Presiden SBY : Tinjau Ulang Harga Elpiji 12 Kg

| dilihat 918

JAKARTA, AKARPADINEWS. Com- Tak lama setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah – Jakarta, selepas berkunjung ke Jawa Timur menghadiri Haul Gus Dur dan Peringatan Harlah GP Ansor, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kontan menggelar rapat ihwal sengkarut harga gas elpiji 12 Kg.

Lantas, Presiden SBY perintahkan Kementerian BUMN dan Pertamina segera menggelar RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dalam tempo sesingkat-singkatnya. 1 x 24 jam.

Dalam Rapat Terbatas Kabinet Indonesia Bersatu II di Bandara Halim Perdanakusumah, Minggu (5/1) itu, Presiden SBY menjelaskan, pemerintah juga akan melakukan koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait permasalahan Elpiji non subsidi tersebut. Konsultasi itu juga sontak, digelar Senin (6/1) untuk memperoleh solusi tindakan yang harus dilakukan Pertamina, agar bisa sesuai dengan keputusan BPK.

Presiden SBY berharap, dengan mekanisme yang akan diambil, dan diharapkan hari Senin ini, Pertamina sudah melakukan peninjauan harga. “Sehingga, bisa disampaikan pada masyarakat mengenai apa yang akan dilakukan pertamina untuk mengatasi permasalahan harga Elpiji 12 Kg," ujar SBY.

Kenaikan harga Elpiji 12 Kg non subsidi yang dinaikkan Pertamina sejak 1 Januari 2014 hingga lebih dari 60 persen itu, memang mengguncang masyarakat. Kenaikan itu dilakukan, lantaran Pertamina merugi sampai Rp triliun per tahun. Mulanya,  harga elpiji 12 Kg adalah sekitar Rp 70 ribu. Saat ini, akibat kenaikan, itu menjadi Rp 120 ribu. Bahkan di Papua sampai mencapai Rp300 ribu. Di Pulau Alor, gas elpiji Rp12 Kg itu melonjak sampai Rp200 ribuan.

Dalam artikelnya di salah satu surat kabar nasional, Staf Khusus Presiden SBY Bidang Ekonomi Pembangunan, Firmanzah menyebut, langkah Presiden SBY tersebut merupakan langkah bijak yang harus ditempuh.

Aksi Korporasi

SEBELUMNYA, Pertamina beralasan, keputusan menaikan harga elpiji non subsidi kemasan 12 Kg, itu merupakan aksi korporasi, menyusul tingginya harga pokok LPG dipasar dan turunnya nilai tukar rupiah. Kondisi itu membuat kerugian Pertamina kian membengkak.

Pertamina menyebut, dengan konsumsi Elpiji non subsidi kemasan 12kg tahun 2013 yang mencapai 977.000 ton, di sisi lain harga pokok perolehan Elpiji rata-rata meningkat menjadi US$873. Padahal, nilai tukar rupiah melemah terus terhadap dolar. Akibatnya, kerugian Pertamina sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp6 triliun. Kerugian tersebut timbul sebagai akibat dari harga jual Elpiji non subsidi 12kg yang masih jauh di bawah harga pokok perolehan.


Ali Mundakir, VP Corporate Communication Pertamina menjelaskan, harga yang berlaku saat ini merupakan harga yang ditetapkan pada Oktober 2009 yaitu Rp5.850 per kg, sedangkan harga pokok perolehan kini telah mencapai Rp10.785 per kg.

Dengan kondisi ini maka Pertamina selama ini telah "jual rugi" dan menanggung selisih kerugian, sehingga akumulasi kerugiannya mencapai Rp22 triliun dalam 6 tahun terakhir. || noora

Editor : Nur Baety Rofiq | Sumber : Pertamina, presidenri.go.id
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1286
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 985
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 984
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 696
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 886
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 233
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 377
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya