap JK, investasi di bidang industri dan jasa mulai dilakukan, membawa produktivitas nasional ke taraf yang lebih tinggi yang dilakukan oleh swasta dalam negeri ataupun asing, sejalan dengan infrastruktur yang dibangun Pemerintah.

Bagi Indonesia, peningkatan produktivitas akan berdampak besar, apalagi saat ini masih terdapat gap produktivitas yang lebar antara berbagai jenis usaha; misalnya, kesenjangan produktivitas antara usaha kecil, usaha menengah dan usaha besar. Bahkan di BUMN yang seharusnya lebih terorganisir, kesenjangan ini masih lebar.

"Jika kita berhasil menekan kesenjangan tersebut, maka produktivitas nasional akan terdongkrak. Produktivitas meningkat pada dasarnya apabila kita dapat memproduksi atau menjalankan kegiatan dengan lebih baik, lebih murah dan lebih cepat," ungkap JK kemudian.

Sidang Senat ITB dalam rangka penganugerahan gelar Doktor kehormatan itu kepada JK dihadiri sejumlah mantan menteri Kabinet Indonesia Kerja dan Kabinet Indonesia Bersatu tokoh masyarakat Jawa Barat. Nampak terlihat Ferry Mursidan Baldan, Sudirman Said, Erna Witoelar, Ceu Popong, Solichin GP, KH Miftah Farid. Juga Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.|aghnina

Editor : bungsem
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 784
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1621
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1329
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
14 Jan 20, 20:51 WIB | Dilihat : 196
Epos Perubahan Berbasis Modal Insan
14 Jan 20, 13:20 WIB | Dilihat : 147
Produktivitas Tak Lepas dari Iptek dan Manusia
06 Jan 20, 11:46 WIB | Dilihat : 184
Menggambar Gajah Membayangkan Ular
03 Jan 20, 21:48 WIB | Dilihat : 98
Langkah Awal Transformasi
Selanjutnya