Berkunjung ke Masa Lampau via Melaka

| dilihat 253

Nota Renjana Bang Sèm

Satu di antara sedikit kota di Asia yang paling sering saya kunjungi adalah Melaka. Setiap kali tiba di Malaysia,  selalu besar hasrat untuk berkunjung ke Melaka.

Saya menyebut Melaka sebagai kota sekaligus pintu gerbang yang tepat untuk berkunjung ke masa lampau. Khasnya untuk mencari tahu, apa hal kehebatan bangsa Melayu di masa lampau, dan apa pula faktor yang melemahkannya kemudian.

Untuk kepentingan itu, sejak lama, saya mencari tahu hal ihwal Melaka melalui berbagai perbincangan, termasuk menelusuri aneka sumber informasi. Untuk artikel ini, saya merekam ulang cerita-cerita lisan Cikgu, percakapan antara teman, dan berbagai percakapan di forum seminar atau dialog. Tak terkecuali, forum "Dunia Islam Dunia Melayu."

Pula, berbagai informasi dari berbagai terbitan, buku-buku yang mengulas ihwal ilmu kebijaksanaan Melayu, seperti Tajussalatin. Untuk mengenali sebagian kisah Melaka, siapa saja boleh membaca cermat berbagai buku referensi. Antara lain,  The History of Melacca, Buyong Ali (1974), Sejarah Melayu, yang ditulis oleh W.G Shellabear (1977), Abdul Rahman Haji Ismail dalam susunan Cheah Boon Kheng (1998). Tentu secara kritis, boleh juga membaca sejumlah ensiklopedia terkonfirmasi, seperti Brittanica Encyclopedia atau New World Encyclopedia, dan banyak lagi referensi, sesuai keperluan.

Di lapangan, Sada juga pemandu wisata yang cakap bertutur tentang Melaka, seperti Syaukani. Bagi saya, acap berada di kawasan bekas pelabuhan asal kota ini, selalu teringat cerita Cikgu, pasal Parame?wara dari Sriwijaya - khasnya Palembang - yang bersemangat membangun kerajaan baru, selepas negerinya ditaklukan Majapahit (1377).

Melaka menjadi tujuan Pramèswara, selepas ia hijrah ke Temasek (kini: Singapura). Di pulau itu, dia sempat berfikir hendak membangun pusat pemerintahan Kerajaan Melayu, dengan menaklukkan Temagi, Bupati Temasek - kaki tangan kuasa Raja Siam.  

Parame?wara kemudian, meninggalkan Temasek dan diserang pasukan Majapahit, sehingga terdampar di Muar (Johor). Di Kota Buruk (Biawak Busuk), ia sempat berniat mendirikan kerajaan, namun tak cocok.

Dengan segala siasat, lalu dia pergi ke utara dan tiba di Sening Ujong alias Sungai Ujong, lalu datang ke kampung nelayan Sungai Bertam - yang kini dikenal sebagai Sungai Melaka.

Di muara Sungai Bertam, inilah di penghujung abad ke 14 (1396) ia mendirikan Kerajaan Melaka, yang sepanjang abad ke 15 dan abad ke 16 menjadi pintu masuk (entrepôt) arus perdagangan via Selat Melaka yang makmur dan masyhur.

Masa itu, menurut Syaimak Ismail dan Mohd Taib Dora dari Kolej Universiti Islam Melaka (2017), di Melaka para pedagang dan perantau bercakap dengan 87 jenis bahasa. Tentu 'bahasa ibu' masing-masing. Mereka juga membawa serta tradisi dan budaya masing-masing, yang kemudian terpumpun melalui proses asimilasi dan akulturasi.

Sekita tahun 1403, datanglah armada China dipimpin Laksamana Yin ke Melaka, beserta para pedagang. Kedatangan ini dicatat dalam berbagai referensi,  mengawali kolaborasi dan sinergi Parame?wara dengan Kaisar Ming - China, yang kelak mengerahkan utusannya membantu membangun kota Melaka, yang lantas menjadi kota pelabuhan utama simpul perdagangan antara Asia Tenggara dengan negara - bangsa Arab, Persia, Eropa, India, China, Jawa, Aceh, dan lain-lain.

Melaka setelah itu, berada dalam perlindungan Kaisar Ming dari kemungkinan serangan Siam dan Majapahit. Pada tahun 1405, Kaisar Ming mengirim Laksamana Zheng He -- yang populer juga disebut Laksamana Cheng Ho -- dengan membawa Ma Huan dan Fei Xin dalam ekspedisinya.

Ma Huan dan Fei Xin disebut juga sebagai penulis yang merekam setiap peristiwa dan pengalaman ekspedisi Zheng He. Ma Huan, disebut pula dalam berbagai literatur sebagai seorang 'penjelajah' muslim.

Dalam catatannya, Ma Huan menyebut Melaka sebagai kota mapan yang dilengkapi dengan empat gerbang dan menara pengawas, serta diperkuat oleh benteng - benteng yang melindungi sentra-sentra pedagang dengan gudang - gudangnya, sentra keuangan, dan gudang logistik.

Sebagai kota, Melaka terus tumbuh. Sungai Melaka menjadi jalur transportasi dari muara ke pusat kegiatan perniagaan kota. Kaisar Ming mengirimkan para ahli teknik untuk membangun sentra-sentra komersial pada awal abad ke 15. Kemudian membantu Parameswara mengembangkan kota ini, sekaligus membebaskannya dari rantai pengaruh dan kuasa Raja Siam. Sekaligus menguatkan Melaka sebagai suatu negara berdaulat di bawah 'asuhan'-nya.

