Alih Fungsi Lahan Tak Terkendali

Banjir Mengancam Bekasi

| dilihat 2740

JAKARTA, AKARPADINEWS.COM | Apa yang diduga sejak setahun lalu, akhirnya kejadian. Minggu, 14 Februari 2016, bertepatan dengan hari kematian pendeta Valentino, banjir menggenangi ruas jalan tol Jakarta – Cikampek. Persisnya di KM34 Cikarang, dan KM37 tak jauh dari gerbang tol Kota Delta Mas.

Tak tanggung-tanggung air menggenang setinggi 1 meter, sehingga tak satupun kendaraan bermotor bisa melintas, seperti kicauan @TMCPoldaMetro, meneruskan akun twitter @dreas_life.

Seperti kebiasaan yang berlaku di negeri ini, pihak yang berkompeten, bukan mencari cara mengatasi masalah, tapi mengemukakan alasan di balik masalah. Kali ini, petugas Jasa Marga, seperti dikutip Sindonews, Iwan Abriyanto, mengemukakan penyebab masalah banjir itu, kolam ikan di pinggir tol jebol. Iwan menyebut, drainase jalan tol sudah bagus.

Kolam ikan di pinggir tol, milik sebuah resto yang menjanjikan makan nikmat di pinggir sawah, sudah bertahun-tahun ada di situ. Mustinya, sejak lama Jasa Marga mengantisipasi dengan melakukan audit kolam secara berkala. Jadi, tak perlu tanggul kolam ikan itu jebol.

Iwan tak menyebut, banjir itu sebenarnya kumulasi dari alih fungsi lahan yang tak terkendali di Bekasi. Termasuk pembangunan kota Delta Mas dan pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi, yang sejak beberapa tahun terakhir mengubah lahan serapan air menjadi kawasan dengan penetrasi yang luas, dan membuat arus air kala hujan, sedemikian deras turun ke jalur tol. Alih fungsi lahan yang berlangsung sejak dekade 70-an menyebabkan 19 kecamatan di Kabupaten Bekasi rawan banjir. Termasuk banjir yang disebabkan oleh luapan kanal Tarum Barat. Kanal ini merupakan saluran pengairan yang tersambung dengan Sungai Citarum, bendungan Jatiluhur, dan bendungan Cirata. Sungai Citarum sendiri, dikenal sebagai sungai paling berbahaya di dunia.

Informasi yang diperoleh Akarpadinews menyebut, Pemerintah provinsi Jawa Barat, sejak dua tahun terakhir gencar melakukan rehabilitasi dan membenahi sungai yang juga memasok air bersih bagi penduduk Ibukota Jakarta, melalui PT Jasa Tirta yang mengelola dua waduk di Purwakarta itu.

Sungai Citarum bermasalah sejak di hulu. Sejumlah perusahaan textil di wilayah Kabupaten Bandung, sejak bertahun-tahun mencemari sungai ini. Demikian juga peternakan rakyat yang berada di pinggi sungai. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, seperti pernah dikemukakan Wakil Gubernur Jawa Barat, terus menerus membenahi sungai ini, meski belum tuntas hingga ini.

Pembenahan sungai itu menjadi penting, selain untuk memfungsikan kembali Sungai Citarum, juga untuk menjamin pasokan air bersih bagi Jakarta, setelah melalui proses di Jatiluhur dan Cirata.

Selama ini, di wilayah Kabupaten Bekasi, yang menjadi langganan banjir setiap kali musim penghujan adalah Muara Gembong, Cabangbungin, Babelan, Tarumajaya, Pebayuran, Cikarang Timur, dan sebagian Cikarang Pusat. 

Sedikitnya embung dan setu di Kabupaten Bekasi juga membuat limpahan air dari anak-anak sungai yang menginduk ke Ciliwung, seperti Sungai Cikeas tak terkendali dan melimpas ke berbagai areal di Bekasi, termasuk Bekasi Timur dan Bekasi Barat.

Proses alih fungsi lahan di Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Purwakarta selama ini memang nyaris tak terkendali. Sejumlah penetrasi kawasan yang semula merupakan sawah dan serapan air, terlihat di berbagai kawasan Industri di daerah-daerah itu. Sejumlah lahan yang semula merupakan daerah serapan air, telah berubah menjadi kawasan industri dan permukiman.

Menelusuri wilayah Bekasi dari kawasan Jonggol, terlihat perubahan drastis tumbuhnya permukiman-permukiman baru, termasuk jalur lintas yang menghubungkan sejumlah kecamatan di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor dengan berbagai jalur tol, yang direncanakan sebagai jalur trans Java. Termasuk pembangunan tol Cimaci yang meliputi Kota Depok, Kota dan Kabupaten Bekasi.

PENCEMARAN CITARUM DAN ABRASI PANTAI

DATA yang dimiliki Akarpadinews mengisyaratkan, Sungai Citarum merupakan sungai dengan tingkat pencemaran air yang luar biasa. Di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum, nyaris tak ada satupun lokasi yang kualitas airnya memenuhi kriteria mutu air kelas II.  Tingginya kandungan koli tinja, oksigen terlarut dan zat tersuspensi, ada pada semua lokasi. Artinya, kesegaran air sangat rendah, sejak mulai dari Kecamatan Sapan, Cijeruk dan Daeyeuh Kolot di Kabupaten Bandung.

Seperti disebut di awal, pencemaran yang dilakukan oleh pabrik sepanjang DAS Citarum, domestik, rumah sakit, peternakan, dan pertanian, sangat sulit dikendalikan. 40 persen limbah di sungai ini merupakan limbah organik dan rumah tangga, yang akan berdampak pada pendangkalan Jatiluhur. Belum lagi pencemaran yang diakibatkan oleh limbah kimia atau industri yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Banjir yang melanda Kabupaten Bekasi, antara lain juga disebabkan oleh belum terbenahinya kawasan pesisir utara, berupa abrasi pantai  serta pendangkalan muara sungai. Penanaman kembali hutan bakau belum menunjukkan hasilnya. Terutama, karena abrasi pantai yang terus meluas setiap tahun.

Karena kondisinya semacam itu, frekuensi banjir, khususnya di Kabupaten Bekasi, sebagaimana halnya Kabupaten Karawang dan Indramayu akan terus meluas. Tingkat infiltrasi dan retensi untuk mencegah terjadinya banjir, kian menurun.

Banjir di Cikarang yang merendam ruas jalan tol Jakarta – Cikampek, tidak semata-mata hanya karena tanggul kolam ikan yang jebol, melainkan juga karena tingkat penetrasi yang menyertai beroperasinya jalan tol semakin meningkat. Karena begitu jalan tol dibangun dan beroperasi, segera beberapa kawasan lahan serapan air berubah menjadi permukiman dan kawasan industri. Dan pemerintah Kabupaten dan Kota Bekasi belum punya kemampuan untuk menghela banjir, karena anak-anak sungai di wilayah itu mempunyai volume terbatas.

Tekanan permukiman, perubahan fungsi tutupan lahan, pengelolaan sampah, erosi anak sungai, sedimentasi anak sungai di hilir, bangunan di sempadan sungai, dan sistem pengendalian air tidak memadai. Termasuk drainase yang selama ini cenderung dibangun ‘asal ada’ dan tidak terkontrol sepanjang tahun. Selebihnya, berkembangnya permukiman juga menurunkan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah yang kian meluas. Sedangkan konservasi lahan nyaris tak mendapat perhatian. | JM Fadhillah

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 177
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 414
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 208
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 697
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1679
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya