Ahed Tamimi, Spirit Perjuangan Palestina

| dilihat 1116

DIA menjadi momok bagi Pemerintah Israel. Ulahnya tak bisa ditolerir karena dianggap menebar propaganda yang memperburuk citra militer Israel di mata internasional. Dia juga dituding melancarkan provokasi berbahaya yang memicu bentrokan antara rakyat Palestina dengan tentara Israel pada 15 Desember 2017.

Remaja berambut panjang bergelombang berwarna pirang itu pun dijebloskan ke penjara. Hakim Pengadilan Militer Israel menghiraukan desakan masyarakat internasional yang menuntut pembebasannya. 

Namanya Ahed Tamimi. Gadis itu terancam hukuman berat, 10 tahun penjara. Rabu pekan lalu, hakim Pengadilan Militer Israel memutuskan untuk melanjutkan penahanan terhadapnya.

Hakim pengadilan menolak argumen kuasa hukum yang menegaskan penahanan itu melanggar hak Ahed sebagai anak di bawah umur. Hakim pengadilan yang berkantor di penjara Ofer, Israel, di dekat kota Ramallah, Palestina itu juga berdalih, Ahed akan mengulangi tindakan berbahaya jika dibebaskan dengan jaminan. Karenanya, hakim memutuskan akan melanjutkan persidangan pada 31 Januari mendatang. "Pengadilan yakin dakwaannya cukup untuk menahannya dalam tahanan sampai akhir persidangan," kata pengacara Ahed, Gaby Lasky.

Penangkapan dan penahanan yang dilakukan otoritas Israel itu menuai kecaman sejumlah kalangan. Di usia yang baru beranjak 16 tahun, Ahed tak pantas menjalani hukuman berat. Apalagi, dakwaan yang menjeratnya mengada-ada.

Bukti menunjukkan jika Ahed hanya menghardik dan menampar tentara Israel. Tindakannya pun tidak mengancam keselamatan jiwa tentara Israel karena Ahed tidak menggunakan senjata. Dan, insiden itu pun dipicu ulah tentara Israel yang dicurigai berupaya mencaplok lahan dan rumah warga Palestina di Desa Nabil Sabil, Tepi Barat.

Penangkapan dan penahanan terhadap Ahed itu menuai kecaman yang disuarakan organisasi hak asasi manusia (HAM) internasional. Otoritas Israel dinilai melanggar hukum internasional yang melarang pemenjaraan terhadap anak-anak. Berdasarkan Konvensi Hak-hak Anak, di mana Israel ikut ambil bagian, penangkapan, penahanan atau pemenjaraan seorang anak, tidak dibenarkan, apalagi dalam waktu yang lama.

"Israel mencelakai kewajibannya berdasarkan hukum internasional untuk melindungi anak-anak dari hukuman kriminal yang terlalu keras," kata Magdalena Mughrabi, Wakil Direktur Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.Baginya, penangkapan dan penahanan terhadap Ahed memperlihatkan parodi keadilan. "Pihak berwenang Israel harus membebaskannya tanpa penundaan," kata Magdalena.

Pengadilan Militer Israel juga diragukan imparsialitasnya. Karena hakim dan jaksa penuntut umum adalah bagian dari militer Israel. Institusi hukum itu juga jarang menghukum para pemukim Israel yang tinggal di Tepi Barat yang terlibat insiden kekerasan. Sementara orang-orang Palestina secara rutin ditargetkan, ditangkap, diadili, dan dijebloskan ke penjara.

Lasky juga mengungkap, selama menjalani proses persidangan, Ahed menjalani interogasi yang lama dan agresif. Interogasi juga kadang dilakukan malam hari. Perlakuan terhadap Ahed di penjara pun tak manusiawi. Ahed ditempatkan di penjara yang tidak memiliki toilet.

Di dunia maya, dukungan terhadap Ahed bermunculan. Netizen mendesak Ahed dibebaskan. Mereka menggalang dukungan di dunia maya dengan menebar hashtag #FreeAhedTamimi. Sebuah petisi juga diluncurkan organisasi masyarakat sipil yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Avaaz. Petisi yang ditujukan untuk mengumpulkan satu juta tanda tangan elektronik itu mendesak Israel membebaskan Ahed.

