Menilik Logo-Logo Bank

Spirit Perubahan dan Pembaruan Bisnis

| dilihat 2091

LOGO tak hanya karya desain grafis. Bukan pula sekadar identitas perusahaan. Apalagi bagi perbankan dengan bisnisnya yang khas: mengandalkan kepercayaan. Karena itu, tak sedikit bank mengeluarkan dana sangat besar untuk menyempurnakan atau membuat (to create) logonya. Memang, belum ada standar harga yang baku untuk itu. Bank Mandiri, misalnya, mengeluarkan dana sebesar Rp15 miliar, untuk ongkos proses pembuatan dan aplikasi logo, yang dimenangkan konsultan asing.

Lepas dari murah atau mahalnya biaya yang harus dikeluarkan, pembuatan dan penyempurnaan logo perusahaan, apalagi bank, biasanya didasari oleh semangat perubahan. Termasuk menegaskan visi dan menguatkan misi bisnisnya masing-masing.

Bank Mandiri menyempurnakan logonya untuk menegaskan visi sebagai pebisnis jawara di Asia (2010). Bank BNI mengubah logonya, untuk memosisikan diri  sebagai corporate banking.  Akan halnya Bank BRI alias Bank Rakyat Indonesia, tak pernah mengubah lagi logonya, karena merasa sudah mantap sebagai bank yang berbasis rakyat  desa – kota.

Akan halnya berbagai Bank Pembangunan Daerah, membuat dan mengubah logonya, selaras dengan perubahan positioning mereka mengikuti perkembangan otonomi daerah.  Titik beratnya adalah perubahan sikap dan perilaku bisnis, yang mengekspresikan keterbukaan bank itu untuk berkompetisi secara luas. Sekaligus transformasi yang dijalani.

Tapi satu dua bank pembangunan daerah menghadirkan logo yang mencerminkan pembebasan diri untuk berkompetisi menjadi bank profesional, laiknya bank-bank lain. Tengoklah Bank Jabar Banten (BJB), Bank Jatim, Bank Aceh, Bank Jateng, Bank Riau kepri, Bank Jambi, Bank Sumut, Bank NTB, Bank Papua, bank DKI, dan lainnya. Hanya Bank Kaltim yang masih menyiratkan akronim BPD.

Perubahan logo berbagai bank, menunjukkan proses perubahan visi, misi, orientasi, dan core bussines masing-masing bank. Dan biasanya, juga disertai dengan perubahan tagline dan atau tema besar perubahan yang dilakukan. Bank BNI, sejak mengubah logonya dari versi “perahu di tengah gelombang,” ke versi numerik “46”, mengukuhkan logonya dengan inner spirit yang kuat: inspirasi. Tapi, posisi angka “46” di depan huruf BNI, dari aspek mitologi, akan membuat bank ini mengalami perkembangan tersendat, dibandingkan bila angka “46” diletakkan di belakang huruf BNI.

Bank ini nampak berusaha keras memosisikan dirinya sebagai inspirasi semua orang untuk selalu siap berkembang dan maju, dan optimistis. Dengan memilih warna merah, putih, orange dan hijau yang kontras, nampak logo, tagline, dan spirit yang diekspresikan melalui kata “inspirasi” menjadi pernyataan nilai perubahan sebagai corporate banking terunggul. Bank milik pemerintah yang diharap menjadi mitra terdepan bagi nasabahnya untuk menguatkan kemandirian.

Logo, selain sebagai produk kreatif yang mencerminkan kekuatan visi, memang merupakan pernyataan visi. Karenanya, logo terikat oleh indikator kemajuan dan perubahan. Secara aksentutif, logo dengan sendirinya, mencermin budaya korporat, juga sistem nilai yang diyakini oleh semua anasir korporasi. Yaitu, nilai yang dipelajari, diterapkan, dan dikembangkan secara berkesinambungan. Oleh karena itu, logo sekaligus mengekspresikan keberadaannya sebagai simbol perekat, yang berperan sebagai acuan perangai seluruh pemangku kepentingan, untuk mencapai visi dan misi perusahaan.

Logo, dengan demikian, menegaskan secara visual sistem nilai normatif, yang mampu mengomunikasikan semantic demand. Meliputi target pasar, pencapaian kinerja, budaya kerja, sistem tata kelola perusahaan, dan  performa bisnisnya secara keseluruhan. Karena itulah, selain mengikat seluruh anasir dari pemimpin puncak sampai staf, seluruh makna yang terkandung di dalam logo, juga mesti tercermin dari perilaku manajemen dalam berinteraksi dengan nasabahnya.

Logo, akan sangat bermakna, bila secara internal memberikan inspirasi, menebar nilai-nilai kemajuan, kekuatan transformasi (termasuk teknologi), dan mampu menghadirkan obyektif dan target ideal yang kudu dicapai, langsung kepada publik (konsumen, nasabah). Perubahan yang harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Secara sederhana, logo dapat disebut sebagai spirit kreatif perubahan dan pembaruan, yang dilandasi oleh kematangan dalam mengelola berbagai potensi, masalah, dan peluang.

Bagi perbankan, logo juga menggambarkan kepercayaan  diri (konfidensi) sebagai pengelola dana masyarakat yang paling dapat dipercaya, prudensia. Karena itu, logo bagi bank juga harus menampilkan ekspresi keunggulan kinerja dan tata kelola pelayanan. Mulai dari bagaimana menyambut, menyapa, dan melayani nasabah.  Bahkan pada bank tertentu yang khas, seperti Bank Muamalat, logo sekaligus memberikan gambaran tentang watak bisnis yang dijalaninya: syari’ah.  Antara lain, dengan menggunakan aksara arab (terbaca: Dien), yang bermakna: jalan hidup yang memandu nasabahnya membebaskan diri dari riba’.

Logo sebagai cermin transformasi, secara integral mesti nampak dalam logo bank. Khususnya untuk mencerminkan spirit memenangkan kepercayaan, simpati,  dan sikap respek seluruh stakes holder, secara integral dan menyeluruh (serentak dan serempak). Dengan demikian, maka logo tak hanya berhenti sebagai identitas belaka.

Perubahan dan penerapan logo bagi dunia perbankan, di sisi lain mesti memenuhi kebutuhan corporate image, yang menyentuh substansi corporate mindset. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dilakukan dengan berlangsungnya perubahan logo itu. Yakni: pemberdayaan seluruh potensi sumberdaya manusia sebagai human capital, menjadi inspire and energize people. Pemberdayaan yang berujung pada mutu kreatif. Karenanya logo bank, juga mesti memadukan keterpaduan artistik, estetik, dan etik secara utuh. | Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
24 Mar 19, 11:13 WIB | Dilihat : 611
Surat Gubernur Anies Baswedan untuk Pekerja Proyek MRT
06 Mar 19, 12:36 WIB | Dilihat : 336
Sungai Bersih dan Masjid Jamek Pesona Khas Kuala Lumpur
02 Mar 19, 00:45 WIB | Dilihat : 376
Beranda Jakarta dan Rekacita Masjid Terapung Ancol
27 Feb 19, 13:14 WIB | Dilihat : 343
Jangan Menutup Matahari dengan Jemari
Selanjutnya
Humaniora
22 Mei 19, 20:55 WIB | Dilihat : 29
Mengenang Perang Badr 17 Ramadan 02 Hijriah
18 Mei 19, 20:34 WIB | Dilihat : 181
Kejujuran Pergi Menjemput Petaka
06 Mei 19, 14:58 WIB | Dilihat : 386
Jujur itu Mulia, Curang itu Hina
Selanjutnya