BJ Habibie Cermin Besar Kebangsaan

| dilihat 950

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Baharuddin Jusuf Habibie tak hanya sesosok manusia Indonesia yang hebat dan sempat menjabat Presiden Republik Indonesia. Pelopor sains dan teknologi yang mengangkat harkat dan muru'ah bangsa Indonesia dengan produksi pesawat terbang.

Baharuddin Jusuf Habibie tak hanya sesosok manusia Indonesia yang dalam situasi amat kritis, menyelamatkan Republik Indonesia dengan membuka ruang demokrasi dan kebebasan pers yang tak pernah dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya.

Baharuddin Jusuf Habibie tak hanya sesosok manusia Indonesia meninggalkan legacy kebangsaan dan kenegarawanan dan keteladanan seorang insan dalam memelihara dan merawat cinta abadi kepada istrinya, hingga maut memisahkannya.

Baharuddin Jusuf Habibie sosok teladan, cermin besar seorang manusia Indonesia yang sungguh mencintai negeri dan bangsanya, dan kemudian 'dilecehkan' oleh sekelompok anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Sidang Umum yang menolak laporan pertanggungjawaban dirinya sebagai Presiden. Dan.. ironi itu terjadi justru selepas ia membuka ruang kebebasan berpendapat untuk dan atas nama reformasi.

Lantas, kita tak mampu merawat reformasi itu dan membiarkannya berubah menjadi deformasi.

Sangat banyak cerita pengalaman pribadi berbagai kalangan dengan sosok hebat tiada tanding dan tiada banding, ini serta segala pujian yang menyertai kepulangannya ke haribaan Ilahi, Selasa: 11 September 2019.

Bagi saya, seorang rakyat dari sebuah bangsa bernama Indonesia, Baharuddin Jusuf Habibie sengaja dicipta Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang kepergiannya meninggalkan cermin besar untuk kita mengenali diri, seraya bertanya: who am I?

Terlalu banyak prestasi dan kebajikan yang beliau tinggalkan.

Kita tak kan pernah sanggup membayangkan kepedihan dan kesedihan yang dialaminya, ketika menyaksikan seluruh kerja keras yang dilakukannya, dipatahkan dan dinihilkan oleh sebuah perjanjian dengan International Monetery Fund (IMF), di balik sedekap Michael Camdesus yang pongah. Ketika pabrik pesawat terbang Indonesia, Nurtanio lantak, dan berubah menjadi PT Dirgantara Indonesia yang memerlukan waktu lama untuk menggeliat lagi.

Habibienomic yang mencuat kemudian dengan strategi penurunan bunga Bank Indonesia yang jitu, bahkan tidak bisa menyelamatkan cita-citanya menjadi kenyataan.

Pemikirannya yang dahsyat tentang perubahan paradigma sumberdaya manusia menjadi modal insan (baik dalam konteks human capital dan human investment), lebih banyak hanya menjadi bual-bualan retorika.

Pun prinsip dasar politik ekonomi dalam konteks penguasaan dan pengelolaan sumberdaya alam sebagai bagian dari manifestasi kedaulatan politik negara, kemandirian ekonomi, dan peradaban mulia.

Baharuddin Jusuf Habibie memperkenalkan kita tentang hi tech yang menjadi tonggak realisme untuk bangkit menjadi bangsa yang sungguh besar dan berjaya. Setarikan nafas, juga menebar kesadaran kebangsaan ihwal dimensi keimanan dan ketaqwaan sebagai ciri hidup insaniah bangsa ini.

Baharuddin Jusuf Habibie berada di balik pelancaran satelit di jagad Indonesia yang diperuntukan bagi pemerataan dan keadilan pendidikan, dan sebagai salah mulakalam pemajuan bangsa sebagai salah satu sentra peradaban dunia.

Kita belum sanggup mengejar lompatan pemikirannya yang melesat jauh ke zaman yang tak kan pernah dikunjungi dan dialaminya. Sampai beliau menghembuskan nafas terakhir, kita belum mampu menyetop ghibah (rumors), buhtan (hoax) dan fitan (fitnah) menjadi bagian dari kehidupan sosial politik. Padahal, berulang kali, beliau memberi contoh bagaimana melakukan verifikasi sumber informasi dan konfirmasi konten informasi itu. Beliau memberi kita ruang untuk 'menguji kebenaran,' untuk memperoleh kebenaran yang nyata.

Kita belum paham dan tak pernah akan mengerti, bagaimana beliau membebaskan seluruh tahanan politik dengan argumen jelas, politisi di alam demokrasi buka. harus dijerat untuk dimasukkan ke dalam penjara. Melainkan harus diajak ke forum diskusi dan perdebatan dalam prinsip: menyatukan segala persamaan dan menghormati perbedaan.

Baharuddin Jusuf Habibie adalah cermin besar bagi setiap kita untuk mengenali, siapa kita sesungguhnya. Sudahkah kita telah menjalani cara dan mengenali ciri menjadi sungguh Indonesia?

Dari begitu banyak referensi yang bisa kita pelajari tentang pribadinya dan komitmen kebangsaannya, saya meyakini, beliau adalah cermin kebangsaan bagi siapa saja yang sungguh hendak menjadi negarawan, dan sungguh hendak menemukan cara menjawab pertanyaan: how to be a good citizenship.

Beliau cermin kejujuran dan keterbukaan di zaman post trust, ketika kejujuran dan keterbukaan hanyalah kitsch. Beliau memberikan teladan bagaimana sungguh menjadi intelektual tanpa terjebak intelektualisma, menjadi politisi negarawan tanpa terseret politicking, Beliau mengajarkan kita bagaimana bersikap tahu diri dan lapang dada, bijak dalam melihat realitas.

Bagi saya pribadi, beliau adalah sosok putera Indonesia yang sungguh nyata sebagai bukti kebenaran firman Ilahi: khairunnaas anfa'uhum lin naas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia. Bukan lantaran beliau lama menjabat menteri dan kemudian menjadi Wakil Presiden dan Presiden. Melainkan karena beliau, saya yakini telah sampai pada puncak kualifikasi dan kualitas sebagai insan kamil, insan mulia. Justru, ketika beliau menjadi sesosok insan yang runduk dan tunduk hanya oleh kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Al Khaliq memanggilnya pulang. InsyaAllah husnul khatimah. Kita kehilangan teladan, dan mudah-mudahan, cermin besar kebangsaan yang ditinggalkannya, ketika kita menghantar jenazahnya ke dalam pelukan ibu pertiwi, sungguh akan menghidupkan kembali kesadaran kolektif kita sebagai bangsa. Khasnya, untuk sungguh menjadi insan dan menjadi Indonesia.

Selamat jalan Bapak Demokrasi Indonesia..|

Editor : Web Administrator | Sumber : foto indonesiainside