Cermin dari Ciswoto dan Evie Tyas

| dilihat 535

SèmHaèsy

Sabtu, 6 Juli 2019, siang. Pelataran Gayatri Spa di bilangan Duren Tiga Barat, Jakarta Selatan semarak. Sejumlah mantan petinggi dan karyawan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) sejak berdiri, sampai stasiun televisi itu 'disirnakan' dari jagat pertelevisian Indonesia, hadir di situ.

Sejumlah mantan karyawan dan karyawati, antara lain Gayatri, Edy Suprianto, Dwiandriati, dan kawan-kawan menginisiasi 'halal bil halal' yang kemudian berkembang menjadi temu kangen antar insan TPI.

Saya senang dan mengucap tabek untuk mereka. Saya menyediakan waktu khas untuk datang ke perhelatan yang baru terjadi selama lebih 24 tahun, sejak saya tak lagi di stasiun televisi yang digagas Sitti Hardiyanti Rukmana (SHR), itu.

Silaturahmi adalah salah satu cara merentang masa untuk mempertemukan hari lalu, hari ini, dan hari esok -- yang barangkali tak kan terkunjungi. Hadir juga Eko Patrio yang kini berpolitik di Partai Amanat Nasional, pun Ikke Nurjanah - penyanyi yang sedang fokus menggerakkan ide cemerlangnya, Sekolah Dangdut. Tampak juga Mark Sungkar, aktor yang kini sibuk mengurusi pertanian, dan sempat berkiprah di bidang program pada masa saya masih bekerja di sana.

Sejumlah mantan karyawan yang bekerja di berbagai lapangan kehidupan, khasnya siaran televisi, hadir di situ. Hanya mereka yang sedang menjadi petinggi di MNCtv yang tak nampak hadir, karena kesibukan mereka masing-masing. Maklum, acara ini macam sambal, 'dadakan.'

Suasananya saya suka. Guyub. Jembar. Sumringah. Pun, seronok (meriah).

Tanpa mengecilkan makna yang lain, begitu masuk arena, dua sosok saya cari: Ciswoto dan Evie Tyas.

Pada masa saya kerja di TPI, saya punya dua CEO. Pertama, tentu SHR - Direktur Utama PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (CTPI) yang sangat care terhadap kreativitas karyawan - karyawati, dan tak pernah luput mengapresiasi kinerja. Pada SHR, tentu CEO bermakna chief executive officer; Kedua, Ciswoto yang padanya saya tabalkan juga sebutan CEO, chief executive officeboy.

Akan halnya Evie Tyas adalah sekretaris yang selama lebih tiga tahun menemani saya kerja dan mengolah daya kreatif saya di tengah keterbatasan, sehingga mampu banyak menyerap aspirasi dan inspirasi dari karyawan. Khasnya untuk memicu dan memacu perkembangan dan pengayaan programa siaran, tanpa kehilangan dimensi asasinya: budaya dan nilai siaran, pencerahan bagi khalayak. Bukan sekadar tv rating.

Saya belajar dari Ciswoto, ihwal bagaimana 'melayani,' dan memaknai hakikat, bahwa melayani itu mulya. Selain itu, tentu disiplin dan konsistensi pada komitmen kerja. Selain itu, adalah keberanian hidup. Mengolah daya fikirnya mengatasi persoalan hidup dan kehidupan. Dan, yang sangat tak bisa saya lupa: menempatkan posisi diri secara fungsional.

Bila tak bekerja hingga larut, saya kerap ajak Ciswoto pulang bersama, dan mengantarnya ke rumah kontrakan yang hanya setelempap sampai kemudian dia ambil kontrakan tak begitu jauh dari kantor TPI di Jalan Pintu II Taman Mini Indonesia Indah (TMII) - Pondok Gede.

Dari Ciswoto saya belajar mengenali need, want, dan interest khalayak amah - masyarakat luas tentang keperluan sajian tontonan. Menyerap relasi minat atas konten siaran dengan format siaran televisi yang diperlukan, sehingga mempunyai kekariban khas.

