Kepemimpinan

Sang Pemandu

| dilihat 440

N. Syamsuddin Ch. HAESY

SETIAP pemimpin, tak terkecuali pemimpin bisnis, bagi saya adalah seorang pemandu jalan untuk bergerak melakukan perubahan menciptakan kondisi lebih baik. Pemimpin untuk menciptakan nilai lebih atas perusahaan yang dipimpinnya. Dia bukan saudagar, bukan juga birokrat. Apalagi sekadar pejabat, yang selalu mengalami dilema karena disibukkan oleh posisi diri.

Artinya, seorang pemimpin bukanlah dia yang duduk di atas kereta kencana, lalu melecut manajemen dan karyawannya menggerakkan kereta itu ke satu tujuan yang dia kehendaki. Melainkan, dia yang berdiri di depan memandu arah, menentukan cara, dan bersama-sama manajemen dan seluruh karyawannya, menghela pergerakan perusahaan mencapai tujuan bersama.

Karena itu, meski menyandang status sebagai Chief Executive Officer (CEO), pemimpin bisnis adalah leader, bukan sekadar chief atau manager. Dialah penentu proses visioneering (vision engineering) atau cara mencapai satu titik pencapaian tertentu, dalam kerangka mencapai tujuan yang dikehendaki bersama. Karena itulah, seorang pemimpin bisnis selalu menempatkan tanggungjawab kepemimpinannya sebagai suatu kebutuhan, bukan sebagai kewajiban semata, apalagi beban.

Dengan fungsinya seperti itu, maka pemimpin bisnis haruslah seorang visioner. Leroy Eimes, seorang pakar kepemimpinan merumuskan hakekat pemimpin semacam itu dengan kalimat yang indah: "A leader takes people where they want to go. A great leader takes people where they don't necessarily want to go, but ought to be." Pemimpin adalah orang yang melihat lebih dari orang lain melihat, ia melihat lebih jauh dari apa yang dilihat orang lain, dan dia melihat lebih dulu sebelum orang lain melihat.

Dalam praktik kepemimpinannya, pemimpin visioner, memainkan peran secara multi fungsi. Di satu sisi dia memainkan peran sebagai motivator, di sisi lain dia sekaligus menjadi inspirator. Dia juga seorang organisator yang menggerakkan seluruh lini organisasi, baik secara struktural maupun fungsional. Profesionalitas yang mengaliri jiwa raganya, menempatkan dia sebagai energizer bagi keseluruhan akselerasi aksi korporasi. Dan, dia selalu berada di depan untuk menjamin, proses pergerakan bisnis, atau transformasi korporasi bergerak sesuai dengan visi yang dirumuskan bersama.

Suatu ketika, mantan ibu negara Amerika Serikat – Rosalynn Carter ditanya oleh Jimmy Carter, suaminya tentang hakekat leadership. Rosalynn dengan enteng menjawab, “A leader takes people where they want to go. A great leader takes people where they don't necessarily want to go, but ought to be."  Seorang pemimpin diperlukan ketika orang-orang yang dipimpinnya hendak pergi tujuan yang dikehendaki bersama. Sang pemimpin akan mengambil sejumlah orang yang tak hendak pergi, menjadi bagian dari orang-orang yang hendak pergi ke tujuan itu.

Rosalynn ingin mengatakan, pemimpin harus memainkan peran memotivasi dan memberi inspirasi, sehingga menggerakkan orang-orang untuk pergi bersamanya ke tujuan bersama yang lebih baik. Tujuan yang kelak menjadi titik berangkat perjalanan yang lebih jauh dan lebih baik lagi.

Karenanya, menurut failasuf dan penyair Amerika, Ralph Waldo Emerson, "Our leader want is someone who will inspire us to be what we know we could be." Pemimpin yang kita inginkan adalah dia yang mampu menginspirasi kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya bisa kita wujudkan.

Itu sebabnya, pemimpin harus memainkan peran multidimensi, termasuk memberi ruang kepada pengikutnya mengambil peran kontribusi melakukan creating value. Bahkan dalam situasi yang paling pahit dan tak menguntungkan, pemimpin yang diperlukan adalah mereka yang mampu memberi ruang kontribusi luas kepada setiap pemangku kepentingan untuk mencapai hasil optimum.

Maknanya adalah seorang pemimpin harus menjadi role model bagi pengikutnya atau orang-orang yang dipimpinnya. Sebagai pemandu, seorang pemimpin tidak ingin menguasai posisi kepemimpinannya. Dia selalu melakukan talent scout, memandu bakat orang-orang yang dipimpinnya, untuk dilatih dan dikembangkan sebagai pemimpin pula. Pemimpin baru yang siap menggantikan kepemimpinannya, dan melanjutkan transformasi bisnis yang harus terus dilakukan secara berkelanjutan.

Berbahagialah para pemimpin bisnis yang mampu memainkan perannya sebagai sang pemandu, yang sekaligus menjadi peletak dasar perubahan untuk melakukan proses creating value atas perusahaan yang dipimpinnya.. |

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 666
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 688
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 204
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 269
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1388
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
Selanjutnya