Anies Rasyid Baswedan dan Kaleng Rombeng

| dilihat 618

bang sém

Anak Betawi, di manapun dia dilahirkan, dibesarkan, hidup dan berdomisili, pasti paham yang disebut istilah kalèng rombèng.

Kalèng rombèng merupakan barang rongsokan yang ketika dilemparkan ke tong sampah atau dipukul-pukul dan disepak bocah-bocah berisik.

Ketika masih siswa SMP, saya dan beberapa teman memilih jalan kaki dari rumah ke sekolah di kawasan Menteng. Dari jembatan Jalan Gresik - Jalan Madura ke Boplo, saya senang sekali setiap menemukan rongsokan kaleng susu yang keluar dari tong sampah.

Saya sepak dan kejar melintasi Jalan Waringin, Jawa, Jalan Samratulangi, Boplo, sampai depan Masjid Cut Mutiah.

Saya suka suaranya. Meski sering ditegur bang Sabeni -- petugas OKD (Operasi Keamanan Daerah) yang bisa menyandang senapan laras panjang -- karena membangunkan tidurnya di pos jaga.

Istilah ini dipergunakan dan diperuntukkan bagi siapa saja yang tidak jelas juntrungannya -- meski punya kedudukan sosial dan latar akademis tertentu -- dengan kesibukan utama -- sesuai order -- berisik. Biasanya, mereka lakukan hal itu karena ada giya'an alias upah berkomentar, mengomentari apa saja 'menyalak' siapa saja, sesuai 'order.'

Persis kalèng rombèng yang saya sepak, berbunyi bila disepak, makin kuat sepakan, makin panjang bunyi berisiknya.

Belakangan, di media sosial saya 'mendapatkan' sejumlah kalèng rombèng yang datang ke Jakarta, gagal masuk ke sektor riil. Mereka menggantungkan diri kepada para 'pesepak kaleng,' yang memberikan imbalan untuk memenuhi keperluan hidupnya.

Di mata saya, siapa saja manusia yang diberikan nalar, naluri, rasa, dan dria sebagai alat kelengkapan hidup oleh Tuhan, namun menempatkan dirinya sebagai kalèng rombèng, termasuk kategori kaum yang asfala safilin, seperti yang diisyaratkan dalam firman Allah di Surah At Tiin.

Kaum asfala safilin adalah makhluk yang terendah dari yang serendah-rendahnya, hina, dina, dan buruk. Di kepala dan hatinya hanya ada keburukan dan kebusukan. Boleh jadi, mereka kaum yang beragama tapi tidak ber-Tuhan.

Kalèng rombèng tentu hanya tahu bagaimana berisik: mencerca, memaki, menista, dan sejenisnya. Jangan harap kritik mereka, karena mereka tak paham apa dan bagaimana mengeritik.

Di jaman gamang, ribet, sungsang, tidak pasti dan mendua, kalèng rombèng banyak dipelihara kalangan tertentu yang mengalami ambivalensia. Hidup di abad 21 dengan perilaku budaya (sosial, ekonomi, politik) abad ke 14. Biasanya kaum manusia perut alias abdul buthun, bukan manusia kepala.

Kaleng-kalèng rombèng mendapat tempat di media sosial dan media-media yang tak kehilangan daya integritas, karena mengikuti arus post truth, diombang ambingkan oleh volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity. Tentu, dengan melakukan kontaminasi atas hidup masyarakat yang nyaris tak berkutik menghadapi singularity.

Anies Rasyid Baswedan - Gubernur Jakarta Raya, pasti akan menjadi sasaran segelintir kalangan dengan dana dan kuasa, yang terganggu oleh kepemimpinannya yang memadu harmoni populis modes dengan tata kelola pemerintahan yang proporsional dan melayani.

Aksi kepemimpinan Anies yang bergerak ke titik keadilan dan kesejahteraan dalam satu tarikan nafas tentu dianggap ancaman menggusarkan oleh kaum 'beruang' (memiliki dana dan kuasa) yang selama ini menikmati gemerlap hidup dari ketimpangan sosial dan ketidak-berdayaan sebagian rakyat.

Saya melihat, sebagai Gubernur Jakarta Raya, Anies secara sistematis - kualitatif konsisten, konsekuen dan nyata melakukan komitmen menggerakkan transformasi sosial.

Anies kongkret berjuang menyelamatkan kota Jakarta dari kompleksitas persoalan lingkungan hidup dan alam (secara luas), membalik kemiskinan, 'melawan' dan berjuang 'menaklukan' pandemi, memberi atensi kuat pada pemulihan biosfer, memberi artikulasi dan nilai kemanfaatan atas singularitas, mendorong, memfasilitasi dan mengkatalisasi gaya hidup lestari, menyiapkan rakyat Jakarta memiliki kemampuan melayari transhumanitas - sehingga -- pada masanya -- siap merancang peradaban baru.

Berbagai penghargaan yang diterima Anies dari berbagai institusi nasional dan internasional, termasuk TUMI (The Transformative Urban Mobility Initiative)  yang bergengsi, itu menunjukkan garis dan langkah transformasi Anies, seperti pernah saya tulis (baca: Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta).

Oleh TUMI, Anies dipilih sebagai satu di antara 21 Heroes 2021. dari seluruh dunia. TUMI memungkinkan para pemimpin di negara berkembang dengan ekonomi bertumbuh untuk menciptakan mobilitas perkotaan yang berkelanjutan. Terutama, karena ide-ide inovatif Anies di berbagai sektor, meskipun menghadapi berbagai kendala - terutama mengubah minda birokrasi dan masyarakat tentang arah dan aksi perubahan secara transformatif.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jakarta Raya 2017-2022 memberikan gambaran kongkret arah dan aksi transformasi itu, dan hasilnya dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh siapa saja yang punya nalar, nurani, rasa, dan indria baik. Langkah Anies relevan dengan komitmen TUMI mendukung program, pengembangan kepemimpinan dan pengembangan karir bagi para pemimpin kota, pembuat keputusan, perencana dan bahkan mahasiswa; dan menghubungkan lebih dari 1500 pemimpin di seluruh dunia dalam satu jejaring pemimpin masa depan dunia.

TUMI percaya pada peningkatan kapasitas, mobilisasi investasi dan pendekatan pendukung di lapangan, sebagai langkah paling efektif untuk mengikuti tujuan yang ditetapkan dan mencapai masa depan perkotaan yang lebih berkelanjutan. Terkoneksi dengan berbagai program transformasi dunia, seperti yang terisyaratkan dalam Sustainability Development Goals (SDG's).

Para 'penyepak kalèng rombèng' tentu tahu apa dan bagaimana TUMI dan ke mana arah transformasi yang digerakkan Anies, ditopang aksi Wakil Gubernur A. Riza Patria, Sekda Marullah Matali dan seluruh aparatus Pemerintah Provinsi Jakarta Raya.

Para kalèng rombèng boleh dipastikan tak paham, apalagi sampai ke tingkat mafhum mukhallafah - ini prinsip dasar anak Betawi dalam konteks kefasihan dalam mengerti dan memahami sesuatu hal. Kemampuan dan tugas mereka memang tunggal: berisik!

Saya suka dengan sikap Anies, mesti berisiknya kalèng rombèng bisa mengganggu, dia tidak ngaru aru (tak terpengaruh).

Anies bersama Wakil Gubernur, Sekda, aparatus pemerintah yang dipimpinnya, bermitra dengan DPRD Jakarta (secara kelembagaan) mesti terus melangkah menggerakkan transformasi sebagai bagian dari tugas utamanya dalam menyelenggarakan pemerintahan, melaksanakan pembangunan, dan memberi nilai tambah melalui pemberdayaan masyarakat.

Salah satunya, seperti yang dia utarakan saat menyampaikan pandangannya sebagai pembicara kunci dalam pembukaan perkuliahan umum Gerbang (Gerakan Kebangkitan) Betawi, komunitas intelektual Betawi, yakni bagaimana menjadikan warga Jakarta (khasnya kaum Betawi) sebagai masyarakat pembelajar (learning society).

Bagaimana sikap kita dengan kalèng rombèng? Ikuti saja sikap Anies: biarkan mereka berisik. Anggap saja sebagai tambahan kecrèk dalam instrumen dan komposisi musikal Gambang Kromong, yang selalu memantik kita gembira dan bahagia. |     

 

Editor : delanova
 
Seni & Hiburan
01 Mar 21, 23:17 WIB | Dilihat : 36
Ode Buat Artidjo Alkotsar
09 Feb 21, 15:26 WIB | Dilihat : 178
Puisi Gus Nas Ihwal Pers sampai Bencana
30 Jan 21, 10:00 WIB | Dilihat : 198
Kabar Kematian
26 Jan 21, 20:24 WIB | Dilihat : 198
Linda Kiani Sang Kejora
Selanjutnya
Energi & Tambang