Cikgu Mad Selalu Mendoakan Prabowo Subianto dari Jiran

| dilihat 441

Siang yang cerah. Lelaki itu tersenyum di teras kediaman Tan Sri Johan Jaaffar (JJ) di Bukit Gasing, Petaling Jaya (PJ), Selangor - Malaysia, beberapa waktu berselang. Matanya memandang ke arah masjid berkubah warna kuning kemilau. Ahmad Mahmud, namanya.

Mantan atlet rugby Malaysia yang biasa dipamggil Cikgu Mad, ini belakangan sohor kembali lewat buku memoarnya, "Me, Rughby and Super Mokh."  Dipanggil Cikgu, karena dia memang seorang guru.

"Bagaimana dengan Prabowo? Dia anak yang cerdas dan sportif," ujarnya, ketika berbincang tentang Indonesia dan nyerempet ihwal Pemilihan Presiden 2019.

Cikgu paham masa kanak-kanak Prabowo, karena dia mengajar olahraga, rugby di Sekolah Victoria - Kuala Lumpur. Prabowo murid di situ, meski tak lama, sekitar tahun 1963-1964. Prabowo keluar dari sekolah itu karena mengikuti ayahnya yang meninggalkan Malaysia, lantaran terjadi konfrontasi yang dikobarkan Soekarno.

"Sampaikan salam saya kepada Prabowo. Dia sangat layak sebagai pemimpin," ujarnya sambil tersenyum.

Ahmad Mahmud menghabiskan hari tuanya di Kawasan Melayu, di sekitar Kota Tua, Petaling Jaya, di Selangor. Dia adalah salah seorang penduduk lama di daerah itu. Cikgu Mat sering mengunjungi Warung Enaland di warung milik Chef Fawzey, pencipta Nasi Lemak Kukus Goreng yang terkenal di PJ.

Sebagai pensiunan, mantan atlet sohor ini, dengan kondisi fisik yang tak sekuat dulu, disangga tongkat atau menggunakan kursi roda, Cikgu Mat memang agak terbatas geraknya. Dia pun sering nampak di kedai-kedai mamak.

Tan Sri JJ, dalam blognya menulis, Cikgu Mad selalu bisa ditemui di kedai mamak paling populer di Kota Tua: Fairoz atau Kedai 18 Jam. Pada hari Sabtu dan Ahad, ia akan nampak berada di Warung Hamdan di tepi Taman Jaya, menikmati nasi lemak. Di situ Cikgu Mad bisa berinteraksi dengan seorang menteri, mantan chairman perusahaan media, beberapa pejabat senior pemerintah, bankir, akuntan atau masyarakat lainnya yang berkeliling di danau yang indah.

Tan Sri Johan Jaaffar bercerita pada saya, Cikgu Mad bukan lelaki biasa. Dia olahragawan Malaysia luar biasa. Pada masanya, dia merupakan salah satu dari sedikit atlet yang mewakili Malaysia dalam dua cabang olahraga yang berbeda - rugby dan decathlon.

Di dekade 1970-an, menurut Tan Sri JJ merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan dalam olahraga. Sejumlah olahragawan dan perempuan dari generasinya memuji dan mengaguminya.

Pada SEA Games 1965 dan 1967, dan Asian Games 1966, Cikgu Mad mewakili Malaysia dalam dasalomba selama setidaknya dua tahun. Dia mewakili negara di rugby, bermain melawan yang terbaik dan terkenal di dunia rugby.

Cikgu Mad, seperti ceritanya kepada saya di beranda rumah Tan Sri JJ, sambil makan tengah hari, dia mulai mengenakan kursi roda dan tongkat penyangga, mengalami nasib nahas. Kecelakaan. Tidak di lapangan olah raga, tetapi di teras rumahnya sendiri, dan tertabrak oleh mobilnya sendiri.