"Kami menuntut agar Ahed dan semua anak-anak Palestina dibebaskan dari penjara Israel sekarang," kata pernyataan itu. Avaaz juga menyerukan masyarakat internasional mengakhiri perlakuan buruk yang dilakukan tentara Israel terhadap anak-anak Palestina. "Kepada Ahed dan semua anak di penjara Israel, kami berdiri di sisi kalian. Kami tidak akan menyerah sampai kalian bebas. Anda tidak sendiri."

Marwan Barghouti, tahanan terkenal yang mendapat dukungan dari rakyat Palestina di Tepi Barat dan Gaza, menyatakan keprihatinannya terhadap nasib Ahed dan anak-anak Palestina lainnya yang dipenjarakan Israel. "Rasa sakit saya tidak terbatas pada Ahed Tamimi yang ditahan di penjara Israel. Tetapi juga untuk generasinya, yang dianggap sebagai generasi paling berani di antara orang-orang Palestina," tulis Barghouti di akun Facebook istrinya.

Politisi Palestina terkemuka, Mustafa Barghouti menyatakan penahanan terhadap Ahed tidak akan sia-sia karena akan membangkitkan semangat perlawanan tanpa kekerasan yang dilakukan rakyat Pelestina yang menentang pendudukan yang dilakukan tentara Israel. "Jika mereka memenjarakannya untuk waktu yang lama, itu akan menghancurkan masa kecilnya. Tetapi, akan mengirim pesan yang sangat kuat kepada rakyat Palestina," ucapnya.

Di Kota Gaza, terdapat pula sebuah mural yang menunjukan simpati terhadap perjuangan Ahed. Bahkan, di Tel Aviv, Israel, terdapat grafiti berbahasa Ibrani yang menuliskan, "Ahed Tamimi adalah pahlawan" dan "Ahed Tamimi, kami mencintaimu."

Di London, tepatnya di sebuah pemberhentian bus, nampak poster dengan gambar Ahed Tamimi. Gambarnya sederhana, namun mencolok. Nampak seorang gadis remaja berdiri di hadapan tentara yang tubuhnya jauh lebih besar. Di poster itu tertulis, "Free Ahed Tamimi."

Melanggar Hak-hak Anak

Meski di bawah tekanan masyarakat internasional, otoritas Israel tidak peduli. Ahed layak dipenjarakan karena membahayakan. Lewat akun twitter, Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman mengapresiasi putusan hakim Pengadilan Militer yang melanjutkan penahanan terhadap Ahed. "Israel tidak akan membiarkan kerugian terhadap tentaranya dan siapa pun yang berusaha melakukannya akan membayar harga yang mahal," tulisnya.

Rezim zionis tak memandang usia Ahed yang belum dewasa. Namun, lebih mempersoalkan tindakan Ahed sebagai bentuk propaganda yang disebar di media sosial sehingga memperburuk citra Israel di mata internasional.

Aksi berani Ahed menghebohkan masyarakat internasional setelah tersebar video di media sosial. Video yang menjadi viral itu memperlihatkan aksi nekad Ahed yang dicurigai otoritas Israel sebagai propaganda yang mendeskreditkan. "Ini adalah insiden yang parah, ketika perempuan Palestina menyerang seorang tentara Israel dan berusaha menggunakan media sosial untuk memprovokasi," kata juru bicara Kepolisian Israel Micky Rosenfeld seraya memastikan akan terus menyelidiki insiden itu.

Menteri Pendidikan Naftali Bennett juga geram. Pemimpin sayap kanan Yahudi itu menganggap, tindakan Ahed sebagai kejahatan yang ancaman hukumannya bisa mencapai tujuh tahun penjara. Para blogger pendukung Israel menyebut Ahed sebagai "Shirley Temper" dan bintang video "Pallywood" yang manipulatif dan distortif. Video itu dinilai sengaja dirancang dan disebarkan ke media sosial untuk merusak citra militer Israel dan memenangkan peperangan. 

