Anies Baswedan Tak Tumbang Diterjang Hasad

| dilihat 571

Bang Sem

Saya suka cara Anies Baswedan menyikapi 'gempuran' hasad hasud dan dengki politik kepadanya.

Cara itu mencerminkan bagaimana dia berfikir, bersikap dan bertindak sebagai pemimpin. "Tak tumbang diterjang, tak melayang karena disayang."

Anies yang saya kenal, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, konsisten terhadap apa yang dia ucapkan sebagai janji politik.

Sikap ini, di jaman sungsang saat ini, tak terlalu mudah ditemukan pada banyak pemimpin lainnya.

Salah satu sikap dia yang mengemuka adalah, fokus pada amanah yang diberikan rakyat Jakarta - bukan yang numpang populer dan makan di Jakarta -- memimpin dan melayani warga Jakarta sampai penghujung masa jabatan.

Dia fokus mewujudkan tema besar yang diusungnya, bersama rakyat dan aparatus Pemerintah Provinsi Jakarta, membangun kota yang dipilih Bung Karno sebagai ibukota negara Republik Indonesia, "maju kotanya, bahagia warganya."

Tema utama kepemimpinannya jelas, menegakkan 'keadilan sosial.' Anies konsisten dan konsekuen menghadapi berbagai hal yang timbul dari upayanya mewujudkan keadilan.

Kalau kemudian ada yang was-was, bahwa dari sikap konsisten dan konsekuen itu dia bisa melenggang ke Pemilihan Presiden 2024, itu bukan urusan dia. Dan, tak termasuk dalam arena pikir dia.

Tentu Anies tidak sempurna sebagai manusia. Dia tidak bisa mengatasi seluruh persoalan Jakarta sendiri. Itu sebabnya, dia merekrut sejumlah orang untuk membantunya bekerja, tanpa harus mencampuri urusannya dalam konteks menyelenggarakan pemerintahan.

Mereka, yang saya cermati, berada di zona lain, urusan penyelenggaraan pembangunan dan pengembangan masyarakat. Kendati, nrais tak terasa dan tak nampak performanya.

Baik karena media mainstream tidak memberinya ruang. Maupun karena sebab lain yang saya tidak tahu.

Akan rusak kah citra kepemimpinan Anies dengan berbagai serangan sejumlah orang yang menempatkannya sebagai 'musuh bersama,' yang bahkan sudah di luar batas keadaban?

Agaknya tidak. Anies tidak masuk ke dalam ruang media mainstream, dan hanya ada di satu dua akun media sosial, yang sebagian besar porsinya dipergunakan untuk kepentingan 'menyampaikan kabar baik kepada warga yang memberinya amanah.'

Anies masuk ke dalam hati sanubari warga Jakarta, terutama yang memilihnya. Kalangan lintas etnis, agama, sosio budaya, maupun lintas akademik. Tentu, kalangan yang mempunyai akalbudi, nalar dan naluri sehat, perasaan dan dria yang terjaga.

Sebagai seorang pemimpin yang memegang teguh prinsip demokrasi, sampai saat ini, saya belum melihat dia keluar dari koridor menghormati perbedaan. Dia sadar, sebagai ksatria, dia tidak menebar kebencian kepada mereka yang membencinya.

Kepemimpinannya terganggu? Bisa jadi. Karena dia berpegang pada pemahaman atas kewenangan dan tanggungjawab yang diatur dalam undang - undang, termasuk undang-undang tentang ibukota negara yang nampaknya belum dipahami secara tepat dan benar. Bahkan oleh mereka yang merasa amat berkuasa dan berkuasa.

Salah satu hal yang memantik simpati saya, kemudian menggerakkan empati, apresiasi, respek, dan kecintaan saya kepada kepemimpinannya adalah akhlak yang dia pelihara. Akhlak manusia terdidik yang mencerminkan tiga dimensi dasar: keislaman, kemanusiaan dan keindonesiaan.

Anies adalah sosok pemimpin yang ditempa hari ini oleh dinamika politik yang sungsang dan cenderung didominasi oleh politicking. Seolah, dia sedang diasuh dan dipersiapkan menjadi pemimpin yang paling pas untuk bangsa ini di masanya.

Tentu, yang saya sampaikan ini sangat subyektif. Karena masa sekarang memang masa untuk menampakkan subyektivitas berdasarkan realitas dan empirisma obyektif.

Normatif? Ya! Karena terlalu banyak soal-soal teknis yang secara tidak proporsional dilontarkan kepadanya. Khasnya, karena banyak kalangan yang menyerang dan 'menghadang'-nya di lingkungan pemerintahan, tak cukup paham dalam mengelola dan memaknai data.

Dalam berbagai kesempatan 'ngobrol' dengan berbagai kalangan, sejumlah pendukung mengekspresikan kegeraman menghadapi berbagai ekspresi kaum fasik yang melontarkan hasad dan hasus kepada Anies.

Tak salah menggunakan prinsip 'menggunakan kuda untuk menangkap kuda.' Tapi, persoalannya, yang hendak ditangkap 'bukan kuda.' Kambing pun bukan.

Setiap orang boleh mengekspresikan kekaguman, rasa hormat dan dukungan kepada Anies, seperti setiap orang boleh melakukan hal yang sebaliknya. Tapi, satu hal harus diingat, Jakarta tidak memerlukan keriuhan 'mencari ketiak ular,' karena rakyat sangat paham ular tak berketiak. Bahkan, sesama ular pun tak pernah sibuk mencari ketiaknya.

Sebagai orang yang lahir di Jakarta, saya mesti mengatakan, kepemimpinan Anies sebagai Gubernur Jakarta, telah menyempurnakan aksi kepemimpinan Gubernur-Gubernur sebelumnya.

Anies membayarkan utang-utang janji yang tak pernah ditunaikan oleh sejumlah Gubernur sebelumnya. Setarikan nafas, dia menyiapkan legasi substantif di tengah kecamuk aneka kepentingan politik dan ekonomi yang tak kesampaian. Yakni, keberpihakan kepada prinsip-prinsip keadilan. Termasuk prinsip melayani tanpa harus kehilangan integritas.

Kepedulian saya hanya satu, yakni bagaimana Anies menyelesaikan tugas yang tak dilisankannya, menjadikan Jakarta kota yang sungguh kian beradab.

Untuk itu Anies tak perlu turun ke jalan mengatur arus lalu lintas. Pun tak perlu deprok di tepian Sungai Ciliwung atau Kali Malang. Pun tak perlu nongkrong di rel kereta api. Tugas dia adalah memberikan arah yang jelas, apa yang mesti dilakukan aparatus pemerintahannya, apa pula yang kudu dilakukan warga.

Adalah tugas aparatus dan mitra kerja internalnya menggerakkan aksi pencapaian kinerja, sebagaimana tugas para wakil rakyat di DPRD menggunakan mulut mereka untuk menghidupkan budaya partisipasi kritis, korektif, dengan kecerdasan politik. | (Kelapa Dua, 040220)

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 628
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
16 Agt 20, 12:41 WIB | Dilihat : 203
Wak Wak Gung
10 Agt 20, 15:39 WIB | Dilihat : 196
Melihat Ferry Membayangkan Cainis dan Bolsonaroan
17 Jul 20, 00:15 WIB | Dilihat : 302
Budaya Pesisir dan Budaya Sungai Bertemu di Ancol
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 118
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 238
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 526
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
Selanjutnya