Prof. Dr. Endang Caturwati, SST., MS.

Aksi Seniwati Intelektual Merespon Megaproblema 21

| dilihat 310

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

Era konseptual sedang bergerak merambah dunia. Inilah era konseptual yang mempertemukan arus besar globalisasi dengan glokalisasi yang akan mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Bagaimana seniman intelektual merespon hal itu?

Saya tertarik mengikuti kiprah Prof. Dr. Endang Caturwati, SST, MS, dalam biografinya bertajuk Pok Pek Prak Endang Caturwati (Rani Siti Fitriani, Paguyuban Pasundan), yang diluncurkan di Bandung, penghujung tahun lalu (Bandung, Sabtu - 21/12/19). Kendati buku, itu belum sepenuhnya menggali sisi visioneering Endang (di balik karya dan pemikirannya) merespon transisi peradaban.

Saya kenal dan berinteraksi dengannya sejak penghujung dekade 1970-an.

Nilai budaya dan kekuatan seni sebagai soft power dalam merespon tantangan abad ke 21, yang mengalir dalam karya-karya Endang Caturwati, dari Nyi Ronggeng (1978), Ronggeng Midang (2002), Jatining Diri, Tanhanna Dharma Magrava (2012), Balebat (2015), sampai Astungkara (2019) merespon perkembangan dinamis transisi peradaban dari era agraris, industri, informasi, dan (kini) era konseptual terkontaminasi oleh arus lain post trust era. Baik karena perkembangan dinamis teknologi informasi yang disimpangkan untuk menyuburkan hoax (sebagai bagian dari taktik proxywar), maupun dalam konteks kepentingan sesaat (politik dan ekonomi).

Dinamika perkembangan sosio budaya yang terkoneksi langsung dengan perkembangan politik dan ekonomi global, regional (kawasan), dan nasional. Di tengah dinamika itu,  generasi baru (millenial) dihadapkan oleh 17 tantangan - megaproblem, seperti yang dikemukakan  James Martin, guru besar Oxford University, dalam karya monumentalnya, "The Meaning of the 21st Century: A Vital Blueprint for Ensuring Our Future" (2007).

Tantangan Abad 21 yang utama dalam konteks sosio budaya, menurut saya adalah menggerakkan 'keterampilan dan kefasihan' memahami dan merespon anomali budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari arus besar globalisasi 2.0. Yaitu: Membalikkan Kemiskinan, Gaya Hidup Lestari - Berkelanjutan, Melawan Terorisme, Pengembangan Kreativitas, Perluasan Potensi Manusia, Singularitas, Menjelajahi Transhumanisme, Risiko Eksistensial, Menjembatani Kesenjangan Keterampilan dengan Kearifan, dan Merencanakan Peradaban Lanjut.

Endang Caturwati berinisiatif menggairahkan perjuangan literasi perempuan cendekia, dan menerbitkan buku Perempuan Indonesia, Dulu dan Kini yang ditulis 30 orang perempuan bergelar Profesor dan telah pungkas pendidikan doktoral.

Karya intelektual pada buku ini, dalam banyak hal bersinggungan dengan beberapa persoalan megaproblema Abad 21, yang diisyaratkan James Martin, itu.

Guru Besar  ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Bandung yang berkarir sebagai dosen dan pernah menjabat Ketua/Rektor STSI - cikal bakal ISBI, dan Direktur Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, itu juga merupakan praktisi seni multi talenta (penari, koreografer, kreator lagu, peneliti, penulis buku, dosen aktif, penyanyi, perias pengantin, perancang busana dan lainnya) yang intens menggali kearifan dan kecerdasan lokal merespon perkembangan cepat pusaran dinamis peradaban modern.

Pemikirannya sebagai sesosok insan 'panoramis' sangat luas, tetapi sebagai peneliti dia seorang 'penggali sumur.' 

Lewat karyanya, Nyi Ronggeng dan Ronggeng Medang mengekspresikan simpati dan empatinya pada realitas kehidupan para ronggeng di pesisir Jawa Barat. Perempuan-perempuan yang secara struktural dan kultural mesti berjuang keluar dari kemiskinan. 

Hasil penelitian untuk disertasinya (yang diterbitkan sebagai buku bertajuk "Sindén-Penari di Atas dan di Luar Panggung," mengusik Endang menggali lebih dalam, untuk menemukan substansi persoalan, baik secara antropologis, sosiologis, sosio-ekonomi dan sosiopolitik.

Hal ini memotivasinya untuk menemukan berbagai solusi. Terutama karena pendekatan personalnya yang tidak hanya bertumpu pada habitus tekstual, melainkan kontekstual.

Doktor lulusan Universitas Gadjah Mada - Yogyakarta, ini menginisiasi solusi dari dalam persoalan. Muaranya adalah pembangunan manusia dan kebudayaan dalam satu tarikan nafas.