Tudingan itu sangat berlebihan. Karena, video itu hanya memperlihatkan tindakan Ahed yang menampar seorang perwira dan meninju seorang prajurit di sebelahnya. Tindakan itu juga tidak membahayakan karena Ahed tidak menggunakan senjata. Sementara kedua tentara yang berhadapan dengan Ahed mengenakan helm dan dilengkapi senjata. Keduanya memang tidak melakukan perlawanan. Mereka hanya berupaya menghindari pukulan yang dilayangkan Ahed.

Namun, lantaran dianggap memperburuk citra Israel, empat hari setelah insiden kekerasan pada 15 Desember 2017 yang menghebohkan jagat maya itu, sejumlah tentara Israel menangkap Ahed dan menahan ibunya, Nariman Tamimi. Mereka juga menggeledah rumah Ahed di Desa Nabi Sabil untuk mendapatkan rekaman video itu. Bassem Tamimi, ayah Ahed, lewat akun facebooknya menulis, tentara Israel menyita ponsel dan komputer. Dan, sejak insiden itu, Bassem belum pernah berbicara dengan isteri dan anaknya.

Bukan kali pertama Ahed melakoni aksi konfrontasi yang direkam dan disebarkan di media sosial. 28 Agustus 2015 lalu, dengan mengenakan kaos Tweetie Pie warna pink cerah, Ahed menampar dan menggigit pergelangan tangan seorang tentara Israel.

Dia melakukannya agar tentara Israel itu tidak menangkap saudara lelakinya, Mohammed Tamimi yang berusia 14 tahun karena melempari batu. Tentara Israel yang memakai topeng dan memegang senjata itu juga kewalahan karena Nariman dan saudara Ahed lainnya berupaya menghalanginya.

Dalam sebuah wawancara 15 September 2015, saat berusia 14 tahun, Ahed mengatakan, "Yang saya lakukan hanyalah membantu saudara laki-laki saya."  Dia juga menegaskan, ada banyak anak Palestina yang mengalami nasib yang sama, bahkan jauh lebih buruk. "Tetapi, tidak ada kamera yang memfilmkan mereka."

Saat insiden itu, Bassem melihat Ahed diserang tentara Israel. Dia ingin memukul tentara itu dengan batu dan merebut senjatanya. Tetapi, itu tidak dilakukan. Dia hanya memukul tentara Israel itu dengan tangan kosong.

Video yang memperlihatkan kenekatan Ahed itu rupanya tak hanya menjadi menjadi viral di dunia maya. Namun juga dijadikan film dokumenter yang memicu pro dan kontra. Mungkin, itu pula yang membuat otoritas Israel murka.

Film yang berjudul Radiance of Resistance itu diracik Jesse Roberts, seorang aktivis kemanusiaan yang juga sutradara film dari Rise Up International yang berbasis di Oregon dan diproduksi AMZ Productions. Dalam proses pembuatannya, Jesse Roberts melakukan perjalanan ke Nabi Saleh pada tahun 2015.

Film itu lalu diputar di sejumlah festival di seluruh dunia pada tahun 2017, termasuk di Respect Human Rights Film Festival yang berlangsung di Belfast, Irlandia Utara, 3-8 Maret 2017. Dan, film itu meraih penghargaan sebagai film Dokumenter Terbaik.

Menargetkan Anak-anak Palestina

Bagi rakyat Palestina, Ahed adalah bintang. Ahed menjadi simbol baru perlawanan anak-anak Palestina terhadap tentara Israel. Dia dipandang sebagai bocah perempuan pemberani. Sampai-sampai, setelah kejadian itu, Ahed diundang makan malam oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Jauh sebelumnya, Agustus 2012, kala berusia 11 tahun, sebuah foto memperlihatkan aksi Ahed yang menghalangi tentara Israel yang akan menangkap ibunya. Keberanian itu mendapat pujian dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas. 

Sejak tahun 2012, namanya telah dikenal sebagai aktivis yang diakui secara internasional. Dan, ketika berusia 16 tahun, Ahed berpartisipasi dalam konferensi internasional yang mengulas peran perempuan dalam perlawanan rakyat Palestina yang digelar di parlemen Eropa, 26 September 2017.

Wartawan The Guardian, Herriett Sherwood pernah bertanya seberapa sering dirinya terkena gas air mata. Mendengar pertanyaan itu, Ahed tertawa seraya mengatakan, tidak dapat menghitung jumlahnya. Sherwood juga terkesima dnenga jawaban Ahed yang terkesan terlatih. Misalnya, dia mengutip pernyataan Ahed yang mengatakan, "Kami ingin membebaskan Palestina. Kami ingin hidup sebagai orang bebas. Para tentara (Israel) berada di sini untuk melindungi pemukiman (Yahudi) dan mencegah kami meraih tanah kami."

Ahed sebenarnya tak berbeda dengan remaja lain seusianya. Dia ingin bebas bermain. "Saya ingin sekali pergi keluar setiap hari bersama teman-teman dan pergi bersama mereka. Ada banyak hal yang akan saya lakukan, kemana saja saya mau," katanya. 

Meski dilahirkan sebagai perempuan, dia menyukai sepakbola, olahraga yang digandrungi kaum laki-laki itu. "Tim favorit saya adalah Barcelona dan pesepakbola favorit saya adalah Neymar."

Namun, hak-hak Ahed dan anak-anak Palestina itu terhempas. Bagaimana tidak, Ahed bersama rekan sebayanya, lebih sering berhadapan dengan wajah bengis tentara Israel yang dilengkapi senjata. Para serdadu zionis itu tak henti berupaya mencaplok lahan tempat mereka bermain, termasuk menggusur rumah mereka.

Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang menjadi korban kekerasan tentara Israel. Mereka diperlakukan layaknya militan Fatah, pejuang bersenjata Palestina. Menurut catatan Badan Perlindungan Anak Internasional Palestina,  sepanjang tahun 2017, sedikitnya 14 anak Palestina di Tepi Barat, tewas dieksekusi tentara Israel. 10 di antaranya tewas tertembak peluru panas. Sementara sepanjang tahun 2016, sebanyak 35 anak Palestina dibunuh tentara Israel.

Tak hanya itu, menurut catatan Addameer, kelompok HAM Palestina, lebih dari 12 ribu anak-anak Palestina ditangkap oleh tentara Israel sejak tahun 2000. Lalu, hingga Agustus 2017, ada 331 anak yang masih mendekam di penjara Israel.

Radi Darwish, pengacara Addameer mengatakan, anak-anak Palestina yang ditahan tentara Israel itu jumlahnya fluktuatif sesuai situasi politik dan keamanan di Yerusalem. Dia mencontohkan, selama demonstrasi digelar di Masjid Al-Aqsa pada musim panas lalu, jumlah anak Palestina yang ditangkap meningkat signifikan. "Secara umum, tahun ini telah terjadi peningkatan penahanan terhadap anak-anak."

Zakaria Odeh, dari Koalisi Sipil untuk Hak-hak Palestina menyatakan, anak-anak Palestina sengaja menjadi target penangkapan. Mereka yang ditangkap itu sebagian besar berasal dari keluarga yang menetap di Yerusalem, terutama di Silwan, Ras al-Amoud, Issawiyeh dan Shuafat.

Di Silwan dan Ras al-Amoud, anak-anak yang ditangkap hampir setiap hari. Karenanya, dia menekankan pentingnya kampanye untuk meningkatkan kesadaran guna menekan praktik penangkapan terhadap anak-anak. "Organisasi seperti Save the Children melakukan lokakarya untuk orang tua dan anak-anak mengenai hak mereka, memberi tahu mereka tentang apa yang dapat dilakukan jika terjadi penangkapan dan interogasi," katanya.

Dari catatan Amnesty Internasional, ada ratusan anak-anak Palestina yang diadili Pengadilan Militer setiap tahun. Proses penangkapannya juga sering dilakukan malam hari. Tentara Israel berdalih, anak-anak Palestina itu ditangkap karena melakukan penganiayaan. Lalu, anak-anak itu diboyong dengan cara ditutup matanya dan menjalani interogasi yang intimidatif, tanpa didampingi pengacara maupun keluarganya.

