Cermin dari Hughes - Pak Zaenal dan Slamet Rahardjo

| dilihat 215

Catatan Bang Sèm

Dewi Hughes, perempuan cerdas dan cantik dengan berat badan hampir satu kwintal? Pertama kali muncul di acara televisi bersama Kak Seto dan Kak Nunu, mengasuh acara anak-anak. Lantas menjadi selebriti.

Kini, penampilan perempuan asal Bali, itu langsing. Berat badannya turun lebih dari lima puluh kilogram.

Terinspirasi oleh video tentang seorang nenek usia 90 tahun yang masih bisa lari-lari di pantai, kala usianya sekira 45 tahun, Hughes atas inisiatif sendiri melakukan ikhtiar kuat, melakukan diet dengan hanya mengkonsumsi semua jenis makanan segar yang diciptakan Tuhan.

Mulai dari sayur mayur, buah-buahan, daging, ikan, dan telur yang tersedia di muka bumi, dengan caranya.

Master hipnoterasi ini juga menghipnosa dirinya untuk konsisten, istiqamah mendisiplinkan diri. Dan.., ini yang penting, Hughes menyatakan, turunnya berat badan dia secara bertahap hingga separuh berat badannya semula, karena pemberian Tuhan. Ia menyebutnya, memperoleh hidayah.

Kata kunci dari penjelasan Hughes di berbagai programa siaran televisi adalah dirinya menjalani sikap hidup menerima realitas dengan ikhlas, sekaligus berikhtiar melakukan perubahan secara proporsional dan fungsional.

Hughes, dari ceritanya, mengingatkan kita tentang hakekat sabar bukan sebagai sesuatu yang pasif. Sabar itu aktif, ada ikhtiar di dalamnya, melalui diet dan pencarian formula untuk mengubah diri.

Kesabaran berbuah pada terpenuhinya harapan menjadi lebih baik, karena esensi perubahan yang hakiki adalah menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini, dan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Imam Ali Karamahu Wajhah mengatakan, setiap kesabaran akan selalu membuahkan hasil yang baik, termasuk dalam menghadapi problem dan sakit.

Hughes dengan caranya menyadari, bahwa apa yang dialaminya adalah cobaan yang harus dihadapi dan diikhtiarkan solusinya. Hughes menyadari, bahwa Allah Mahabaik, dan tak pernah bosan mendengar dan mengabulkan do'a manusia; tak pernah bosan melihat dan mengabulkan ikhtiar kebaikan manusia.

Hal lain yang menarik dari ikhtiar Hughes adalah mengubah minda (mindset) yang kemudian melahirkan cara berfikir positif. Hughes tak mengajari kita tentang sesuatu, dia mencontohkan sesuatu, sehingga apa yang dia ceritakan melalui siaran televisi menjadi cermin, pelajaran tanpa harus mengajari.

Saya memetik banyak hal dari penampilan Hughes di berbagai programa siaran televisi yang mengulik ikhtiarnya menjadi seperti sekarang ini. Tak berkurang kecendekiaannya, bahkan penampilannya tambah cantik.

Hughes menerima apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Apa yang dikemukakan Hughes, sejalan dengan nasihat yang saya terima dari Pak Zaenal, akupungturis di bilangan Pos Pengumben, yang mendeteksi penyakit pasiennya dengan cara yang bijak. Mengajak pasiennya mengharmonisasi nalar dan naluri tentang penyakit. Meski secara indria, Pak Zaenal juga melakukan transfer energi kepada pasiennya.

Bila Hughes lebih mengisyaratkan pada kesadaran untuk konsumsi terhadap pemenuhan kalori dengan mengharmonisasi protein nabati dan hewani, Pak Zaenal lebih pada pengendalian konsumsi pangan untuk pemenuhan kebutuhan manusia atas konsumsi protein nabati dan hewani. Karenanya, dalam proses pengobatan, dianjurkan mengubah minda tentang konsumsi pangan sekaligus pola konsumsinya.

Intinya adalah bagaimana manusia mempunyai mindas positif dan sayang terhadap dirinya.

Pekan lalu saya jumpa dengan aktor Slamet Rahardjo Djarot yang rada kaget melihat sosok saya. Slamet yang mulanya tambun, saya lihat malam itu sudah berkurang bobotnya. Dia mengaku, bobotnya turun 7 kilogram selama beberapa bulan.

