Bu Aisyah Guru dan Ibu Kami

| dilihat 614

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy untuk Hari Guru

SALAH satu nilai yang ditinggalkan orangtua dalam kehidupan saya, adalah memelihara akhlak, termasuk menempatkan guru sebagai orangtua. Perjalanan hidup saya, tak bisa dilepaskan oleh seorang guru yang juga adalah ibuku. Terutama, sejak kedua orangtua mewanti-wanti dan menyerahkan proses pendidikan menengah saya pada guru saya.

Karena dinilai amat nakal kala belia, ayah dan ibu saya memutuskan, memasukkan saya ke SMA 3 Muhammadiyah – Jakarta di Kebayoran Baru, untuk melanjutkan studi. Ada beberapa orang guru, yang memperlakukan kami sebagai anaknya sendiri. Antara lain : Almarhum M. Yusuf Nazar yang menerapkan model pendidikan a la Manchester, almarhumah Ibu Yusuf Nazar yang telaten menggunakan metode ‘senang berbahasa Inggris,’ dan menempatkan grammer sebagai marka, almarhumah Ibu Enny Hamid yang mendidik kami bahasa Jerman sesuai dengan logika orang Jerman.

Selain itu adalah almarhumah Ibu Sitti Hajar (yang mengajar tentang Fiqih), almarhum Bapak Bustami Sayuti yang acapkali memberi pelajaran tentang Sejarah Islam, membawa seluruh murid masuk ke dalam peristiwa historis dengan gineakologi dan latarbelakang beragam peristiwa sejarah, almarhum Bapak Ihsan Ismail yang mengajar Bahasa Arab dan Al Qur’an lengkap dengan nahwu, sharaf, mantiq, dan bayan.

Kemudian Ibu Aisyah Salamun, guru bahasa dan sastra Indonesia yang memandu seluruh siswa menyerap nilai dan proses kreatif di balik karya-karya sastra dan pujangga dari era pujangga lama, pujangga baru, sampai era modern. Termasuk melatih metode menulis. Tak terkecuali, almarhum Bapak Afisham Sani – yang setiap memberi pelajaran Civic, membuka wawasan tentang pluralisme dan multikulturalisme (terakhir beliau wafat di Los Angeles dan menjadi warganegara Amerika Serikat).

Kesemua guru yang mendidik kami, menggunakan prinsip pendidikan berbasis karakter dan egaliterianisma, dan membuka wawasan para siswa untuk melihat realoitas kehidupan sosial secara jernih, dan progressif. Titik beratnya pada disiplin, termasuk dalam memprektikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Angkatan kami, relatif merupakan angkatan belia yang relatif kritis (antara lain: Joko Santoso HP – creative director periklanan, pencipta logo Partai Amanat Nasional yang sempat menjadi anggota parlemen). Sebagian terbesar yang dihimpun di kelas kami, adalah belia nakal, kritis, dan ketika itu dipandang berfikir out of the box (di antaranya, ketika mahasiswa menjadi aktivis kampus dan kini menikmati masa pensiun dengan beragam pencapaian sebagai eksekutif). Suatu ketika, tak ada guru yang mau menerima jabatan sebagai wali kelas kami.

Dalam situasi demikian, tampillah seorang ibu yang lembut, tapi disiplin, dan adil memberikan reward dan punishment kepada siapa saja yang melanggar aturan dan disiplin sekolah. Termasuk dalam berbusana resmi. Guru itu, Ibu Aisyah Salamun.

Guru yang di masa itu, awal dekade 70-an telah mempraktikan prinsip pendidikan watak berbasis akhlak dan menempa para siswanya menjadi manusia dengan kemampuan mengelola kemerdekaan sejati (bebas dan tahu batas kebebasan). Bu Aisyah tak hanya seorang guru, beliau pendidik sejati yang memperlakukan siswa, bukan sebagai obyek, melainkan subyek yang harus kreatif dan inovatif, serta tak pernah takut berfikir, bersikap, dan bertindak tepat.

Pada saatnya kami harus bertindak, beliau tak segan memberi sanksi, sebaliknya beliau pun tak pelit memberikan apresiasi. Bagi saya dan beberapa teman lain, Bu Aisyah seorang pemandu hidup, yang memberi arah jalan, ketika kami sedang menghadapi banyak persoalan masa belia, mulai dari soal percintaan belia, sampai friksi di dalam keluarga (sehingga beberapa di antara kami memilih jalan meninggalkan rumah dan kos).

Almarhumah ibu menyerahkan penuh saya kepada beliau. “Ibu yang merawat, mengasuh dan mendidikmu sejak di dalam kandungan dan melahirkanmu. Bu Aisyah, memang tidak mengalami hal yang sama dengan ibu secara fisik, tapi beliau ‘melahirkanmu’ menjadi manusia yang kami harapkan. Jangan pernah melupakannya,” ujar almarhumah ibu, yang tak pernah saya lupa hingga entah bila.

