Cerita dari Gunung Pani

| dilihat 1883

MAKSUD hati memihak rakyat, apa daya rakyat tertipu. Begitulah hikmah yang saya petik dari perjalanan ke Gunung Pani, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Bukan karena musang berbulu ayam, tapi investor berbulu KUD (koperasi unit desa).

Tuhan bermurah hati dengan daerah ini. Selain memberikan kesuburan dan menjadikan kawasan Gunung Pani sebagai kawasan hutan hujan tropis, Tuhan juga memberikan potensi tambang emas dan mineral ikutannya yang menggiurkan. Karenanya, jangan heran, bila banyak penambang rakyat berburu nasib dan harapan di sini.

Karena sering menimbulkan banyak masalah, bahkan menimbulkan aksi unjuk rasa yang anarkis, Pemerintah Kabupaten Pohuwato pun berupaya membenahi tata kelola daerah yang menjadi incaran para penambang ini. Mereka melakukan proses legalisasi atas para penambang tanpa izin (PETI) dan mendorongnya agar mampu memenuhi syarat dan ketentuan, seperti yang diamanatkan Undang Undang No. 4/2009 tentang Mineral dan Batubara. Pada tahun 2011, Bupati Pohuwato Syarief Mbuinga mengambil langkah yang banyak dipujikan banyak kalangan, karena memfasilitasi dan mendorong para PETI memenuhi kriteria untuk memperoleh jaminan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 38 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Bersama anggota Muspida Kabupaten Pohuwato, Pemerintah Daerah berusaha mengakomodasi kepentingan penambang rakyat untuk memperoleh Izin Usaha Pertambangan. Untuk itu, Bupati dan anggota Muspida tak segan berdialog dan bermusyawarah dengan para penambang rakyat.

Hasilnya? Penambang rakyat mulai membuka diri bergabung dalam koperasi. Pemerintah Kabupaten Pohuwato juga tak pelit memberikan Izin Usaha Pertambangan (IUP), berdampingan dengan kawasan tambang yang telah dikelola oleh investor nasional pemegang IUP yang telah menguasai antara 5.000 hektar sampai 10.000 hektar. Salah satu yang menerima berkah kebijakan yang dipandang populis, itu adalah Koperasi Unit Desa (KUD) Dharma Tani, Marisa. KUD ini memperoleh IUP penambangan emas seluas 100 hektar. Untuk bisa melakukan ‘aksi korporasi’ KUD ini, khususnya melakukan eksplorasi di 20 titik, berbagai pihak pun membantu. Mulai dari Gubernur, Direktur Jendral Mineral dan Batubara Kementerian ESDM (Energi dan Sumberdaya Mineral), Direktur Jendral Bina Usaha Kehutanan, bahkan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan sendiri memberikan izin pinjam pakai kawasan hutan produksi Gunung Pani.

Boleh jadi KUD Dharma Tani terbilang KUD yang hebat di negeri ini. Pemenuhan seluruh persyaratan dan ketentuan dapat dipenuhinya, sehingga sejak September 2011 sudah harus melakukan eksplorasi, karena izin pinjam pakai hutan produksi (yang bisa diperpanjang itu) akan berakhir penghujung September 2013. Dikatakan hebat, lantaran tak mudah melakukan eksplorasi sebanyak 45 titik dengan kedalaman sampai 3000 meter itu. Selain memerlukan teknologi yang memadai, tenaga kerja yang kompeten, juga investasi yang tidak sedikit.

Usaha pertambangan adalah usaha padat modal dengan return of invesment yang lama (sekitar 10 sampai 15 tahunan). Dari mana KUD Dharma Tani mendapatkan dana investasi? Ini yang menarik. Bukan dari pengusaha pertambangan nasional, apalagi BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Melainkan dari investor asing yang sudah lama mengincar lokasi pertambangan itu, tapi tak mau lelah mengikuti proses perizinan yang melelahkan. Bekerjasama dengan KUD Dharma Tani Marisa adalah pilihan bisnis yang jauh lebih mudah. Investor asing itu berlabel One Asia Resource yang dipimpin Stephen Walters dari negeri Kanguru. Pada website korporat itu disebutkan, Walters seorang engineer bergelar master teknik, anggota dari AusIMM – organisasi penambang Australia. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun melakukan eksplorasi dan eksploitasi emas, dan 25 tahun di antaranya, di Indonesia. Antara lain sebagai senior geologist di Montague Gold. Ia juga pernah menjadi manajer proyek New Hope Group di Sulawesi, yang bertanggung jawab atas kontrak karya seluas 400.000 hektar. Kemudian ia pindah ke Sulawesi Selatan sebagai manajer proyek dan memimpin survey awal wilayah pertambangan emas Awak Mas Gold Deposit.

