Silat Kilah Dua Menteri Soal Beras Vietnam

| dilihat 1793

AKARPADINEWS.COM. Silat kilah soal beras impor illegal dari Vietnam kualitas medium yang bikin riuh belakangan hari, mencuat antara Menteri Pertanian Suswono dengan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.

Suswono menegaskan, pihaknya merekomendasikan beras Vietnam untuk diimpor. Suswono yang gemar memelihara jenggot itu, menyatakan, Kementeriannya hanya merekomendasi beras jenis Basmati, Japonica,  dan Thai Hom Mali. Tidak termasuk jenis Jasmine.

Sebaliknya, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, ketika bicara dengan pers di Istana Bogor, Selasa (28/1/2014) menyatakan, izin untuk importir dikeluarkan berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian. Ia lupa, kapan izin itu dikeluarkan oleh kementerian yang dipimpinnya.

Gita mengulang penjelasannya, bahwa Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan izin impor beras premium dari Vietnam sesuai dengan prosedur, yakni melalui rekomendasi dari Kementerian Pertanian.
Sebelumnya, pihak Kementerian Perdagangan menjelaskan, telah mengeluarkan izin impor beras jenis khusus sebesar 16.832 ton pada tahun 2013. Jenis beras yang diizinkan pemasukannya adalah beras jenis Basmati dan Japonica. 

Atas izin itu, masuklah 1.835 ton beras jenis Basmati dan 14.997 ton beras jenis Japonica, yang diudatangkan dari Vietnam. Karena kisruh, Kemendag tengah menelurusi beredarnya beras impor dari Vietnam, diluar jenis khusus yang diizinkannya.

Sehari berikutnya (Selasa, 29/2014) di Markas Besar TNI AD, Menteri Pertanian Suswono justru menegaskan, kementeriannya tidak pernah memberikan rekomendasi kepada Kementerian Perdagangan untuk mengimpor beras dari Vietnam. Dia mengaku sudah meminta data dari Direktur Jendral Pengolah dan Pemasaran Hasil Pertanian. “Tidak pernah memberikan izin atau rekomendasi kepada kementerian perdagangan," tukasnya.

Suswono bahkan menegaskan, beras dari Vietnam tersebut bukanlah beras jenis khusus dimana izin impornya berasal dari lintas kementerian. Hanya BULOG yang berhak mengimpor beras jenis itu.  "Kalau beras yang beredar tadi di pasar, tentu saja itu adalah beras bukan khusus,” tegasnya.

Artinya, beras yang hanya boleh diimpor oleh BULOG, tidak boleh beredar di pasar. Untuk itu, pihaknya sudah melayangkan surat meminta klarifikasi ke kementerian perdagangan. “Ini harus diusut tuntas siapa yang melakukan ini," katanya.

Gita berjanji mengusut soal beredarnya beras impor Vietnam yang jadi buah bibir, itu. Ia berjanji, akan mencabut izin perusahaan pengiumpor beras Vietnam, jika terbukti melanggar aturan. Namun menurut Gita, sejauh ini belum ada perusahaan pengimpor beras Vietnam yang terbukti melanggar ketentuan. Omongan Gita diperkuat Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi yang sebelumnya Wakil Menteri Pertanian dan pernah aktif di organisasi petani HKTI.

Untuk mengatasi persoalan, para importir dan pedagang beras di pasar Induk Cipinang meminta, Kementerian Perdagangan tidak lagi menerbitkan kebijakan yang ‘abu-abu.’ Mereka minta kode HS dipisah berdasar jenis beras.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar negeri kemendag, Bachrul Chairi, meluruskan. Menurutnya, pembedaan kode HS sudah dilakukan sejak 2007. Namun, menurut dia, untuk penyederhanaan, di dalam Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) 2012, komoditas beras berkode HS, sama.

Direktorat Jenderal yang disebut-sebut Chairi, ogah terkena tulah. Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal bea Cukai - Susiwijono, menyanggah. Dia bilang, musababnya adalah kode HS antara beras khusus dan beras umum pada BTKI 2012 dalam satu kode yang sama : 1006.30.99.00, padahal jenisnya berbeda. Penjelasan itu diamini oleh importir dan pedagang beras.

Berdasarkan koding itu, Direktorat Jenderal Bea Cukai mencatat, ada 58 perusahaan importir (selain BULOG) yang mengimpor beras sepanjang 2013, melalui Tanjung Priok dan Belawan dengan kode HS itu. Sebanyak 16.900 ton beras impor itu telah dilengkapi dengan SPI dan laporan surveyor (LS). Secara teknis, importasi beras termasuk komoditas berisiko rendah (low risk), karena sudah diperiksa di negara asalnya. | noora

Editor : Web Administrator | Sumber : Kompas dan Sumber Lain
 
Seni & Hiburan
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 606
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
19 Mei 20, 09:55 WIB | Dilihat : 527
Selamat Jalan Alex Aman Chalik
18 Mei 20, 05:02 WIB | Dilihat : 220
Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas
Selanjutnya
Energi & Tambang