Ia bercerita, tiba-tiba saja mobilnya meluncur dan menjepitnya ke dinding, dan menghancurkan lututnya. Kecelakaan itu, membuatnya cacat permanen, tak bisa pulih.

Tan Sri JJ menjelaskan, kecelakaan itu tak membuatnya putus harapan. Dia menerima keadaan. "Dia tahu, tak kan bisa bermain rugby dan berolahraga lagi, tetapi dia terus berjuang. Dia tidak akan berkubang meratapi dirinya. Dia kehilangan kakinya, tetapi tidak pernah kehilangan semangatnya. Dia melatih tubuh bagian atas tubuhnya sehingga beroleh kebugaran luar biasa," ungkap Tan Sri JJ.

"Ini yang orang tua kata, nasib baik tak dapat diduga, nasib malang tak dapat ditolak," ujar Cikgu Mad sambil tersenyum, lalu menyantap nasi lemak dari piringnya.

Bagi Tan Sri JJ, wartawan dan budawan senior mantan pemimpin utama Media Prima Bhd - perusahaan media terbesar di Malaysia, antara lain membawahi TV3, TV7, TV8, TV9, Metro, Berita Harian, New Strait Times, beberapa radio dan media luar ruang -- Cikgu Mad adalah ensiklopedia olahraga berjalan. Pengetahuannya sisik melik olahraga luar biasa.

"Tanyakan padanya tentang prestasi yang dicapai oleh olahragawan dan wanita kelas dunia, Olympians yang membuat rekor, pemecah rekor, apa saja. Bicaralah dengannya tentang sepakbola. Dia tahu semua orang yang penting. Rugby? Dia buku referensi semua orang. Rugby, bagaimanapun, adalah wilayah kekuasaannya," ungkap Tan Sri JJ, yang bersahabat dengan Cikgu Mat sejak tinggal di PJ, 1982.

Hubungan keduanya langsung klik, lantaran Tan Sri JJ juga penggemar berat rugby. Tan Sri JJ mengaku, Cikgu Mad membuatnya kagum dengan pengetahuannya tentang para pemain rugby terbaik selama waktu dan sebelumnya, beberapa di antaranya ditemuinya, saat Tan Sri JJ masih menjabat Chairman Media Prima Bhd.

Keduanya saling bertukar berita tentang hebat tentang rugby mutakhir. Keduanya menyibukkan diri dalam 'diskusi' ihwal berita tentang Piala Dunia Rugby dan setiap turnamen rugby. Tan Sri JJ di blognya menulis kalimat singkat mengekspresikan kekagumannya, "Dia memiliki banyak cerita rugby untuk diceritakan dan banyak lagu rugby untuk mengingatkan saya pada masa lalu yang indah."

Ihwal hubungan Prabowo dengan dirinya, sebatas murid dengan guru. Keduanya tak ada kontak. Ketika Prabowo berhenti dari jabatannya sebagai Pangkostrad, Cikgu Mad ikut merasakan suasana batin mantan muridnya itu. Tapi, Cikgu Mad tetap memelihara keyakinannya yang lama, suatu ketika Prabowo akan menjadi tokoh penting mampu menjadi telangkai kedigjayaan Indonesia - Malaysia di pentas dunia.

"Jiwa kepemimpinannya dapat saya rasakan ketika saya menjadi gurunya," kata Cikgu Mad.

Lelaki baya ini memang tak pernah meninggalkan dunia olah raga dan dunia pendidikan. Selepas menjadi guru di Victoria Institute, Cikgu Mad mengabdikan dirinya di lingkungan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang didirikan pada tahun 1974 sebagai staf olahraga di kampus pertamanya, dekat Universiti Malaya (UM).

"Itu adalah tahun saya bergabung dengan UM. Tahun itu juga merupakan puncak aktivisme mahasiswa di kampus. Pada 1979 ia bergabung dengan UM. Jalan kami tidak menyeberang saat itu," ungkap Tan Sri JJ.

