AHY

| dilihat 419

bang sém

Lelaki itu bernama Agus Harimurti Yudoyono, yang belakangan hari, sejak 2016, lebih populer dipanggil dengan initial AHY.

Saya termasuk orang yang pernah berharap AHY menjadi jenderal dan terus berkiprah di jalur kemiliteran, seperti kakeknya Sarwo Edhi Wibowo yang legendaris dan berada di barisan paling depan menghadapi aksi penghianatan Partai Komunis Indonesia (PKI). Saya juga termasuk orang yang berharap dia diwisuda sebagai doktor.

Pun, seperti ayahnya Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI ke 6), pak de-nya Erwin Sudjono (Pangkostrad 2006-2007), atau pamannya, Pramono Edhie Wibowo (Kepala Staf Angkatan Darat 2011-2013) - jendral sederhana yang sempat menjabat Panglima Kodam Siliwangi.

Belakangan, jalan hidupnya berubah, dia -- tentu dengan keputusan berat, meninggalkan dunia militer, lantas mengikuti jejak pamannya, Hadi Utomo ke jalur rimba raya politik. Jalur hidup serba kemungkinan dan menuntut kepiawaian dalam mengelola dan mengolah kemungkinan-kemungkinan, meski kemungkinan itu hanya dalam bilangan prosentase teramat kecil, 0,0001.

Tapi sekecil apapun kemungkinan tetaplah berdimensi algoritma. Kemungkinan, yang dalam pandangan Abu Ja'far Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi yang tinggal di Baghdad, sekitar 780 hingga 850 M (atau M), penemu ilmu aljabar, lewat kitabnya Hisab al Jabr w'al muqabala, mengandung makna penyelesaian (al jabr) dan keseimbangan (al muqabala).

AHY hidup di masa transisi dari era informasi ke era digital. Era yang menempatkan informasi, sekecil apapun mempunyai makna penting dalam menyelesaikan persamaan linier (kuadrat) dengan menghilangkan negatif (-) dalam proses keseimbangan dua sisi persamaan.

Keberadaannya di dunia politik praktis -- yang masih didominasi pandangan siyasat (taktikal), katimbang siyasah  (strategi) -- dengan pragmatisme politik dan politik transaksional yang mendorong eksistensi manusia hanya menjadi hamba perut (abdul buthun), katimbang manusia kepala (rais al rajuli), memang lantas menjadi khas dengan keunikan tertentu.

Membaca berbagai komentar di berbagai media (mainstream maupun sosial) tentng AHY memang lantas membuat kita senyam-senyum sekaligus merisaukan, lantaran begitu lantaknya daya fikir akibat terjadinya pendangkalan ketajaman nalar. Khasnya tersebab oleh kuatnya singularitas. AHY adalah sosok lain di luar Anies Rasyid Baswedan (ARB) yang terkesan, hendak diportal jalan kiprahnya.

AHY dengan ARB berbeda latar dan pangkal arus pemikiran dan kecerdasannya masing-masing. Tetapi keduanya mesti berkutat dengan perhitungan-perhitungan algoritma yang kuat dalam membaca kemungkinan.

Saya melihat AHY yang ditempa dalam dunia militer sampai ke tingkat intermediate, merupakan penampang generasi baru Indonesia di sisi eksklusif yang harus melakukan percepatan dan mendalam (depth) melakukan transisi ke sisi inklusif. AHY terkondisikan oleh situasi untuk melakukan proses pematangan menuju kualifikasi kepemimpinan reformatif.

Akan halnya ARB ditempa dalam dunia akademik - civil society yang inklusif, dan mesti memperkuat daya panoramisnya di atas kondisi masyarakat yang sedang berjalan di lahan gambut peradaban (kegamangan, ketidakjelasan, keribetan, dan kemenduaan). Inklusivitas lingkungan (external factor) menempa ARB dalam proses pematangan menuju kualifikasi kepemimpinan transformatif.

Dengan perbedaannya masing-masing, dua model sosok generasi baru Indonesia ini dikaruniai kecerdasan, ketangkasan, ketajaman, dan ketepatan dalam membaca dinamika fenomena sosial yang berkembang. Termasuk dalam menyikapi dahsyatnya penularan infodemi di tengah masyarakat dunia sedang dibekap pandemi global nanomonster coronavirus.

AHY dan ARB berbeda satu dengan lainnya, tetapi terkondisikan oleh fenomena jaman sungsang masuk ke dalam tantangan besar melayari transhumanisma. Menjaga keseimbangan nalar, nurani, naluri, dan rasa. Memelihara harmoni kecerdasan, keterampilan, dan kearifan. Keduanya pun berbeda dalam melihat, merespon, dan bereaksi terhadap geliat potensi ancaman.

Tak banyak intelektual yang tepat melihat dinamika dua tokoh bangsa ini, satu dari sedikit intelektual itu adalah Rocky Gerung.

Kembali ke AHY. Di dalam diri sosok tokoh muda ini, saya melihat mengalir kecerdasan, integritas, ketangkasan, kesederhanaan, dan sensitivitas  pribadi  dari karakter kakek, ayah, ibu dan pamannya. Walaupun, sejak memimpin Partai Demokrat belum (dan bahkan mungkin) tidak akan menampakkan performa pribadinya secara menyeluruh.

Lepas dari gaya dan pola komunikasi sosial politik, serta personal presentation-nya yang cenderung formal, yang tak begitu saya suka, karena membiarkan terjadinya jarak sosial dan jarak budaya antara dirinya (sekaligus Partai Demokrat) dengan khalayak - khasnya rakyat amah, saya melihat AHY mulai menunjukkan 'taji.'

Dalam banyak hal, AHY 'serupa tapi tak sama' dengan SBY. AHY punya daya dan gaya tersendiri dalam melakukan aksi kepemimpinannya. Termasuk dalam melihat dan mendulang peluang pada suatu masalah. Ketangkasan AHY mengolah data dan informasi yang sangat terbatas ketika 'mencungkil sarang semut' pada kasus 'kudeta Ketua Umum Partai Demokrat,' adalah contoh paling aktual.

AHY berhasil 'mencungkil' situasi, sehingga dapat melihat dengan jelas ragam semut yang muncul: semut hitam, semut merah, semut rang rang, sampai semut marabunta. Lantas mencermati dengan jelas, semut mana saja yang berkongsi melakukan kasak-kusuk, semut mana yang bersekongkol berkhianat, semut mana saja yang 'engko-engkoan' hanya memindah-mindahkan masalah dari satu titik ke titik lain, dan semut mana saja yang bergerak membentuk ta'awun.  

AHY agaknya paham pula karakter orang-orang di balik media yang senang menduga-duga selera khalayak. Aneka 'sentak sengor' alias debat kusir digelar oleh berbagai media.

Para buzzer sibuk berkutat dengan isu yang dilontarkan, 'menembaki' berbagai peluru bantet ke arah dirinya, dalam kondisi gelap gulita, sambil memperlihat kualitasnya.

AHY berhasil memanfaatkan situasi tak terduga dan bila para pengurus atau pimpinan Partai Demokrat jeli merespon dinamika yang terkondisikan, akan banyak benefit politik yang bisa didulang.

Selaras dengan itu, gerak konsolidasi kader dapat dilakukan lebih intens ketika para pecundang tersesat dan tak tahu jalan pulang.  Jangan tanggung-tanggung, bersihkan Partai Demokrat dari siapa saja yang pernah mencederai komitmennya, tak terkecuali mereka yang pernah menjadi narapidana karena kasus korupsi. Para 'penyewa kamar' kos yang sempat menguasai rumah besar Partai Demokrat.

Di tengah keadaan mesti memikul beban sangat berat di tengah pandemi penyakit, resesi ekonomi, dan jebakan fantasi politik praktis yang kian ampang, AHY mesti tetap memainkan aksi yang membuat lengah siapa saja yang terus under estimate menganggap dirinya politisi 'mengkel,' 'karbitan,' dan tidak dalam hitungan.

Dalam kajian strategi politik, presumsi semacam itu mesti dimanfaatkan. "Rendahkanlah posisi diri serendah-rendahnya, sehingga tak seorang pun bisa merendahkan. Karena kualitas manusia yang paling tinggi adalah yang paling rendah hatinya."

Belajarlah strategi politik yang di masanya, pernah dipraktikkan para tokoh bangsa: HOS Tjokroaminoto, KH Hasyim Asy'ari, Agus Salim, Abdul Moeis,  Moh Natsir, Prawoto, Kasman Singodimedjo, I.J Kasimo, Sjafroeddin Prawiranegara, Johannes Leimena, Hatta, Soekarno, AH Nasution, Idham Chalid, Subchan ZE,  dan lain-lain.

Pelajari juga dengan seksama aspirasi yang berkembang di Kongres II Partai Demokrat, yang menghendaki partai ini sebagai partai barisan orang muda visioner, kreatif dan solusi bagi bangsa. Partai transformatif yang bergerak ke jaman baru. Bukan partai kaum ambivalensia, yang selalu mengumbar cerita masa lalu, ketika gerak zaman meninggalkannya. Hidup tak tertinggal di masa lalu, tak juga tertambat di hari ini. Hidup bergerak ke masa depan.

Terus konsisten untuk bersikap tak melambung linglung kala disanjung, tak terhuyung limbung kala dicerca dan dilecehkan. Pemimpin dulu, "pelaut hebat dihantam gelombang dahsyat." Pemimpin kini dan nanti, "pelaut hebat piawai menari di atas gelombang." Bersanding dan bergandinglah dengan sesama pemimpin hari esok berintegritas.  |

Editor : eCatri
 
Humaniora
23 Feb 21, 12:09 WIB | Dilihat : 192
Pengemudi Taksi itu Bernama Tuti
13 Feb 21, 20:24 WIB | Dilihat : 293
Neo Nihilisme
13 Feb 21, 09:34 WIB | Dilihat : 285
Mengenang Sosok Cendekia Sinyo Harry Sarundajang
Selanjutnya
Seni & Hiburan
01 Mar 21, 23:17 WIB | Dilihat : 34
Ode Buat Artidjo Alkotsar
09 Feb 21, 15:26 WIB | Dilihat : 178
Puisi Gus Nas Ihwal Pers sampai Bencana
30 Jan 21, 10:00 WIB | Dilihat : 198
Kabar Kematian
26 Jan 21, 20:24 WIB | Dilihat : 198
Linda Kiani Sang Kejora
Selanjutnya