Luksemburg Segera Menambang di Asteroid

| dilihat 3803

AKARPADINEWS.COM| SUMBER daya mineral yang terkandung di perut bumi jumlahnya makin terbatas. Kandungannya dipastikan akan habis lantaran terus-terusan dieksploitasi. Karenanya, diperlukan upaya mencari sumber daya mineral yang tidak bersumber dari perut bumi. Salah satunya, dengan menambang di luar angkasa. Dan, itu yang tengah dipersiapkan Pemerintah Luksemberg.

Kementerian Ekonomi Luksemburg sudah mengumumkan secara resmi terkait rencananya menjadi pionir yang memanfaatkan potensi sumber daya mineral dari benda luar angkasa, seperti asteroid. Etienne Schneider, Menteri Ekonomi Luksemburg mengatakan, tujuan penambangan luar angkasa adalah membuka akses pemanfaatan potensi mineral yang belum tereksplorasi.

“Tujuannya ialah untuk membuka peluang untuk pemanfaatan sumber daya mineral pada bebatuan yang ada di luar angkasa sebagai upaya untuk tidak merusak habitat alam di bumi. Kami akan mendukung pembangunan ekonomi jangka panjang pada sektor industri teknologi luar angkasa dan industri satelit,” ujarnya, dilansir Financial Times, Kamis (4/2).

Schneider menjelaskan, untuk mengeksekusi rencana tersebut, pihaknya akan bekerjasama dengan dua perusahaan di bidang luar angkasa milik Amerika Serikat (AS), yakni Deep Space Industries dan Planetary Resources. Ke depan, menurut Schneider, Luksemburg tidak menutup kemungkinan akan bekerjasama dengan lembaga lain agar penambangan lekas terlaksana. Sementara terkait dengan dana yang dikeluarkan untuk operasional kegiatan tersebut, Schneider tidak bersedia menyebutkan jumlahnya karena masih dinegosiasi dengan parlemen.

Luksemburg menunjukkan keseriusan untuk menambang di luar angkasa. Jean-Jacques Dordain, mantan kepala Europian Space Agency mengatakan, Luksemburg tengah menggodok regulasi hukum untuk melegalkan usaha penambangan luar angkasa. “Luksemburg tengah membuat regulasi hukumnya sehingga mereka dapat melakukan eksplorasi sumber daya mineral luar angkasa secara legal. Saya amat yakin bahwa visi Luksemburg itu merupakan terobosan besar pada bidang sains dan ekonomi,” ujarnya.

Meski terdengar mustahil, Dordain mengatakan, sebenarnya teknologi untuk penambangan di luar angkasa sudah dikembangkan. “Kita sudah tahu bagaimana untuk sampai ke asteroid yang mengambang di luar angkasa, menggalinya dan mengambil sampelnya untuk diteliti di bumi,” katanya.

Dordain memperkirakan, dana yang dibutuhkan sangat besar, bisa mencapai miliaran dolar AS. Namun, dia mengingatkan, jika berhasil, kegiatan ini akan memberikan keuntungan berlipat-lipat. “Pada akhirnya, ini (penambangan luar angkasa) akan menghasilkan keuntungan hingga triliunan dolar AS,” ungkapnya.

Asteroid yang disasar oleh Luksemburg untuk penambangan luar angkasa, berada di lingkaran benda luar angkasa, dekat dengan bumi atau Near Earth Object (NEO). Sebuah asteroid diperkirakan berisikan ragam logam dasar, seperti besi, nikel, dan kobal. Bahkan, ada sebagian asteroid yang berisikan logam berharga seperti emas, platinum, dan rhodium.

Penambangan luar angkasa juga berkemungkinan memberikan hasil mineral lainnya, seperti penarikan unsur air dan oksigen dalam asteroid. Dengan begitu, bumi akan memiliki cadangan air bersih dan oksigen dari penambangan luar angkasa. Namun, hal itu masih perlu pendalaman, karena masih membutuhkan teknologi yang lebih maju.

Langkah Luksemburg itu patut diapresiasi. Namun juga berpotensi masalah terkait kepemilikan secara hukum karena benda-benda luar angkasa merupakan benda bebas, yang tidak dikuasai suatu negara. Bukan mustahil, aktivitas penambangan di luar angkasa itu memicu konflik. Steven Feeland, profesor hukum internasional Western Sydney University menyatakan, soal penambangan yang dilakukan oleh Luksemburg akan berbenturan dengan beberapa aturan internasional yang dibuat Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Hal yang utama, ini (penambangan luar angkasa) akan berbenturan dengan aturan yang dibuat pada tahun 1967. Aturan itu mengatakan, secara umum, luar angkasa dan benda luar angkasa tidak dapat diklaim oleh negara manapun," terangnya. Dengan begitu, Freeland menambahkan, tidak ada yang dapat mengklaim kepemilikan atas asteroid, termasuk bulan. "Dan, bila akan dimasukan ke dalam aturan internasional, maka belum dapat dibayangkan seperti apa aturan yang akan dibuat,” terang Freeland pada ABC Australia, Kamis (4/2).

Freeland pun menyarankan agar para pemimpin dunia duduk bersama, membahas aturan agar lebih jelas. “Tren seperti ini (penambangan luar angkasa) memang tidak dapat dihindari dan menurut saya hal itu bagus karena akan memberikan cara pandang baru mengenai potensi luar angkasa. Selain itu, penambangan luar angkasa akan membuka cakrawala baru soal masa depan manusia dan berbagai isu yang mengitarinya,” ujarnya.

Senada dengan Freeland, Dordain berpendapat, penambangan luar angkasa perlu dijadikan isu oleh para pemimpin dunia agar jelas legalitasnya. Tetapi, Dordain menambahkan, masalah legalitas jangan sampai menjadi hambatan. “Saya yakin kita dapat menemukan solusi untuk hal ini (penambangan luar angkasa),” pungkasnya.

Penambangan luar angkasa memang memberikan harapan baru untuk mengatasi masalah kelangkaan sumber daya mineral. Tetapi, tak sekadar memastikan ketersediaan teknologi. Diperlukan legalitas dari aktivitas penambangan agar tidak terjadi konflik antarnegara.

Karena, potensi keuntungan yang akan didapat bukan angka yang sedikit. Bisa jadi, sebuah bangsa dapat menguasai dunia, lantaran mampu menguasai sumber daya mineral luar angkasa. Oleh sebab itu, isu penambangan luar angkasa perlu dijadikan isu sehingga muncul upaya mencari solusi, yang tentunya berorientasi pada kemaslahatan umat manusia di dunia.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 255
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1970
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Humaniora
04 Nov 21, 07:24 WIB | Dilihat : 299
Tolak Toleransi Zina di Kampus
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 612
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 405
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 253
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
Selanjutnya