Dengan pendekatan ini, saya mengajak programer menjaga sejumlah programa siaran: Dasi Bolong (Dangdut Siang Bolong), Balada Dangdut, Kuis Dangdut, Kabayan Orang Beken, Pepesan Kosong, Mat Angin, Film India, Kuliah Subuh, Ngelaba Patrio, Madu Racun dan Anak Singkong, dan beragam programa unggulan lain dengan sentuhan etnografi.

Realitas pertama kehidupan Ciswoto sehari-hari menginspirasi beberapa gagasan untuk melihat programa, seperti dangdut dengan dimensi lain. Tak berhenti hanya dari sudut pandang musikal dan hiburan semata. Jauh dari itu, juga pertimbangan psikososial melihat realitas dangdut, terutama melalui programa siaran live, sebagai katarsis.

Dari Ciswoto pula saya beroleh beragam inspirasi baru tentang transorientasi pemasaran, dari product centric ke costumer centric. Belakangan, konsep ini saya pergunakan dalam berkontibusi pada proses transformasi di industri lain.

Ciswoto, meski tak seluruhnya, merupakan satu sumber inspirasi untuk melihat programa siaran televisi dengan orientasi: menempatkan khalayak sasaran, pemirsa sebagai subyek (aktif) dan bukan obyek (konsumen media pasif), karena sesungguhnya khalayaklah yang sangat menentukan dalam perspektif industrial siaran televisi.

Evie Tyas, saya jumpai sudah mengenakan hijab (ketika menemani saya, berambut kribo) dengan dua anak yang sedang tumbuh sebagai bagian dari generasi milenial dan berprofesi khas: pramugari dan penyelia K3 (keamanan dan kesehatan kerja). Ia memilih jalan sebagai ibu sepenuhnya dan bekerja mandiri urusan properti (perumahan rakyat).

Ketika menemani saya sebagai sekretaris, dia terbilang sekretaris yang berwatak tegas (dalam bersikap) tanpa kehilangan adab dan kehangatan dalam berkomunikasi. Nalar dan nalurinya bergerak seimbang dalam menyerap informasi, sehingga setiap notulasi yang dibuatnya terkait dengan gagasan, konsep, dan policy design terjaga secara proporsional.

Wataknya yang tegas dan keberaniannya memilih alternatif untuk menempa diri, mendasari keputusannya untuk resign.

Darinya saya belajar tentang berkeyakinan untuk tidak menempatkan harapan hidup pada posisi kerja. Melainkan pada bagaimana kerja harus dilakukan dan di lapangan kerja apa pun.

Di tengah semarak acara halal bil halal, di hadapan kedua anaknya dia bercerita tentang komitmennya untuk memanifestasikan prinsip, al umm madrasat al ula' - ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sikap ini yang memilihnya berkonsentrasi mengurus anak. Pun sikap diri sebagai istri yang menjalankan fungsi managerial rumah tangga, tak sekadar mitra suami.

Dari senyum, serta mata Ciswoto dan Evie yang berkaca-kaca, saya peroleh pelajaran untuk mengenali lebih jauh hakikat diri sebagai pribadi yang diniatkan mewujudkan hairunnaas anfa'uhum lin naas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak manusia lain. Hmm.. keduanya memberi saya cermin hari tua..

Saya bangga pernah berkarya bersama, mengolah daya kreatif.  |

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
07 Jul 19, 18:14 WIB | Dilihat : 914
Jakarta Pantas Terima Penghargaan Kota Terbaik Dunia
28 Jun 19, 14:02 WIB | Dilihat : 1456
Nasib Rakyat Tidak Ditentukan di Bilik Suara
28 Jun 19, 11:03 WIB | Dilihat : 1448
Sofhian Mile : Selamatkan Bangsa, Utamakan Rakyat
27 Jun 19, 22:41 WIB | Dilihat : 1371
ISWAMI Sinergi Tunggal Jurnalis Malaysia - Indonesia
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 696
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 886
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 233
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 377
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya