Cermin Kearifan Datuk Baharom Mahusin

| dilihat 123

Catatan Bang Sèm

Satu lagi cermin kearifan jurnalis berkurang. Selasa, 17 November 2020, kabar duka itu datang lagi dari Kuala Lumpur. Seorang sahabat, Datuk Baharom Mahusin, wafat.

Kabar kepulangan Allahyarham ke haribaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, di Pusat Perubatan Universiti Malaya (PPUM) pada pukul 07.23 waktu setempat, terbarukan menit ke menit, sejak malam hari sebelumnya.

Sudah dua minggu ia dirawat di PPUM ini, dari sebelumnya dirawat di rumah sakit swasta. Allahyarham dirawat di rumah sakit, sejak sering mengeluhkan rasa sakit di perutnya. Setelah dirawat di rumah sakit, baru diketahui, Allahyarham mengalami pelbagai komplikasi akibat serangan bakteri dalam darah, yang membuatnya terus melemah.

Sesaat setelah wafat, sejumlah ungkapan duka dan takziah dari berbagai kalangan, khasnya pemimpin negara Malaysia, sampai Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah, mengisi laman-laman akun media sosial.

Bahkan, di laman  Facebook Istana Negara, Agong juga menyatakan rasa sedih atas wafatnya Baharom. Agong menyatakan, wafatrnya Baharom, sebagaimana wafatnya para sahabat sebelumnya (Datuk Ahmad Thalib - jurnalis utama New Strait Times - Mei 2020, dan Prof. Dato Jalil Ali - jurnalis utama Sinar Harian, awal Agustus lalu) merupakan kerugian besar bagi kewartawanan Malaysia. Baharom dan Datuk Ahmad Thalib (Tok Mat) wafat di rumah sakit yang sama.

Sejumlah jurnalis senior Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Setia -kawan Wartawan Malaysia Indonesia (ISWAMI) pun menyatakan duka. Secara pribadi, saya sangat merasa kehilangan sahabat sekaligus salah satu cermin kebajikan dan konsistensi dalam menjalankan prinsip-prinsip profesi jurnalisme.

Allahyarham seorang pekerja tekun yang belajar keras dan mengikuti dengan cermat dinamika perkembangan media dan teknologi komunikasi.

Ketika wafat, Baharom masih menyandang amanah sebagai Ketua Pengarang (Pemimpin Redaksi) Sinar Harian, yang diterimanya sejak April 2020. Putra Kuantan, Pahang, itu telah menjalani profesi kewartawanan selama hampir tiga dekade.

Sebelumnya, ia memimpin redaksi Kosmo! - surat kabar harian dalam format jumbo terbitan Kelompok Penerbitan Utusan, yang menerbitkan Utusan Malaysia. Baharom berhasil memimpin surat kabar yang pernah menjadi surat kabar dengan tiras terbesar, bahkan melampaui tiras Utusan Malaysia, induknya.

Selama satu dekade Baharom menjadi redaktur di Kosmo! (2008-2018). Ia terbilang 'bertangan dingin,' Kosmo! terus berkembang mengikuti perkembangan zaman dan industri media.

Lima bulan sebelum berhenti secara sukarela dari Kelompok Utusan pada Desember 2018, ketika saya berkunjung ke kantornya, dia menjelaskan berbagai upaya untuk terus mengembangkan Kosmo!, termasuk bagaimana menyiapkan Kosmo TV dan digital.

Dua bulan kemudian, saya bertemu dan berbincang lagi dengan Allahyarham bersama Tuan Sabaruddin Ahmad Sabri dan Datuk Zulkefli - Presiden ISWAMI Malaysia, dalam acara pameran dan promosi produk usaha kecil menengah binaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia, di ruang pamer Putra World Trade Center (PWTC) - Kuala lumpur.

"Kita tak boleh lengah. Perubahan industri media sangat cepat. Kita sedang perlahan-lahan meninggalkan peradaban kertas menuju peradaban digital, meskipun peradaban kertas dan media cetak masih akan bertahan," ungkapnya, ketika itu.

Baharom kemudian mengajak serta sejumlah stafnya untuk sama berbincang. Dia meminta saya mengungkapkan berbagai hal terkait imagineering (rekacita) dan aplikasinya dalam praktik perubahan dunia industri media.

Semangatnya luar biasa dalam menjaga dan memelihara Kosmo! sebagai salah satu produk media di Malaysia yang harus melakukan perubahan dengan pendekatan multi media, multi channel dan multi platform dengan formula yang lebih sesuai dengan perkembangan - perubahan khalayak (audiens, khasnya viewers dan readers).

Jurnalis lulusan colloqium - kepujian dalam bidang penulisan dari Universiti Malaya ini mengawali karirnya dalam dunia jurnalistik sebagai pemberita, kemudian menulis tajuk rencana, dan selama tiga tahun (1994-1997) ditugaskan sebagai koresponden akhbar Utusan Malaysia di London.

Sebelumnya, ia pernah menjadi kolumnis dan asiwsten redaktuyr Mingguan Malaysia (2000-2002), redaktur majalah mingguan MASSA, dan berbagai posisi profesi struktural di Utusan Malaysia.

Ketika jumpa lagi dengannya, dia bercerita sudah bergabung dengan Kelompok Media Karangkraf, yang antara lain menerbitkan Sinar Harian. Saya sempat memantiknya untuk bicara tentang Utusan Malaysia yang kemudian sempat berhenti terbit, itu.

Tapi, Baharom, dengan caranya mengalihkan perbincangan. Ia fokus ingin memajukan Sinar Harian. Ia ingin Sinar Harian sebagai media berbahasa Melayu yang pertama dan terutama menjadi rujukan bagi siapa saja untuk mengetahui dan mengenali Malaysia mutakhir.

Ketika bersama sejumlah jurnalis senior dan redaktur media arus utama Malaysia berkunjung ke Jakarta untuk mewawancarai Presiden Joko Widodo, Baharom dan kawan-kawan sempat berkunjung ke Kantor PWI Pusat.

Usai dialog, Baharom masih bercerita tentang dinamika politik domestik di Indonesia dan Malaysia, dan bagaimana kesiapan dua negara inti di rantau Asia Tenggara, ini memainkan peran untuk merespon isu-isu aktual, tentang Laut China Selatan yang akan terus menjadi tumpuan konflik multilateral antara bangsa-bangsa di Asia Tenggara dengan China, yang akan memancing masuk campur tangan Amerika Serikat ke dalamnya.

Ia juga berbincang secara personal tentang prospek politik ekonomi terkait dengan Trans Pasifik yang sering dikaitkan dengan perubahan orientasi kehidupan berbangsa Indo-Pasifik.

Di tahun-tahun sebelumnya, ketika berkunjung ke kantornya, dia tersenyum, ketika kami berbincang tentan realitas eksisting jumlah pekerja migran asal Indonesia di Malaysia, sebagai potensial market. Saya menunjuk rubrik yang terkait dengan berbagai dimensi sosio budaya Indonesia di Kosmo!

Jujur dan terbuka dia mengatakan, pekerja migran asal Indonesia, salah satu ceruk pasar yang memang dibidiknya untuk meningkatkan tiras Kosmo! Baharom mengolahnya dengan sangat baik, sehingga Kosmo! menjadi rujukan sekaligus ruang renjana bagi pembacanya, asal Indonesia.

Pengerusi Lembaga Pengarah Kumpulan Karangkraf Sdn Bhd, Datuk Dr Hussamuddin Yaacub, sangat jeli ketika membidik Baharom, dan kemudian mengangkatnya sebagai Pemimpin Redaksi Sinar Harian, menggantikan Norden Mohamed yang sudah memikul amanah itu selama 8 tahun (2009 - 2017).