Cikgu Mad yang kini berusia 73 tahun, kini sosok lelaki baya yang memancarkan optimisme dan menebarkan sikap itu kepada saya. Saya merasakannya, kala berbincang dengan dia. Saya senang melihat persahabatannya dengan Tan Sri JJ, yang adalah sahabat saya.

"Cikgu Mad hampir seperti saudara bagi saya. Cikgu Mad adalah orang yang akan saya hubungi larut malam untuk minum teh tarik bersama dengan teman-teman lain di sekitar PJ. Saya akan membawanya ke kebun saya di Pagoh, Muar, untuk menikmati udara dingin Banjaran Muakil atau bertemu teman-teman, sebagian besar keturunan Jawa seperti Wak Muji, Wak Mus, Wak Katimin, Wak Selamat, Wak Asan, dan lain-lain," tulis Tan Sri JJ di blognya.

Di Dusun Damai, itu keduanya menikmati sepi yang jauh dari keramaian, karena letaknya hampir 12 kilometer dari kota terdekat. "Kami berbicara sepanjang malam hingga larut malam. Dia adalah pendongeng yang baik. Dia tentu memiliki banyak hal untuk diceritakan. Dia akan menghibur orang-orang dengan cerita-ceritanya di dalam dan di luar lapangan, dan tentang hubungannya dengan Mokhtar Dahari yang legendaris (lebih dikenal sebagai Super Mokh), tulis Tan Sri JJ.

Tak hanya soal rugby dan olah raga, Cikgu Mad juga bercerita tentang perangkat mainan yang dia buat dari ban bekas, tongkat, potongan kertas, kotak rokok, atau apa pun. "Banyak permainan yang ia mainkan terasa asing di telinga modern. Dia bahkan membuat sketsa mereka untuk menggambarkan poin-poin tertentu," ungkap Tan Sri JJ. Semua itu, ditumpahkan dalam buku Cikgu Mad, yang membuatnya kembali dikenang banyak orang. Khasnya, para bekas pengagumnya dulu.

Cikgu Mad, menurut Tan Sri JJ adalah pelawan dalam banyak hal. Dia bertekad untuk mencapai sesuatu dalam hidup dan dia melakukannya, dengan bangga mewakili negaranya dalam rugby dan decathlon dan, memenangkan medali. Dia juga dikenal karena menikahi salah satu putri mendiang Datuk Harun Idris, mantan Menteri Besar Selangor. Tapi perniakahannya usai, melalui perceraian damai, setelah kecelakaan menimpa dirinya.

Bagi atlet-atlet muda, Cikgu Mad sebagai mentor dan figur ayah mereka. Cikgu Mad ingin mengucapkan sesuatu kepada Prabowo, dia ingin bicara, meski melalui telepon selular. Cikgu Mad sadar, dirinya punya banyak keterbatasan untuk bisa berjumpa. Baik kondisi dirinya maupun kesibukan Prabowo sendiri.

Dia tak putus berdo'a, Allah memudahkan Prabowo mewujudkan cita-cita perubahan, mewujudkan Indonesia Menang dalam segala hal, menjadi suar negeri serantau, tak hanya di Asia, tapi juga dunia.. | Bang Sem

Editor : sem haesy | Sumber : Tan Sri JJ
 
Humaniora
17 Jun 19, 19:03 WIB | Dilihat : 294
Benahi Minda, WAG Cerdas
13 Jun 19, 17:31 WIB | Dilihat : 256
Integritas Syeikh Abdul Qadir Jaelani
01 Jun 19, 16:05 WIB | Dilihat : 675
Selamat Menjumpai Sumber Kebajikan, Bu Ani
Selanjutnya
Seni & Hiburan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 233
Kejujuran
12 Jun 19, 23:33 WIB | Dilihat : 231
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 258
Perempuan di Makam Ibu
29 Mei 19, 10:25 WIB | Dilihat : 483
Rumah yang Rapuh
Selanjutnya