Ibu kandung saya dan Bu Aisyah, senantiasa berkolaborasi, bahkan ketika saya merantau jauh, hingga lebih 10 tahun, sampai akhirnya pulang dan hendak menikah. “Konsultasikan dengan Bu Aisyah, bawa calon isterimu kepadanya,” tutur Ibu. Dan, beliau beroleh tempat khas di tengah keluarga ketika saya menikah, karena kedua orang-tua saya selalu menyebut beliau, “Ibunya Sem..”

Ketika ibu saya wafat, Bu Aisyah otomatis menjadi satu-satunya ibu yang mengawal kehidupan saya dalam keadaan apapun. Beliau orang pertama, yang sampai hari ini, tak pernah lelah mengkritisi berbagai pemikiran saya. Baik yang terekspresikan dalam beragam tulisan, buku, wawancara, dan berbagai karya audiovisual.

Bu Aisyah juga yang pertama kali hadir dalam kehidupan saya, ketika saya menghadapi beragam masalah. “Ketika kamu kesulitan, segera datang pada ibu. Mari kita diskusi menemukan cara keluar dari masalah itu,”begitu Bu Aisyah selalu mengatakan. Beliau juga yang pertama akan memasakkan masakan kesukaan saya, acapkala saya sakit.

Beliau yang memberitahu isteri saya, apa yang harus dilakukan ketika saya sedang menghadapi masalah atau sakit. Bahkan, beliau juga, sampai kini, sebagai seorang yang dikunjungi pertama oleh isteri dan anak-anak saya setiapkali ada masalah. Meskipun tak pernah sekalipun beliau memasuki wilayah rumah tangga kami.

Bu Aisyah juga yang telaten memberikan motivasi kepada isteri saya ketika sakit sehingga wafat, dan mengunjungi makamnya, setiapkali usai jalan sehat sekali sepekan (karena makam isteri saya tak jauh dari kediaman beliau).

Berkali-kali, Bu Aisyah mengekspresikan rasa bangga melihat saya dan teman-teman terus bertumbuh dan berkiprah di tengah masyarakat. Beliau terharu dan bahagia, ketika kami, belakangan hari memilih jalan seperti yang dilakukannya: mendidik, dengan menjadi dosen, motivator, dan instruktur dalam berbagai pelatihan.

“Menjadi guru, bukan hanya berkutat pada urusan didaktis pengajaran dan pedagogis, menjadi guru adalah konsistensi pada tugas utama, memandu jalan siswa menjadi pribadi manusia yang berdaulat, kreatif, visioner dan bertanggungjawab,” begitu ibu sering menyatakan pada kami.

Dan di hari tuanya, Bu Aisyah yang masih nampak bugar dan nyaris tak tampak tua, selalu bangga kepada semua anak didiknya. “Ibu bahagia, karena kini mempunyai banyak menantu, cucu, dan cicit melalui kalian, sehingga hari tua ibu tak pernah sepi,”ujarnya setiapkali saya kunjungi.

Beberapa bulan lalu, ketika seorang teman, Joko Santoso meluncurkan bukunya, Bu Aisyah mendapatkan beberapa ‘hadiah’ dari murid-muridnya. Beliau terharu. Tapi, tetap kritis.

“Ibu percaya, kalian berada di jalan yang benar dan tepat, beroleh semua yang kalian punya di jalan halal. Jadilah manusia merdeka, besar dengan cara yang benar. Ibu berdo’a, tidak satupun kalin terkecoh fatamorgana kuasa dan harta,” ujarnya. Matanya berkaca – kaca, sambil memeluk murid-muridnya.

“Amalkan dan tebarkan ilmu kamu di negerimu sendiri, meski penghargaan yang kamu dapatkan, tak setara dengan apa yang kamu dapat di negeri orang. Menetaplah di negerimu sendiri,”bisik Bu Aisyah, ketika memeluk dan mengusap kepala saya, seperti yang selalu beliau lakukan acap bertemu..

Bu Aisyah, guru kami, suluh kehidupan saya.. ! |

Editor : sem haesy
 
Ekonomi & Bisnis
01 Nov 17, 17:04 WIB | Dilihat : 1085
Jalan Panjang Pengaturan Transportasi Online di Indonesia
06 Okt 17, 14:55 WIB | Dilihat : 1192
Sistem dan Keunggulan
16 Jan 17, 22:32 WIB | Dilihat : 801
Samsung Dililit Krisis Lagi
08 Jan 17, 12:51 WIB | Dilihat : 497
Pramugari Vera dan Kemuliaan Melayani
Selanjutnya
Budaya
11 Des 17, 13:07 WIB | Dilihat : 151
Museum MACAN Katarsis Menyegarkan Bagi Jakarta
17 Nov 17, 06:56 WIB | Dilihat : 532
Masjid Raya Al Mashun Sisa Digjaya Kesultanan Deli
21 Okt 17, 09:27 WIB | Dilihat : 1131
Ruh Budaya Betawi dalam Lukisan Sarnadi Adam
06 Okt 17, 17:21 WIB | Dilihat : 1529
Choreopainting Revki dan Daya Magis Biola
Selanjutnya