Kontekstual dan Memberi Solusi

Di hadapan Gubernur Jawa Barat, Menko Pembangunan Manusia, dan khalayak yang menghadiri peluncuran bukunya dia mengungkapkan realitas ronggeng yang terus termarjinalisasi dalam siklus kemiskinan. Juga dampak kesenjangan antara keterampilan (skill), kebijakan (policy) dan kebajikan (wisdom) terhadap anak-anak yang terjebak 'kubangan' situasi sosial - akibat kehilangan nilai (valeur perdue).

Pun, tentang 'miskin'-nya guru kesenian dalam pendidikan dasar, sehingga secara didaktikal dan pedagogis tidak lagi mampu mentransfer nilai di balik karya seni. Terutama, karena 'negara masih absen,' di ruang keseharian budaya.

'Miskin'-nya guru kesenian semacam itu, mengusik Endang menginisasi dan menggerakkan program Belajar Bersama Maestro, Seniman Masuk Sekolah, Festival Ronggeng, dan berbagai aksi governansi lainnya kala dia menjabat Direktur Kesenian pada Direktorat Jenderal Kebudayaan - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada saat itu, dia sudah menerapkan pula konsep 'pendidikan merdeka untuk manusia merdeka,' yang kini sedang menjadi trending topic.

Endang menawarkan paradigma menarik tentang persoalan yang tersembunyi selama dua dasawarsa (terkait pendidikan seni di sekolah), akibat 'miskin'-nya guru-guru senibudaya, karena seni tidak dianggap penting. Padahal, menurut Endang, justru pada seni ( sebagai resam, bagian integral adat dan budaya) nilai-nilai peradaban bangsa dan ke-Indonesia-an tersimpan.

Endang memotivasi koleganya, para dosen, seniman dan budayawan terlibat dalam berbagai aksi community development di kantung-kantung kemiskinan, tempat para ronggeng dan seniman tradisional lainnya lahir, hadir, dan terjebak.

Dia menemukan dua hal penting: kemauan berubah dan keluar dari kemiskinan; serta, potensi kecerdasan. Dia melihat ada potensi manusia dan kemanusiaan yang mesti diubah menjadi realitas.

Melalui workshop yang diinisiasi-nya, dia yakin, pengembangan kreatif (multi talent dan bidang hidup) bisa dikakukan. Muaranya adalah pembentukan manusia berkarakter yang dapat menjadi salah satu penggerak utama dalam membalik kemiskinan. Pendidikan, bagi Endang, bukan pilihan, melainkan cara manusia (human way) mengubah keadaan dirinya. Cara manusia mengatasi persoalan.

Kemampuan 'membalik kemiskinan' dengan keluar dari kemiskinan dan marginalitas, akan memungkinkan manusia - secara pesonal dan sosial -- mempunyai ketahanan untuk tidak mudah terpapar beragam bentuk aksi terorisme. Juga mempunyai kemampuan dan ketahanan dalam menyikapi singularitas atau reaksi berantai kecerdasan mesin komunikasi publik (yang didorong oleh kemajuan cepat komputasi dan satelit).

Nilai seni dan budaya yang ditransfer secara 'penetratif hipodermis,' akan memperkuat manusia mengelola kecanggihan teknologi informasi (seperti gadget yang merambah sampai ke desa miskin) untuk kepentingan produktif.

Dalam pandangan Endang, perluasan kesadaran dan antusiasme untuk menghidupkan dimensi nilai dalam seni dan budaya, juga akan memampukan masyarakat -- termasuk ronggeng dan pelaku seni tradisi di pedesaan -- menghadapi transhumanisme, yang secara kontroversial menimbulkan persoalan terkait dengan akhlak.

Kekuatan nilai budaya, diyakini profesor yang juga seniman intelektual, ini dapat menggerakkan kita (manusia) memanfaatkan transhumanisme menjadi wahana mencapai peradaban unggul, ketika Indonesia genap 100 tahun merdeka, tahun 2045.

Seni budaya yang menafasi politik, ekonomi, sosial, sains, dan teknologi bagi Endang akan memperkuat manusia Indonesia dalam menghadapi risiko eksistensial dan memperpanjang usia harapan hidup lebih lama.  Karena seni budaya ada bersama lingkungan yang lestari, meski planet menyempit dan bandwidht meluas. |

Editor : Web Administrator
 
Seni & Hiburan
25 Mar 20, 12:15 WIB | Dilihat : 212
Adzan Sembilu
08 Feb 20, 22:15 WIB | Dilihat : 413
Yanti Menyusul Chrisye Meninggalkan Cerita Cinta
08 Feb 20, 01:54 WIB | Dilihat : 388
Embun Malam Mengusik
24 Nov 19, 14:03 WIB | Dilihat : 810
Puisi Novita dan Kefasihan Agustian Jelma Distraksi
Selanjutnya
Humaniora
01 Apr 20, 08:04 WIB | Dilihat : 73
Humbling Experience for Mankind
31 Mar 20, 09:58 WIB | Dilihat : 130
Melawan Covid 19 dengan COVID
27 Mar 20, 20:20 WIB | Dilihat : 140
Forhati Peduli Ojol
26 Mar 20, 16:11 WIB | Dilihat : 228
Anies Siapkan Hotel untuk Rehat Petugas Kesehatan
Selanjutnya