Senja dan Siklus Kehidupan

| dilihat 1823

SENJA turun. Malam ganti bergulir hingga fajar tiba dan pagi mengisi hari-hari baru. Begitulah fenomena alam yang terus bergerak tanpa henti. Semua itu bergerak sebagai hukum alam, sunnatullah yang tak bisa diatur dan dikendalikan manusia.

Semua itu kemudian menjadi tanda-tanda kehidupan, ketika ilmu pengetahuan teknologi ‘membaca’-nya dengan ilmu astronomi dan astrologi. Kemudian isyarat pergantian waktu dijadikan sebagai momen untuk menentukan berbagai etape perjalanan hidup manusia.

Fenomena alam dijadikan sebagai penanda mulai dan berakhirnya proses ibadah pada bulan tertentu. Juga menjadi penanda berakhir dan mulainya hari baru di bulan baru dan tahun baru.

Lepas dari semua itu, yang pasti adalah fenomena senja dan malam, dan begitu seterusnya perguliran waktu, merupakan isyarat bahwa kehidupan terus bergerak dan “gusti ora sare.”

Dan kehidupan manusia dalam berbagai lapangan kehidupan, termasuk politik selalu ganti berganti.  Karena pasti akan ada yang turun dan naik, meskipun beragam cara dipakai manusia untuk naik dan turun. Padahal, Allah jua yang menaikkan dan menurunkan siapa saja dari kursi kekuasaan, sekaligus membesarkan dan mengecilkan, serta menghidupkan dan mematikan manusia, ciptaan-Nya.

Karenanya dalam mengikuti irama fenomena alam, yang mesti dilakukan adalah selalu mensyukuri nikmat yang Dia berikan. Nikmat Allah manalagi yang hendak didustakan?

Cara terbaik bersyukur adalah memelihara semesta, memelihara ciptaan-Nya. | Bang Sem

 
Polhukam
Seni & Hiburan
25 Jul 20, 17:36 WIB | Dilihat : 387
Butong Tak Bisa Pisah dengan Akordeon
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 799
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
19 Mei 20, 09:55 WIB | Dilihat : 644
Selamat Jalan Alex Aman Chalik
18 Mei 20, 05:02 WIB | Dilihat : 296
Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas
Selanjutnya