Ai Syariah - Kaum Difabel dan Jaya Ancol

| dilihat 517

Bang Sèm

Pembangunan Jaya Ancol mempekerjakan kaum difabel di sektor-sektor dan bidang pekerjaan yang sesuai dengan keterbatasannya. Gubernur DKI Jakarta menyambut baik kebijakan Komisaris dan Direksi perusahaan daerah terbuka pengelola sentra destinasi wisata yang sekaligus beranda depan Ibukota DKI Jakarta, itu.

Kebijakan itu, bagi saya, penting dan perlu beroleh perhatian. Mulanya, barangkali hanya sedikit kaum difabel yang terkomodasi melalui proses asesment khas.

Kaum difabel, adalah manusia yang mesti diperlakukan setara dengan masyarakat pada umumnya. Termasuk dalam hal memperoleh kesempatan dan perlindungan. Hak mereka dijamin dalam konstitusi negara, dan perlakuan kepada mereka adalah cermin keadaban dan peradaban.

Kaum difabel bukanlah kaum yang berkekurangan, melainkan kaum yang terbatas gerak dan lingkup aktivitasnya. Di balik keterbatasannya, banyak kelebihan yang mereka miliki, tak dimiliki oleh kebanyakan manusia pada umumnya.

Dari Beethoven sampai Stevie Wonder, Andrea Bocelli, John Bramblitt, Stephen Hawking, Stefan Gröschl, Jérôme Adam, dan amat banyak lainnya lagi, menyadarkan kita, bagaimana kaum difabel mempunyai begitu banyak kelebihan yang jauh melampaui keterbatasannya.

Kaum difabel mempunyai energi ekstra, selain kepekaan naluri dan rasa, juga ketangkasan nalar. Mereka mampu mewujudkan fantasi dan ilusi ke dalam realitas kehidupan sehari-hari, bahkan melebihi banyak manusia lain yang tak mempunyai keterbatasan fisik. Karena pada manusia, tak hanya indria dan indera yang menjadi perangkat hidup, dan kendalinya adalah otak, tempat fikiran diolah dan digerakkan.

Dalam konteks Taman Impian Jaya Ancol, tak sedikit ruang aktualisasi diri bagi kaum difabel, mulai dari dapur resto, administrasi perkantoran, sampai inisiator. Terutama dalam mengolah kembali atau mengembangkan dimensi 'fantasi' dan 'impian' yang melekat pada pusat destinasi wisata ini. Selebihnya adalah kesadaran managerial untuk menempatkan korporasi (PT Pembangunan Jaya Ancol) tak semata-mata merupakan institusi income generator, yang hanya memburu profit, melainkan juga memberi aksentuasi pada benefit.

Profit dan benefit, income dan outcome dalam keseluruhan konteks keberadaan korporasi di tengah masyarakatnya, akan selalu memberi nilai lebih. Paling tidak, merupakan nilai. Dan manajemen korporasi bertugas melakukan creating value.

Kaum difabel, khasnya yang bersifat fungsional, dalam konteks pembinaan dan pengembangan human invesment, akan memberikan nilai tersendiri. Terutama dalam menawarkan 'cara khas' dalam melaksanakan fungsi dan profesinya.

Sisi ini yang memberi nilai lebih atas kebijakan khas manajemen terhadap kaum difabel. Terutama karena mereka mempunyai spirit yang juga berlebih untuk mandiri.

Adalah Talha, sahabat saya sejak mahasiswa, seorang difabel yang mendalami ilmu biologi dan memimpin sebuah laboratorium klinik, yang selalu mengingatkan saya untuk selalu menempatkan kaum difabel pada posisi yang sama dan beroleh buah kebijakan yang ditopang oleh ekuitas dan ekualitas yang wajar.

Dia mengatakan, yang lemah dan menyedihkan bukanlah kaum difabel itu sendiri, melainkan kebijakan korporasi untuk menguatkan akses kaum difabel atas pekerjaan. Persepsi tentang keterbatasan kaum difabel, sering menjebak para pengambil keputusan korporasi untuk juga berfikir terbatas. Padahal, kaum difabel secara intuitive, termasuk intuitive reason, justru melampaui batas-batas panoramis pandangan para pengambil keputusan korporasi pada umumnya.

Realitas keum difabel dalam berbagai hal, seringkali tak terjangkau oleh keterbatasan pandangan yang terhalangi oleh persepsi sosial, stereotip dan ketidaktahuan tentang kemampuan dan keterampilan para kaum difabel yang tidak berhenti di ambang pintu bisnis. Apalagi, kaum difabel juga mempunyai energi yang sama, seperti entrepreneurship dan leadership. Dalam konteks ini, kebijakan manajemen Jaya Ancol membuka ruang kerja bagi kaum difabel, tak hanya menunjukkan perusahaan ini mempunyai kesadaran global untuk memandang difabilitas dari kontribusinya pada peningkatan benefit perusahaan.

Keberadaan Ai Syariah sebagai cook helper di Putri Duyung Cottages, sebagai wakil kaum difabel di lingkungan bisnis Jaya Ancol, bagi saya, mesti dilihat sebagai bagian tak terpisah dari keseluruhan konteks corporate human respobility. Bagian dari aksi korporasi yang dalam skala besar, nilainya dapat dilihat dari kesadaran dan tanggungjawab sosial, termasuk menjadikan Ancol sebagai destinasi wisata yang bisa dijadikan sebagai trauma heal zone untuk korban bencana. Terutama, karena secara geografis, Ancol sangat dekat dengan sentra-sentra bencana, seperti Cilegon, Pandeglang, dan Sukabumi.

Saya sepakat dengan Geisz Chalifah dalam melihat upaya penambah-nilai Ancol, sebagai destinasi wisata yang multi-dimensional, sekaligus multi-manfaat. Berbagai wahana yang tersedia di Ancol dan berbagai kebijakan manajemen kini, memungkinkan Ancol memposisikan diri sebagai sentra wisata berdimensi edukasi dan menjadi salah satu pintu masuk dalam membangun budaya hidup baru. Yakni, budaya hidup lestari berbasis bahari.

Kata kuncinya adalah penguatan relasi Ancol dengan khalayak yang merupakan costumers-nya. Ini maknanya, perlu perubahan minda (mindset) pemasaran yang bertumpu pada costumers centric. Wahana, atraksi dan program kegiatan (agenda - calendar of event) mengikuti need - want - interest costumers. Terutama kini, ketika banyak pilihan bagi costumers untuk menentukan titik tujuan wisatanya. Titik capainya adalah kepuasan pelanggan, pemegang saham, pemangku kepentingan lain. Muaranya adalah profit dan benefit berkelanjutan.

Kebijakan merekrut kaum difabel adalah kebijakan yang kudu dihormati. Saya membayangkan, kebijakan ini merupakan dari perubahan konseptual untuk menempatkan manusia sebagai subyek yang hidup, bukan hanya 'sumberdaya manusia,' melainkan modal insan.. |

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
24 Agt 19, 09:12 WIB | Dilihat : 15
Melanesia Destinasi Perburuan Kepentingan Masa Depan
23 Agt 19, 16:41 WIB | Dilihat : 109
Segarkan Pertemanan
12 Agt 19, 11:00 WIB | Dilihat : 385
Umrah Digital
11 Agt 19, 13:59 WIB | Dilihat : 325
Bertemu Cinta Sesungguh Cinta di Arafah
Selanjutnya
Polhukam
21 Agt 19, 07:58 WIB | Dilihat : 393
50 sampai 100 Juta Akun Medsos Duplikat dan Palsu
16 Agt 19, 10:37 WIB | Dilihat : 793
Reorientasi Politik Bangsa Melayu Bukan Rasisme
16 Agt 19, 00:14 WIB | Dilihat : 613
Bersatulah Bangsa Melayu
15 Agt 19, 11:18 WIB | Dilihat : 663
Belajarlah Becermin Sebelum Buli Anies
Selanjutnya