Baharom, sosok seorang yang humble. Tak banyak bicara. Ia cerdas, bijak, sekaligus mempunyai kepekaan spiritual untuk memainkan peranan sebagai pemberi solusi. Selama bersahabat dengannya, saya kerap menyimak cara (way) dia menghadapi dan mengatasi masalah, bukan alasan (reason) untuk mengelak dari masalah.

Ia sangat yakin, Al Qur'an -- baik berupa ayat-ayat tekstual dan kontekstual -- memandu manusia bagaimana menghadapi cabaran, dan Allah memberi isyarat, bagaimana manusia harus mempunyai cara dalam mengatasi masalah. Jurnalis yang hemat bicara dan kerap menabung kebajikan, ini sosok profesional yang melihat hidup sebagai rangkaian peluang (oportunitas).

Dari beberapa kali bersembang-sembang dengannya, Baharom kerap melihat suatu fenomena dengan menemukan dan mengenali dulu tantangan (cabaran)-nya. Kemudian melihat, ragam peluang apa yang berada di sebalik tantangan itu. Kemudian melakukan introspeksi - muhasabah, menemu-kenali apa saja kelemahan dan kekurangan yang kita miliki.

Saya sering menangkap kesan, di balik senyumnya yang khas, dengan matanya, dia sedang bicara, "kenali kelemahan diri, sehingga kita akan tahu, kekuatan apa yang diperlukan untuk memenangkan cabaran."

Saya bersedih, kehilangan sahabat yang profesional, cerdas dan bijak. Tapi saya bangga, beroleh kabar, kepulangannya melalui gerbang husnul khatimah dihantarkan para sahabat dan senior-seniornya: Pengerusi Lembaga Pengarah Kumpulan Karangkraf Sdn Bhd, Datuk Dr Hussamuddin Yaacub; Ketua Pengarang Bernama, Datuk Mokhtar Hussain; Bekas Ketua Pengarang Kumpulan Utusan, Datuk Aziz Ishak ; Tokoh Wartawan Negara, Tan Sri Johan Jaafar (JJ) dan bekas Pengerusi Bernama, Datuk Seri Azman Ujang. Pula, Menteri Kanan (Keselamatan), Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob.

Saya terharu membaca pernyataan istri Allahyarham Baharom, Datin Noor Fuzana Yaakub, yang diposting Tan Sri JJ di grup WA Forum Wartawan RI  - Malaysia (17/11/20), usai pemakaman di Tanah Perkuburan Islam Raudhatul Sakinah KL Karak (Taman Selasih), Batu Caves.

Datin Noor Fuzana Yaakub, menyatakan, dia bertuah karena dipilih Allah SWT sebagai insan yang dapat hidup bersama Allahyarham. Kata Datin Noor, "Saya sayang dia tanpa syarat. Tak ada perkara terbaik lain yang saya mahu minta. Namun saya bersedia (kehilangan).. ajal maut kita kan Allah SWT dah tentukan," katanya

"Dia tu macam 'mukjizat' bagi saya. Macam tulah orangnya. Suka berbuat baik dengan manusia. Allah SWT bagi saya rezeki sekejap dengannya," kata Datin Noor lagi dalam pernyataannya..

Menurut dia, Baharom, suaminya itu seorang yang amat berdedikasi dan mempunyai jiwa yang luar biasa terhadap profesi kewartawanan. Dalam keadaan sakit pun Allahyarham masih mengingat tanggungjawabnya.

Satu cermin kearifan pergi bersama Baharom, ketika dunia media (jurnalisme) sedang memerlukan sangat banyak cermin itu.

Do'a terbaik bagi Allahyarham, A'dhamallahu ajrok, wa ahsana adzaãk wa ghafaro limayyitik. Al Faatihah.. |


Artikel ini juga dipublish di laman Sinar Harian - Malaysia [ Cermin Kearifan Baharom Mahusin ]

Editor : Sem Haesy
 
Sporta
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 387
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1304
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2183
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
Selanjutnya
Energi & Tambang