Meski menghadapi ancaman itu, nyali Ahed dan anak-anak Palestina lainnya tak menciut. Situasi dan kondisi yang membentuk mereka menjadi sosok pemberani. Dalam sebuah wawancara dengan NBC News pada pertengahan September 2015 lalu, Ahed mengatakan, "Kami, orang-orang Palestina tidak akan menunggu Saladin (Sultan Saladin, pahlawan Islam) untuk membebaskan. Kami akan membuat Saladin sendiri," kata Ahed yang bercita-cita menjadi pengacara. 

Mewarisi Keberanian

Keberanian Ahed merupakan warisan orang tuanya. Bassem yang berusia 50 tahun bergabung dengan Fatah dan menjadi bagian dari gerakan yang menentang pendudukan yang dilakukan tentara Israel. Dia belajar ilmu ekonomi di Universitas Birzeit dan mendapatkan gelar magister hukum internasional dari Universitas Barcelona, Spanyol.

Bassem adalah seorang direktur di Kementerian Dalam Negeri Palestina. Dia juga kerap mengorganisir gerakan rakyat Palestina untuk menentang Israel. Bassem ditangkap tentara Israel untuk pertama kalinya tahun 1988.

Kemudian, dia dibebaskan. Penjara tak membuatnya berhenti memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Lalu, dia ditangkap lagi tahun 1993 dan menjadi korban penyiksaan berat saat di penjara. Akibatnya, salah satu kaki dan tangannya lumpuh. Dia juga pernah mengalami koma selama delapan hari akibat disiksa tentara Israel.

Bassem juga dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri. Pihak berwenang Israel juga mengeluarkan ancaman kepada 20 anggota keluarganya. Ancaman itu berisi akan melarang mereka menetap di Nabi Salih.

Sementara Nariman lahir di Arab Saudi tahun 1977. Dia mendapatkan pendidikannya di Ramallah dan ditangkap beberapa kali oleh tentara Israel. Dia juga tidak luput dari kekerasan yang dilakukan tentara Israel. Nariman pernah dipukuli karena memotret tentara Israel yang melakukan serangan kepada warga Palestina di Nabi Sabil.

Keberanian Ahed, termasuk warga desa lainnya juga terbentuk karena situasi dan kondisi di lingkungan. Mereka melakukan perlawanan karena kedamaiannya terusik oleh ulah tentara Israel yang berupaya menyerobot lahan dan rumahnya.

Desa Nabi Sabil yang mereka tempati menarik perhatian Israel untuk menguasainya. Karena, desa itu subur. Bukit di sekitarnya hijau, diselingi kebun zaitun. Sebagian besar warganya bekerja sebagai petani. Sayang, produksi pertanian berkurang karena areanya dicaplok tentara Israel dan dijadikan pemukiman Yahudi yang mengakibatkan berkurangnya sumberdaya air.

Desa itu terletak di sekitar 20 kilometer barat laut dari Kota Ramallah di Tepi Barat. Nenek moyang mereka sudah menetap di desa itu sejak tahun 1600-an. Mereka datang dari Hebron. Mereka yang kini menetap di Nabi Sabil merupakan generasi kedua yang hidup di bawah bayang-bayang pendudukan Israel.

Lantaran hak-hak kepemilikan atas tanah dan rumahnya dirampas, warga di sana rutin menggelar demonstrasi sejak tahun 2009. Warga menentang perluasan pemukiman Yahudi, Halamish, di dekat desanya. Mereka menilai, Halamish yang didirikan tahun 1976 itu mencaplok tanah yang diwarisi leluhurnya. Kondisi Nabi Sabil kian memprihatinkan. Selain luasnya yang kian menyusut, pembangunan pemukiman Halamish telah mengambil alih sumber air di Nabi Salih.

Kini, warga Desa Nabil Sabil tak lagi bisa menginjakkan kaki di tanah leluhur sendiri setelah Pemerintah Israel membangun tembok pembatas di tahun 2008. Dan, upaya perluasan pemukiman Yahudi itu hingga kini terus dilakukan.

