Siasat Wohlstandspolitik

| dilihat 463

Sem Haesy

Di sudut kota Stockholm – Swedia, beberapa waktu lalu, dengan seorang teman, saya berkunjung ke kedai teh. Di situ, kami diskusi tentang perubahan minda (mindset) dari Corporate Social responsibility (CSR) menjadi corporate community responsibility (CCR).

Kelezatan teh itu serta merta meresap lewat tenggorokan. Tapi, seketika saya tersedak, ketika manajer kedai itu memberitahu, teh yang saya nikmati (dengan brand Jerman), ternyata produk perkebunan teh Gunung Talang, dekat Danau Kembar - Solok, Sumatera Barat.

Seketika terbayang penduduk Lubukselasih, pemetik teh di perkebunan Gunung Talang, seperti halnya pemetik teh di perkebunan teh Kerinci.

Saya jadi teringat cerita seorang pengusaha Jerman saat temu bisnis pengusaha Indonesia – Jerman di Berlin (2013 dan 2016). Pengusaha itu mengatakan, kelezatan cola di kedai-kedai minum kota Berlin dan kota lainnya di Jerman, juga tersebab aroma serbuk teh Gunung Talang. Konon, butiran serbuk teh yang tumpah dari proses penggilingan teh celup di pabrik itu.

Sambil mereguk sisa teh, terbayang di benak saya wajah-wajah pemetik teh Gunung Talak, yang sebagian besar masih miskin. Masih hidup dengan upah yang minim untuk memenuhi standar hidup layak. Padahal, mestinya, mereka (sebagaimana halnya seluruh rakyat Indonesia) tak pantas miskin.

Ya.., bagaimana tidak. Indonesia merupakan negara beriklim dengan tanah subur bermineral, yang memungkinkan seluruh sumber protein nabati dan hewani tumbuh. Inilah negeri subur yang pada masanya diburu bangsa-bangsa penjelajah (yang akhirnya menjadi bangsa penjajah).

Setarikan nafas, inilah negeri ironis yang pernah ditaklukan bangsa penjelajah (yang berubah menjadi penjajah) oleh senjata, teknologi, kecerdasan, dan siasat buruk. Dan ketika muncul kesadaran berbangsa dan melakukan perlawanan, mereka tikam kita dengan siasat fantasi Wohlstandspolitik (politik kesejahteraan) dan ethiek bleid. Antara lain, kultuur stelsel yang dilawan habis-habisan oleh para orang tua kita di masa lalu.

Pendirian berbagai lembaga pendidikan, seperti Thawalib, INS – Kayu Tanam dan Diniyah Putri Padang Panjang, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya adalah respon konkret menghadapi siasat ‘musang berbulu ayam’ penjajah. Orang-orang tua kita dulu memerangi sekaligus dutch disease (penyakit Belanda) yang mendidik rakyat senang meletakkan tangan di bawah.

Kini siasat Wohlstandspolitik menjelma dalam sosoknya yang lain: corporate social responsibility (CSR) alias tanggung jawab sosial perusahaan. Antara lain dengan pola aksi program yang sumir: ‘memberi bantuan sekadarnya dan pergi. Pemberdayaan masyarakat (social empowermen) labelnya, tapi praktiknya adalah pemerdayaan masyarakat (social deceive).

Itu sebabnya dalam konferensi social imagineer (perekacita sosial) yang berlangsung di tingkat dunia, CSR diubah bersifat inward. Terintegrasi dengan peningkatan kesejahteraan karyawan (antara lain melalui sistem penggajian 15 bulan gaji dalam setahun) internal perusahaan.

Akan halnya tanggung jawab kepada masyarakat, diwujudkan dalam bentuk corporate community responsibility (CCR). Orientasinya adalah keberdayaan masyarakat. (empowered community).

Jalan pikirannya tidak lagi, “membangun masyarakat,” melainkan “masyarakat membangun.” Masyarakat bukan obyek, melainkan subyek dalam keseluruhan konteks pembangunan. Secara filosofis, CCR merupakan ekspresi dari: Kaluak paku kacang balimbieng, tampuruang lenggang-lenggangkan. Anak dipangku kamanakan dibimbing, urang kampuang dipatenggangkan.

CCR merupakan medium untuk mewujudkan prinsip manfaat sosial Anak dipangku kemenakan dibimbing, urang kampuang dipatenggangkan.”  Antara lain melalui program penguatan akses rakyat terhadap modal, pasar, dan informasi. Bukan membiarkan rakyat menjadi obyek karitas.

Karena itu dalam setiap kebijakan FDI (foreign direct invesment), pemerintah harus sejak awal memahami filosofi: “Hati gajah samo dilapah, hati tunggau samo dicacah.” Distribusi profit dan benefit mesti berbasis keadilan, sehingga membawa berkah kesejahteraan kolektif kepada rakyat |

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
15 Apr 19, 09:59 WIB | Dilihat : 163
Pelemahan Ketahanan Bangsa Via Games Online
13 Mar 19, 12:55 WIB | Dilihat : 466
Syafakilah Bu Ani Bambang Yudohoyono
11 Mar 19, 01:16 WIB | Dilihat : 392
LKB Telangkai Silaturrahmi
Selanjutnya
Energi & Tambang