Walters sempat bekerja sebagai senior geologist di Newmont Mining. Tahun 1999 dia sudah mengintip deposit emas di Gunung Pani, selepas mendirikan perusahaan konsultan mandiri untuk sejumlah perusahaan publik pertambangan di Kanada, Australia, dan Inggris. Walters merupakan salah satu co founder One Asia Resources Limited. Karena sudah lama beroperasi di Sulawesi, relasi Walters dengan para petinggi dan mantan petinggi di pulau kaya mineral, itu pun sangat karib. Alhasil, hubungan kerjasama dengan KUD Dharma Tani, Marisa pun terjalin, sehingga terbentuklah JORC (joint operation resource company).

Kandungan deposit emas yang Gunung Pani mencapai 1.880.000 ons emas, dengan mineralisasi oksida dengan pemuliaan yang sangat baik. One Asia Resource menjadikan proyek Pani  Satu sebagai timbunan pit resapan operasi terbuka, dan diharapkan dapat dimulai pada akhir 2015. Artinya, akan ada masa 7 tahun dari 22 tahun masa IUP yang akan mereka nikmati untuk mendulang emas.

Investor asing ini sangat optimistis akan mendulang untung melimpah. Penelitian yang dilakukan One Asia Resource menunjukkan operasi emas di Pani akan memiliki nilai ekonomi yang sangat baik, karena emas dapat diolah dengan menggunakan tumpukan murah proses resapan. Mineralisasi emas berupa asam volkanik akan diubah sebagai dan breksi tambalan, dengan diseminasi urat kuarsa dalam zona kontrak. Porsi saham One Asia Resource dalam kerjasama eksplorasi dan eksploitasi atas IUP KUD Dharma Tani Marisa, sebesar 90 persen.  Artinya, porsi KUD sendiri sebagai pemegang IUP hanya 10 persen. Itu versi One Asia Resource. Versi lain, cerita masyarakat di lapangan, sebenarnya porsi KUD hanya sebesar 0,4 persen. 9,6 persen saham dari kerjasama penambangan emas dengan mengandalkan IUP KUD ini, kabarnya, dimiliki oleh mereka yang berjasa memfasilitasi kerjasama itu.

Koq pengurus KUD Dharma Tani, Marisa mau? Mereka tergiur iming-iming pengembangan dan pemberdayaan anggota yang kelak akan menjadi pekerja di pertambangan emas itu. Tapi, ketika masa eksplorasi sesuai izin Menteri Kehutanan akan berakhir, belum ada tanda-tanda harapan dan impian itu bakal menjadi kenyataan. Inilah yang merisaukan. Kita senang koperasi unit desa bisa menambang emas secara profesional, kita juga memandang wajar kerjasama KUD sebagai institusi ekonomi yang sah dengan korporasi profesional bermodal besar. Tapi, ketimpangan dan ketidak-adilan dalam porsi saham proyek kerjasama pertambangan emas Gunung Pani, sangat menampak kesadaran logis kita.

Ada ketidak-adilan di dalamnya. Ironisnya, seluruh proses pemberian izin berlangsung mulus tanpa ada satu pihak pun yang melihat realitas kerjasama itu. Artinya, dengan sangat mudah kegiatan unit usaha koperasi dimanfaatkan para investor asing yang malas mematuhi amanah UU No. 4/2009 tentang Mineral dan Batubara. Sekaligus menabrak UU NO. 17/2012 tentang perkoperasian. Juga prinsip-prinsip dasar koperasi yang mengandung hakikat kedaulatan rakyat, demokrasi ekonomi, asas kekeluargaan dan kebersamaan, serta orientasi kesejahteraan rakyat berkeadilan sebagaimana diatur oleh konstitusi.

Apa yang terjadi di Gunung Pani, Pahuwato, menunjukkan, begitu mudahnya para pengambil keputusan negara di lingkungan pemerintahan yang abai menjaga dan mengembangkan koperasi kita. Bahkan membiarkan koperasi kita menjadi korban investor asing di sektor pertambangan. Akibatnya, meski memperoleh wewenang dan otoritas luar biasa, tetap saja koperasi kita tidak berkembang. Dan, anggotanya terus miskin persisten.. Duh !|

Editor : administrator
 
Lingkungan
11 Jul 19, 11:45 WIB | Dilihat : 600
Terowongan Dukuh
08 Jul 19, 11:20 WIB | Dilihat : 464
Gempa Bumi Dinihari Guncang Ternate Goyang Manado
24 Mar 19, 11:13 WIB | Dilihat : 710
Surat Gubernur Anies Baswedan untuk Pekerja Proyek MRT
Selanjutnya
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 654
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1481
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2396
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 1105
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya