Presiden SBY : Tinjau Ulang Harga Elpiji 12 Kg

| dilihat 1001

JAKARTA, AKARPADINEWS. Com- Tak lama setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah – Jakarta, selepas berkunjung ke Jawa Timur menghadiri Haul Gus Dur dan Peringatan Harlah GP Ansor, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kontan menggelar rapat ihwal sengkarut harga gas elpiji 12 Kg.

Lantas, Presiden SBY perintahkan Kementerian BUMN dan Pertamina segera menggelar RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dalam tempo sesingkat-singkatnya. 1 x 24 jam.

Dalam Rapat Terbatas Kabinet Indonesia Bersatu II di Bandara Halim Perdanakusumah, Minggu (5/1) itu, Presiden SBY menjelaskan, pemerintah juga akan melakukan koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait permasalahan Elpiji non subsidi tersebut. Konsultasi itu juga sontak, digelar Senin (6/1) untuk memperoleh solusi tindakan yang harus dilakukan Pertamina, agar bisa sesuai dengan keputusan BPK.

Presiden SBY berharap, dengan mekanisme yang akan diambil, dan diharapkan hari Senin ini, Pertamina sudah melakukan peninjauan harga. “Sehingga, bisa disampaikan pada masyarakat mengenai apa yang akan dilakukan pertamina untuk mengatasi permasalahan harga Elpiji 12 Kg," ujar SBY.

Kenaikan harga Elpiji 12 Kg non subsidi yang dinaikkan Pertamina sejak 1 Januari 2014 hingga lebih dari 60 persen itu, memang mengguncang masyarakat. Kenaikan itu dilakukan, lantaran Pertamina merugi sampai Rp triliun per tahun. Mulanya,  harga elpiji 12 Kg adalah sekitar Rp 70 ribu. Saat ini, akibat kenaikan, itu menjadi Rp 120 ribu. Bahkan di Papua sampai mencapai Rp300 ribu. Di Pulau Alor, gas elpiji Rp12 Kg itu melonjak sampai Rp200 ribuan.

Dalam artikelnya di salah satu surat kabar nasional, Staf Khusus Presiden SBY Bidang Ekonomi Pembangunan, Firmanzah menyebut, langkah Presiden SBY tersebut merupakan langkah bijak yang harus ditempuh.

Aksi Korporasi

SEBELUMNYA, Pertamina beralasan, keputusan menaikan harga elpiji non subsidi kemasan 12 Kg, itu merupakan aksi korporasi, menyusul tingginya harga pokok LPG dipasar dan turunnya nilai tukar rupiah. Kondisi itu membuat kerugian Pertamina kian membengkak.

Pertamina menyebut, dengan konsumsi Elpiji non subsidi kemasan 12kg tahun 2013 yang mencapai 977.000 ton, di sisi lain harga pokok perolehan Elpiji rata-rata meningkat menjadi US$873. Padahal, nilai tukar rupiah melemah terus terhadap dolar. Akibatnya, kerugian Pertamina sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp6 triliun. Kerugian tersebut timbul sebagai akibat dari harga jual Elpiji non subsidi 12kg yang masih jauh di bawah harga pokok perolehan.


Ali Mundakir, VP Corporate Communication Pertamina menjelaskan, harga yang berlaku saat ini merupakan harga yang ditetapkan pada Oktober 2009 yaitu Rp5.850 per kg, sedangkan harga pokok perolehan kini telah mencapai Rp10.785 per kg.

Dengan kondisi ini maka Pertamina selama ini telah "jual rugi" dan menanggung selisih kerugian, sehingga akumulasi kerugiannya mencapai Rp22 triliun dalam 6 tahun terakhir. || noora

Editor : Nur Baety Rofiq | Sumber : Pertamina, presidenri.go.id
 
Energi & Tambang
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 19, 08:57 WIB | Dilihat : 441
Langkah HK Membentang Masa Depan di Sumatera
04 Okt 19, 22:49 WIB | Dilihat : 183
Suap Menyuap Direksi BUMN
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 373
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 225
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
Selanjutnya