Catatan Imagineering_ N. Syamsuddin Ch. HAESY

Tak Gentar Hadapi Tantangan

| dilihat 2378

BAGAIMANA merumuskan masa depan dan meniti jalan sukses secara integral?

Pertanyaan semacam ini, seringkali muncul dan berkecambah di banyak benak, terutama pada musim susah penuh tantangan. Sejumlah imagineer, de Bono dan Diane Nijs menyebutkan beberapa kiat.

Bono, misalnya, menasihatkan pentingnya merumuskan visi personal berdasarkan berbagai indikator yang dihasilkan oleh sikap optimistis.

Akan halnya Diane Nijs, Professor in Imagineering pada Imagineering Academy, Belanda, mengisyaratkan pentingnya mengelola ruang terbuka untuk berekspresi secara kreatif. Termasuk di dalamnya intensitas dialog internal (perenungan) tentang berlakunya berbagai nilai baru (yang ditimbulkan oleh berbagai tantangan baru) di tengah kehidupan sosial sehari-hari.

Dengan kemampuan kreatif semacam itu, setiap orang akan memperkuat ketahanannya dalam menghadapi perubahan. Menurut Louis de Broglie, imagineer Perancis, sikap optimistis sebagai pijakan kokoh dalam menghadapi perubahan, akan mempertemukan kedalaman intuitif manusia dengan luasnya cakrawala pemikiran yang bisa dilakukan manusia. Termasuk dalam menggunakan pengalaman dan kemampuan keilmuan dan teknologi dalam mewujudkan gagasan.

Beranjak dari berbagai pemikiran itu, saya melihat lima faktor penting yang perlu diperhatikan setiap manusia untuk memperoleh kekuatan baru dalam menelusuri jalan suksesnya. Yaitu kemampuan organisasi, manajemen, teknologi, pemasaran, dan produktivitas.

Dalam hal kemampuan organisasi, setiap orang minimal harus mampu mengorganisasikan gagasan-gagasan dasarnya dalam berbagai inisiatif.

Bisa juga disebut sebagai kemampuan menghimpun potensi diri menjadi satu kekuatan, yang kemudian menjadi energi utama dalam merumuskan dan menetapkan visi hidup.

Terkait dengan inilah, manusia juga dituntut mempunyai keandalan manajerial. Mulai dari, secara sistemik merencanakan hidupnya dengan berbagai indikator pencapaiannya. Termasuk time line. Kemudian mengeksekusi rencana itu melalui berbagai proses dan ragam organisasi dirinya (yang menghimpun kekuatan think, instink, sense, dan feel) dan interaksinya dengan perkembangan sosial dan alam lingkungannya.

Lalu, tak pernah henti melakukan evaluasi melalui beragam review, dalam bentuk introspeksi diri.

***

Manusia dengan penguasaannya atas sains dan teknologi (yang paling sederhana sekalipun) menjadikan pengetahuan dan pengalaman sebagai tools kesuksesannya.

Tools yang akan menguatkannya memberi isyarat dan clue, terhadap kecenderungan sukses dan kemungkinan menemukan kegagalan.

Kemampuan ini, sering juga disebut sebagai kemampuan untuk tak pernah berhenti melakukan eksperimentasi, sehingga akhirnya memperoleh empirisma dinamis.

Berdasarkan semua itu, setiap manusia ditantang memasarkan kemampuan mengemas dan memasarkan gagasannya menjadi berbagai pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan khalayak lebih luas. Tak terkecuali, melakukan movement (pergerakan) dalam mempertemukan beragam potensi yang dimiliki orang lain. Kemampuan inilah yang kelak melahirkan profesionalitas.

Dengan semua kemampuannya, itu manusia menempatkan produktivitas sebagai salah satu stages penting dalam mencapai sukses. Karena pada dasarnya, produktivitas merupakan wujud nyata dari attitude, yang memadukan pemahaman dan pengalaman dalam satu kesatuan integral.

Panca Yojana, saya sebut sebagai lima titik pandang pencapaian manusia dalam keadaan bagaimanapun.

Suatu bentuk cara pandang visioner dalam melakukan perubahan. Dengan demikian, manusia harus menghindari berbagai kendala laten. Yaitu: kemalasan, kebergantungan, presumsi negatif, dan ergo sum berlebihan, yang akan mendorongnya menjadi manusia individualistik.

Panca Yojana, berpijak pada cara pandang positif alias positif thinking. Ini juga yang kita sebut sebagai cara pandang ‘cinta’. Suatu cara pandang yang selalu bergerak ke arah result.

Memang, setiap ada kemauan pasti selalu ada jalan. Tapi hanya kemauan positif yang akan memperoleh jalan yang terbaik. Memang, hidup adalah perbuatan.

Tapi, sebaik-baiknya hidup adalah melakukan perbuatan positif dan tak pernah henti memproduksi kebajikan. Karenanya, kita harus selalu berani bilang: Tuhan menempatkan manusia sebagai masterpiece yang selalu bisa berbuat kebajikan secara berkualitas.

Tak pernah gentar menghadapi kompetisi, dan selalu diberi ruang menjadi champion. Bukan hanya “the winner”.

Anda bisa !!! | 

Editor : sem haesy
 
Budaya
12 Jan 22, 08:56 WIB | Dilihat : 119
Cermin Adab di Jalan Tol
11 Jan 22, 09:20 WIB | Dilihat : 162
Pesona Masjid Rao Rao di Sungai Tarab Bungo Satangkai
17 Des 21, 07:31 WIB | Dilihat : 239
Membaca Zaman Edan dengan Isyarat Pantun Bogor
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 439
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
Selanjutnya
Polhukam
13 Jan 22, 09:43 WIB | Dilihat : 96
Demokrasi Palsu dalam Arus Politik Global
11 Jan 22, 09:09 WIB | Dilihat : 107
Politik Suasana Hati Rakyat
Selanjutnya