Kaisar Ming yang berkuasa di China, mengambil manfaat dan menancapkan 'kuku kekuasaannya' di Selat Melaka, yang -- antara lain -- disimbolkan dengan lempengan batu dari daratan China, yang dibawa Zheng He -- dan kemudian menghiasi Gunung Barat, Melaka.

Di masa ini, orang-orang China yang dibawa-serta dalam armada Zheng He (dan armada-armada ekspedisi kemudian),  juga mendirikan sentra-sentra kuasa sebagai kantor administratur pemerintah dan pasukan, sebagai benteng pertahanan sekaligus melindungi para pedagang mereka.

Aksi kuasa Kaisar Ming di Melaka, memang mencegah Siam menyerang Melaka, tentu dengan imbalan. Pramèswara dan kerajaan Melaka, mesti membayar upeti secara langsung kepada Kaisar Ming, sejak 1411. Melaka menjadi simpul perdagangan dengan dunia yang ramai. Pedagang-pedagang China memainkan role penting dan strategis.

Pramèswara melakukan konsolidasi dan melakukan penguatan atas pemerintahannya. Ia memanfaatkan dengan baik hubungannya dengan para petinggi dari Kaisar Ming, sekaligus membuka relasi ke berbagai kerajaan yang berkuasa di sekitarnya. Terutama Aceh.

Pengaruh pedagang dari Arab dan Persia (muslim), dan interaksinya dengan Ma Huan membuat Prameswara tertarik dengan Islam. Namun, ia menjadi muslim, kemudian. Keislamannya kian nyata, sejak ia menikah dengan putri dari Sultan Pasai, Malik us Saleh - Aceh.

Pramèswara mengubah namanya menjadi Sultan Iskandar Syah, yang sekaligus menunjukkan, kuatnya pengaruh Islam yang dibawa pedagang Persia, katimbang Arab.

Melaka kemudian menjadi kesultanan Islam, dan Sultan Iskandar Syah, mengubah sistem pemerintahannya, yang tak lagi sepenuhnya mengacu pada kasta. Meski berbentuk kerajaan, egaliterianisma dan kosmopolitanisma yang telah membentuk kepribadiannya tetap mengemuka.

Akan halnya dalam sistem politik pemerintahannya, Sultan Iskandarsyah mengenal asas musyawarah dengan institusi syura (legislatif) dan mahkamah (yudikatif).

Sistem kesultanan Islam yang ditegakkan Sultan Iskandarsyah, memperhatikan pengendalian kekuasaannya dalam hal menerapkan hukum dan keadilan, melalui proses di pengadilan, sesuai dengan prinsip syariah. Termasuk perlindungan adil bagi penduduk non muslim. Karenanya, penduduk yang menganut agama lain (khasnya Hindu dan Budha) tetap aman dan nyaman menjalankan keyakinannya.

Kosmopolitanisma ini juga yang menjadi salah satu faktor kemajuan Melaka di masanya, sampai Sultan Iskandarsyah wafat (1414). Sultan melakukan distribusi kewenangan administratif dengan beberapa petinggi kerajaan, yang biasa disebut sebagai Datuk Bendahara, Datuk Tumenggung, Admiral, Datuk Penghulu Bendahari, dan Datuk Syahbandar.

Urusan pertahanan negara, keamanan dalam negeri, dan hubungan luar negeri ditangani sendiri oleh Sultan. Termasuk mengarahkan langsung petinggi yang diberikan amanah sebagai kepala urusan agama Islam yang merupakan simbol identitas kedaulatan negara dan Sultan.

Tata kehidupan sosial berdasarkan syari'ah dan qanun (undang-undang) diberlakukan dan dilaksanakan, selain oleh para petinggi tersebut, juga oleh pemimpin otonomi di tingkat distrik - termasuk Kepala Kampung - dengan para pembantunya yang mengurusi urusan agama, politik, ekonomi, dan kesejahteraan sosial berbasis keluarga.

Datuk Bendahara menjalankan fungsi sebagai  penasehat kesultanan terkait dengan urusan negara dan daerah jajahan. Datuk Bendahara merupakan orang kedua setelah Kesultanan dalam urusan pemerintahan negara.

Datuk Temenggung memimpin angkatan bersenjata dan bertindak sebagai kepala polisi negara yang mengurus urusan keamanan dalam dan luar negeri.

Datuk Laksamana memimpoin angkatan laut dan armada pertahanan yang mengelola urusan kelautan dan keamanan samudera. Ia juga bertanggung jawab menjaga setiap pelabuhan dan dermaga di negara bagian dari serangan bajak laut atau dari negara tetangga.

Datuk Penghulu Bendahari,  bertugas mengelola keuangan dan perbendaharaan negara. Ia bertanggung jawab untuk mengumpulkan pajak domestik dan mendanai semua pengeluaran pemerintah di setiap urusan.

Selaras dengan itu, Datuk Syahbandar bertugas memungut retribusi non dalam negeri, berupa pajak di pelabuhan dan pendaratan dari luar negeri. Ia juga yang bertugas mengatur lalu lintas di kawasan pelabuhan dan pedagang yang ingin datang melakukan transaksi terkait pelabuhan dan pendaratan barang. Alhasil, Datuk Syahbandar yang mengatur, apa yang harus diperoleh negara sebelum diserahkan kepada Kesultanan.

Selepas Sultan Iskandarsyah mangkat, Melaka terus berkembang dan semakin maju sebagai hub port bagi perdagangan internasional. Sekaligus sebagai bandar pusat transaksi rempah Ternate, Tidore, Makassar, Banten, dan lain-lain. |

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 444
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2235
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Humaniora
10 Sep 22, 12:45 WIB | Dilihat : 160
WSI Bergerak Tanpa Lelah Menjawab Tantangan Zaman
09 Sep 22, 08:23 WIB | Dilihat : 77
Pemimpin versus Penguasa
Selanjutnya