Demi mempertahankan sejengkal tanah, warga Isreal sering bentrok dengan tentara Israel yang dilengkapi persenjataan modern. Tak sedikit korban jiwa berjatuhan.  Meski darah dan air mata bercucuran, gelombang demonstrasi tak menyusut. Bahkan, kian membesar. Rakyat Palestina tidak akan diam menghadapi ulah Israel yang ingin menguasai desa lain, termasuk melenyapkan penduduk dan identitas Palestina.

Rumah Ahed berada di Area C. Rumah itu dibangun sejak tahun 1964. Namun, di tahun 2010, rumah itu terancam akan dibongkar tentara Israel. Dan, Bassem dan keluarganya siap membayar harga untuk menghalau rencana jahat itu.

Area C mencakup 60 persen wilayah Tepi Barat yang menghampar luas dari bagian timur Tepi Barat. Wilayah itu dikelilingi lereng pegunungan Samaria sampai Sungai Yordan. Israel pun membatasi pembangunan pemukiman secara ketat kepada rakyat Palestina di wilayah tersebut. Sementara Area B yang masuk wilayah Tepi Barat sekitar 22 persen dan area A yang mencapai 18 persen.

Sebagian besar penduduk Palestina di Tepi Barat tinggal di area A dan B. Ada sekitar 2,8 juta warga Palestina yang menetap di sana. Sedangkan di area C hanya menampung sekitar 150 ribu warga Palestina yang menyebar di 532 wilayah pemukiman. Sementara pemukiman warga Israel sejak tahun 2015 di huni 389.250 orang dan menetap di 135 wilayah. Ada pula beberapa wilayah ilegal yang diklaim otoritas Israel.

Bassem tahu persis sejarah tanah yang diwarisi leluhurnya dicaplok tentara Israel. Leluhurnya datang dari Hebron 400 tahun lalu dan menjadi bagian dari perjuangan melawan Turki, Inggris, dan sekarang Israel.

Dia juga masih ingat kebrutalan tentara Israel yang menembaki demonstran Palestina. Sampai-sampai, adik perempuannya terbunuh akibat pemukulan di gedung pengadilan.

"Semua penduduk Nabi Salih berhubungan dengan darah," katanya. Sebanyak 22 orang keluarganya mati syahid sejak menghadapi Israel tahun 1967. "Di desa ini hanya 600 orang, setiap keluarga telah menderita akibat pendudukan Israel dengan anggota keluarganya terbunuh atau tanah mereka dicuri."

Keberanian Bassem dan Nuraiman itu diwarisi anak-anaknya. Ahed kini tumbuh menjadi aktivis yang berani. Di usia dini, dia sering terlibat dalam demonstrasi dan agitasi yang menunjukkan penolakan terhadap perluasan pemukiman Yahudi dan penahanan orang-orang Palestina.

Ahed berkeyakinan yang sama dengan keluarganya. Dia percaya, demonstrasi yang terorganisir akan mendorong pengakuan internasional akan kemerdekaan bangsanya.

M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Al Jazeera/The Guardian/NBC News/BBCWashington Post/Reuters
 
Ekonomi & Bisnis
07 Mei 18, 12:45 WIB | Dilihat : 2805
Soal TKA Yang Diperlukan Cara Bukan Alasan
25 Apr 18, 01:49 WIB | Dilihat : 811
10 Alasan Perusahaan Gagal Dalam Layanan Prima
23 Apr 18, 12:58 WIB | Dilihat : 714
ICPF2018 Jendela Industri Kreatif dan Budaya
Selanjutnya
Humaniora
07 Agt 18, 10:55 WIB | Dilihat : 1541
Igauan Intelektualisma Pasal Lawan dan Libas
27 Jul 18, 10:57 WIB | Dilihat : 1965
Pegiat Budaya Depok Silaturrahmi Ke PCNU Kota Depok
21 Jul 18, 14:02 WIB | Dilihat : 1154
Gigi
Selanjutnya