Adzan Pilu di Tengah Coronastrope

| dilihat 197

bang sèm

Fajar belum lagi tiba, malam masih gelap. Telepon bimbit saya berbunyi. Pesan melalui whatsapp masuk, dari Bandung, mengingatkan saya untuk segera berjaga dari tidur.

Seseorang yang secara pribadi sangat dekat dengan saya, selalu mengirim pesan setiap waktu salat sudah masuk. Sejak bertemu lagi selama 24 purnama berlalu, setelah bertahun-tahun tak pernah sua, di setiap akan masuk waktu salat, kami saling mengingatkan. Namun, selalu saja, saya kalah cepat untuk mendahului mengirim pesan.

Selesai mandi dan berwudhu, sambil mendengar salawat tarhim yang amat menggugah, setiap Jum'at saya membiasakan diri membuka pintu balkon rumah, berdiri memandang lingkungan sekeliling kompleks yang masih senyap. Begitu masuk waktu salat, adzan pun kumandang. Terasa lirih.. setiap kali kumandang saat masuk waktu subuh, maghrib dan isya.'

Sejak Maret 2020, saya selalu mendengar kumandang adzan yang melodius, itu. Belakangan hari, ketika nanomonster Covid-19 semakin banyak menjemput syuhada, para martir yang menjemput kematian karena virus yang bermula merebak di Wuhan, China, itu adzan yang dikumandangkan berlanggam Nahawand. Sebelumnya, muadzin di musalla di luar kompleks tempat saya tinggal, selalu mengumandangkan adzan dengan nada Rast, yang biasa kita dengar setiap kali berada di Makkah al Mukarramah.

Adzan lirih langgam Nahawand, disebut seperti itu, karena pertama kali berkumandang di Nahawand, Hamadan - Iran. Saya biasa mendengar langgam ini setap kali berkunjung ke Banda Aceh. Awal dekade 90-an, Emha Ainun Najib menyebut adzan ini, sebagai 'adzan luka.' Pun sekali waktu, mendengar adzan dengan langgam itu dikumandangkan Hassen Rasool di London. Adzan dengan langgam ini juga yang sering saya dengar di Masjid Putra - Putra Jaya dan Masjid Jamek Kuala Lumpur.

Adzan dengan langgam Nahawand dan langgam Rast sama menggugah dan kompatibel dengan nada dan irama salawat tarhim. Selalu memantik kesadaran untuk merefleksi sekaligus bercermin diri.

Selama masa pandemi, saya memang nyaris lebih banyak berada di rumah, dan hanya menerima tahu dari lingkungan keluarga terdekat. Hanya sekali sekala saja keluar rumah untuk menghadiri pertemuan hybrid sangat terbatas, antara lain di Balaikota DKI Jakarta, gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Gelanggang Olah Raga Bung Karno.

Empat kali berkunjung ke rumah sahabat yang menikahkan anaknya, karena menjadi saksi pernikahan tersebut, masih di Jakarta. Dua kali saya ke Bogor untuk hal yang sama dan untuk pertemuan keluarga.

Sebagian terbesar aktivitas saya lakukan secara virtual. Termasuk dalam melakukan proses kolaborasi kreatif.

Menyikapi pandemi nanomonster Covid-19 yang juga saya sebut sebagai Coronastrope atau petaka Coronavirus, saya mengikuti prinsip dasar yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW -- sebagaimana saya baca di beberapa kitab hadits --, yakni: "Tidak keluar dari episentra dan tidak mengunjungi episentra."

Adzan pilu di tengah Coronastrope, mengingatkan saya untuk dua hal.

Pertama, batas ruang hidup fana (duniawi) yang akan berlanjut dengan ruang hidup kekal (ukhrawi). Selalu menghidupkan kesadaran kemanusiaan tentang hakekat kemerdekaan asasi yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan segala tanggungjawab dan kewajiban yang berada di dalamnya. Baik yang bersifat sangat personal, maupun yang berdimensi sosial. Menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta.

Kedua, optimisme hidup, bahwa Allah selalu menyediakan inspirasi di balik kesulitan, termasuk ketika dihadapkan oleh petaka. Optimisme yang mesti dipelihara dengan keyakinan, bahwa petaka adalah bagian tak terpisahkan dari laku hidup manusia yang sangat mudah derhaka. Apalagi virus Corona, merupakan virus zoonosis, akibat kelancangan manusia dalam memperlakukan flora dan fauna.