Slamet, tak hanya bicara dengan perubahan minda tentang pola konsumsi yang seimbang antara protein nabati dan hewani, selamat juga bicara tentang minda 'sayang pada diri.'

Slamet menyadarkan saya, ketika dia bertanya: "Sudah seberapa sayang kah kita pada diri kita sendiri? Pernahkah kita menyadari organ-organ tubuh kita, yang sudah bekerja sejak sebelum kita lahir, sering kita abaikan?"

Saya teringat allahyarham mendiang isteri saya, yang pada fase-fase akhir hayatnya, mengingatkan kami tentang proses pelemahan organ tubuh kita. Secara gradual, allahyarham mengingatkan, pertahanan hidupnya yang terus melemah, karena fungsi organ-organ di dalam tubuh yang terus surut dan akhirnya tak berfungsi sama sekali.

"Aku masih bisa bertahan hari ini, karena jantungku masih berfungsi, paru-paruku masih berfungsi, otakku masih berfungsi. Tapi, aku terkulai sekarang, karena organ-organ lain sudah tak berfungsi," ujar mendiang isteri saya, suatu malam, sepekan sebelum datang ajalnya.

Saya coba praktikan apa yang dilakukan Hughes dan mengikuti nasihan Pak Zaenal. Saya juga mempraktikan apa yang disampaikan Slamet Rahardjo. Meminta maaf pada jantung, paru-paru, ginjal, hati, dan otak yang selalu saya tuntut untuk bekerja, tapi kurang saya pedulikan, dengan mengonsumsi apa saja (walaupun yang halal menurut ajaran agama), sejak muda. Alhamdulillah, secara berangsur-angsur banyak keluhan yang saya sering lakukan selama ini, perlahan-lahan berkurang.

Sejak tiga pekan lalu, berat badan juga berangsur turun. Sumbatan-sumbatan yang sangat mengganggu pernafasan saya, detak jantung saya, dan berbagai rasa sakit di kepala dan bagian tubuh saya lainnya, berkurang.

Saya tak lagi mudah kecewa dan sakit hati dengan siapapun. Saya terima saja realitas hidup sebagai suatu cobaan yang mesti saya jawab dengan ikhtiar. Berfikir positif tanpa kesal dan marah ternyata menyenangkan. Hidup lebih ringan dan bahagia. Ikhtiar lebih bermakna. Kerja lebih kreatif. Pikiran lebih segar.

Satu-satunya 'dendam' saya kini adalah 'menabung kebajikan,' dan menyadari, bahwa hidup itu berbatas. Semua yang kita punya, hanya titipan. Spirit hidup saya kini adalah, bagaimana mempunyai manfaat luas bagi orang banyak.

Senang ketika teman, sahabat, dan kerabat senang. Ikut membantu mereka yang sedang dirundung lara dan duka untuk segera 'move on.' Selebihnya adalah menghindari dan mencegah rumors (ghibah), hoax (buhtan), apalagi fitnah (fithan).

Hughes, Pak Zaenal, Slamet Rahardjo, dan tentu allahyarham isteri saya jadi cermin bening untuk hidup sehat. |

 

Editor : Web Administrator
 
Budaya
03 Apr 20, 13:47 WIB | Dilihat : 28
Menghidupkan Kecerdasan Lokal
22 Mar 20, 10:39 WIB | Dilihat : 283
Jarak Budaya - Jarak Sosial dan Paradoks Kemanusiaan
28 Jan 20, 09:32 WIB | Dilihat : 324
Saatnya Geli dan Terbahak
28 Okt 19, 11:57 WIB | Dilihat : 634
Sumpah (Serapah) Pemuda
Selanjutnya
Humaniora
01 Apr 20, 08:04 WIB | Dilihat : 84
Humbling Experience for Mankind
31 Mar 20, 09:58 WIB | Dilihat : 140
Melawan Covid 19 dengan COVID
27 Mar 20, 20:20 WIB | Dilihat : 141
Forhati Peduli Ojol
26 Mar 20, 16:11 WIB | Dilihat : 234
Anies Siapkan Hotel untuk Rehat Petugas Kesehatan
Selanjutnya