Akalbudi

| dilihat 979

MANUSIA adalah makhluk berakalbudi. Akalbudi itu pula yang membedakannya dengan makhluk Tuhan lainnya. Lantaran itulah, manusia disebut juga sebagai khayawanun naathiq. Hewan yang berakalbudi.

Tema ini menyeruak dalam perbincangan petang di bilangan Senayan, jelang dinihari, pekan lalu.

Saya senyam-senyum, menyaksikan ‘adik-adik’ dan ‘teman-teman’ para mantan aktivis era 70 - 80-an, mengekspresikan pragmatisma politik mereka.

Banyak hal yang hilang dari mereka, kini, ketika bergelindan dalam kubangan politik praktis. Akalbudi yang diberikan Tuhan sebagai instrumen untuk memperoleh kebajikan di atas kebenaran, tereduksi sedemikian rupa. Jadi, sangat wajar, bila nalar politik di berbagai institusi politik terkontaminasi oleh perilaku politicking yang sangat buruk. Lantas, tereduksi sedemikian rupa, menjadi “akalbudi-akalbudian politik”.

Political habit yang tumbuh di tengah kegamangan menyikapi perubahan, telah menyeret begitu banyak para politisi hanya memandang politik sebagai alat memperoleh kekuasaan semata.

Bukan lagi sebagai instrumen perubahan yang berpihak kepada kepentingan rakyat secara keseluruhan. Sebagian mereka yang memperoleh kesempatan sebagai anggota parlemen (antara lain, lantaran sistem nomor urut dalam proses pemilihan anggota legislatif), tak mampu menempatkan dirinya sebagai wakil rakyat, dan sibuk memainkan peran sebagai wali rakyat.

Di sisi lain, di lingkungan kehidupan lain – ekonomi dan sosial, misalnya – tak sedikit manusia mengabaikan fungsi akalbudinya sebagai instrumen intelektualitas dalam mengembangkan sikap ‘tahu diri’. Mereka terkubur oleh tumpukan ambisi dan hawa nafsu.

Dalam situasi demikian, individualitas menyeruak. Karenanya, tak sedikit orang-orang yang mampu secara ekonomi, cuek dengan lingkungan sosial sekitarnya yang masih dikepung kemiskinan.

Tak berfungsinya akalbudi secara benar, telah menyebabkan “adik-adik” dan “teman-teman” aktivis, itu lupa dengan teriakan lantang masa lalu.

Mereka abai dengan komitmen perubahan untuk mencapai kesejahteraan rakyat lebih baik. Sebagian mereka, bahkan cuek dengan hakekat gerakan moral yang mereka dorong dengan energi nalar yang jernih.

Mereka tercenung, ketika saya ingatkan, perubahan jaman akan menggilas mereka yang hanya memuliakan hawa nafsu.

Menghadang mereka yang secara sadar dan tak sadar – hanya memenuhi tuntutan ekonomi dan status sosial yang sering membanting-ban ting akalbudi sehat.

Berbagai kasus yang menimpa sebagian ‘adik-adik’ dan ‘teman-teman’ adalah contoh kongkret, bagaimana buruknya perangai, ketika akalbudi yang diberikan Tuhan, tak sungguh dipergunakan secara baik dan benar.

Hanya orang yang berakalbudi, mampu membangun kesadaran paripurna di dalam dirinya untuk tahu diri. Karenanya, mereka punya kekuatan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.

Apa pun status sosial dan posisinya, manusia yang mengabaikan akalbudinya, akan kehilangan kesempatan menjadi mahluk berakalbudi.

Mereka, antara lain, akan terjerembab sebagai politic animal dan economic animal. Manusia-manusia imitasi, yang mendahulukan kepentingan perut, raga, dan hawa nafsunya. Manusia tanpa kesadaran insaniah.

Umar ibn Khattab berseru, “manusia yang hanya memikirkan kepentingan perutnya, harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari perutnya.”

Ketika akalbudi tak lagi menjadi pemandu manusia dalam mencapai kebajikan, maka kehancuranlah yang akan diperoleh..

Lewat tengah malam, di bawah gerimis, saya bergumam: “Tuhan, berikan hamba kekuatan menggunakan akalbudi yang senantiasa sehat.”| Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Sainstek
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1030
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 1916
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 638
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 596
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
Selanjutnya
Humaniora
16 Okt 18, 09:07 WIB | Dilihat : 213
Reduksi Peran Universitas
04 Okt 18, 16:52 WIB | Dilihat : 447
Bantuan Terus Berdatangan dan Listrik Menyala Lagi
04 Okt 18, 11:21 WIB | Dilihat : 414
Prabowo Evaluasi Tim Pemenangan
03 Okt 18, 18:25 WIB | Dilihat : 444
Di Mana Kamu
Selanjutnya