Bercermin dari Pahlawan

| dilihat 630

KAMIS, 9 Nopember 2017, di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh perjuang nasional.  Masing-masing : Almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Nusa Tenggara Barat, Almarhumah Laksamana Malahayati dari Aceh, Almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepulauan Riau, dan Almarhum Prof. Drs. H. Lafran Pane dari Jogjakarta.

Pemberian gelar itu berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, tanggal 6 November 2017. Nama-nama tokoh yang beroleh gelar Pahlawan Nasional, itu ditetapkan dalam sidang III Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan tanggal 19 Oktober 2017 sesuai usulan dari Kementerian Sosial.

Berdasarkan UU No 20 Tahun 2009 Pasal 26 tentang syarat khusus untuk gelar diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya, salah satunya adalah pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketika bangsa sedang nyaris kehilangan keteladanan dan sekaligus nyaris kehilangan energi keikhlasan dalam proses perubahan, pemberian gelar semacam itu, boleh jadi penting. Khasnya untuk mengingatkan kembali seluruh anak-anak bangsa untuk tetap memelihara nilai perjuangan dan kejuangan berbasis keikhlasan berkorban untuk bangsa dan negara.

Agak klise memang. Apalagi, ketika praktik kebangsaan dan kenegaraan sehari-hari lebih didominasi oleh pragmatisme, dan di lapangan politik, bahkan diwarnai kuat oleh  politik transaksional yang berakibat pada meruyaknya berbagai persoalan asasi di tengah dinamika kehidupan bangsa sehari-hari.

Boleh jadi, para penerima gelar Pahlawan Nasional, itu – bila masih hidup – tak memerlukan penganugerahan semacam itu, tapi negara memang sepatut dan selayaknya memberikan penghargaan. Paling tidak, sebagai penanda, bahwa  negara yang dikelola generasi penerus perjuangan mereka, memang masih memelihara nilai kebaikan : menghormati para pejuang dan pahlawannya.

Setiap tahun, acapkali memperingati Hari Pahlawan dengan berbagai upacara, selalu saja mengemuka beragam kisah dan cerita para pejuang penerima anugerah itu. Kisah-kisah dan cerita semacam itu, diharapkan memberi dampak positif di setiap lingkungan, di mana para pahlawan berkiprah menunjukkan darma baktinya kepada nusa, bangsa dan negara. Meskipun pahlawan hati yang sesungguhnya selalu ada dalam kehidupan sehari-hari.

Ibu atau ayah yang berjuang mendidik dan mengasuh anak-anaknya, sehingga mampu berkiprah dan mempunyai makna besar dalam perubahan baik keluarga, masyarakat, negara, dan bangsa adalah pahlawan hati yang sesungguhnya. Pun, demikian dengan anak-anak yatim piatu yang sejak usia dini sudah harus menanggung beban kehidupan yang berat, serta mengatasi berbagai persoalan yang belum sepatutnya mereka terima.

Dari para penerima gelar pahlawan nasional – yang sungguh jauh lebih bermakna katimbang ribuan anugerah dalam beragam bentuk – kita dapat mengulangkaji dan melakukan introspeksi diri. Bercermin diri. Sungguhkah setiap kita telah berkontribusi baik kepada masyarakat, negara, dan bangsa, sebagai manusia yang diberikan nalar, naluri, perasaan, dria oleh Allah Mahapencipta.

Dari para pahlawan kita dapat belajar banyak tentang bagaimana berbuat ikhlas dan sungguh berkontribusi kebaikan dan kebajikan bagi kemajuan dan perubahan baik bangsa ini. Bukan justru sebaliknya. Karenanya, peringatan Hari Pahlawan, selain dihiasi dengan pemberian anugerah kepada para pahlawan, semestinya juga dibarengi secara paralel dengan eksekusi tindakan tegas negara terhadap para penghianat bangsa.

Para koruptor dan perampas hak-hak rakyat, misalnya mesti dinyatakan sebagai penghianat bangsa. Siapapun mereka. Tindakan yang mereka lakukan, berlawanan secara diametral dengan keikhlasan berbuat baik dan berkorban para pejuang dan pahlawan kepada masyarakat, negara, dan bangsa ini.

Dari para pahlawan penerima anugerah gelar Pahlawan Nasional, kita perlu bercermin diri dan belajar kebaikan setiap masa. | dyanti

Editor : sem haesy | Sumber : setkab
 
Polhukam
23 Nov 17, 14:25 WIB | Dilihat : 220
Deddy Mizwar dan Syaikhu Terima Dukungan Tanpa Syarat
23 Nov 17, 07:04 WIB | Dilihat : 140
Mengadili Dosa Setya Novanto
20 Nov 17, 07:29 WIB | Dilihat : 484
Golkar Ingin Menceraikan Papa Setnov
Selanjutnya
Seni & Hiburan
31 Des 16, 10:27 WIB | Dilihat : 453
Tan Sri SM Salim Johan Musik Melayu
05 Des 16, 16:14 WIB | Dilihat : 658
Sabdo Pandito Rakjat, Memotret Kegaduhan Bangsa
25 Nov 16, 22:15 WIB | Dilihat : 465
Sting Menebar Pesan Damai di Bataclan
17 Nov 16, 12:59 WIB | Dilihat : 879
Dedikasi Jackie Chan Berbuah Oscar
Selanjutnya