Adzan pilu itu sekaligus menyadarkan tentang dimensi eksistensi Allah sebagai al Khaliq (Pencipta Semesta, termasuk manusia di dalamnya), dengan seruan luar biasa: Allahu Akbar, Allahu Akbar. Seruan yang mengingatkan manusia bukan apa dan sesiapa.

Adzan pilu itu sebagaimana adzan pada umumnya, memantik kesadaran mereka yang muslim, untuk konsisten pada janji dan sumpah setia berdimensi tauhid dan kesaksikan tentang kerasulan Muhammad SAW sebagai sayyidal mursalin sekaligus khataman nabiyyin, nabi penutup: Asyhadu an la Ilaaha ila Allah, wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah. Rasul sekaligus nabi yang menggerakan transformasi dimensional,  yang menyempurnakan pengakan hukum dengan keadilan, mengembangkan estetika dengan peradaban, serta, menyempurnakan cinta dengan kemanusiaan. Rasul dan nabi yang dipilih Allah menjadi manusia utama memperbaiki peradaban manusia (innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq).

Adzan pilu, itu sebagaimana adzan pada umumnya, selalu menggerakkan kesadaran dengan seruan menegakkan salat, agar manusia selalu memahami esensi waktu, agenda, momentum pertemuan spiritual manusia dengan khaliq-Nya, agar manusia selalu bertindak meninggalkan perbuatan fasik (termasuk memproduksi dan menebar gosip - ghibah, wadul - hoax - buhtan, fithan - fitnah, namimah - adu domba) dan meninggalkan perbuatan keji - mulai dari membunuh dalam makna harafiah maupun dalam makna ibarah (tak terkecuali membunuh karir orang), maksiyah dan segala laku buruk yang mengekspresikan sikap inkar - derhaka kepada Allah. Hayya alas shalaah.. Hayya alas shalaah.

Adzan pilu, itu sebagaimana halnya adzan pada umumnya, selalu menghidupkan kesadaran nuraniah untuk terus memelihara spirit kemenangan hakiki, termasuk dalam berjihad melawan diri sendiri, menekuk dan menaklukkan segala nafsu jahat yang ada di dalam diri.  Menyerukan kaum beriman untuk memenangkan kebajikan dalam esensi fastabiqul khairaat - berlomba dalam kebajikan dengan menghidupkan sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan dan siyasah (cara) hidup dalam satu tarikan nafas. Hayya alal falaah.. Hayya alal falaah.

Adzan sebagai seruan untuk menegakkan salat, berdimensi personal dan sosial, diikuti oleh zakat, infaq, sadaqah dan wakaf tak hanya menyediakan imbalan di akhirat, melainkan juga imbalan di dunia, karena Allah sebagaimana diajarkan Rasulullah Muhammad SAW, menegaskan tujuan hidup: bahagia di dunia, bahagia di akhirat, terbebas atau terhindar dari petaka.

Adzan yang dikumandangkan dengan nada, irama, dan langgam yang terbaik, setidaknya Nahawand dan Rast, sesuai dengan suasana kebatinan dan momentum peristiwa hidup bila disimak, dipahami, dan ditelaah dengan baik, akan memantik kita untuk menyegerakan salat, dikuatkan sabar (di dalamnya terdapat ikhtiar optimistik) dalam menghadapi dinamika kehidupan. Termasuk dalam memenngkan situasi menghadapi Coronastrope.

Adzan menyadarkan kita untuk segera membuktikan ketaatan, kepatuhan, dan keberserhan diri hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Bukan yang lain. Inilh seruan yang memandu kita untuk rukuk dan sujud, seraya memohon kepada Allah, agar kita terlindungi dari kejahilan dan kejumudan yang memicu ketidak-mampuan menghadapi pandemi karena pongah, derhaka, dan tak mau bertobat. Sekaligus menyadarkan, agar kita bertobat telah berbuat keliru memilih imam yang suu,' sehingga kita terjerembab ke dalam kubangan petaka.. |

Editor : eCatri
 
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 334
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 419
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 591
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1936
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2299
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
Selanjutnya