Saatnya Meningkatkan Produksi Daging

| dilihat 1948

AKARPADINEWS.COM | PULUHAN warga telah memadati sebuah lokasi di dekat pintu masuk komplek Perum BTN Bambu Kuning, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jum'at (10/6) lalu. Sebagian besar di antaranya adalah ibu-ibu.

Ada yang membawa bayi, datang bersama anak remajanya hingga datang sendiri. Dari pakaian, mereka sepertinya berasal dari keluarga berlatar ekonomi beragam. Ada yang hanya menggunakan daster lusuh. Ada pula yang berdandan rada mentereng. Terlihat pula dua atau tiga bapak-bapak di antara kerumunan warga itu. 

Rupanya, di pagi itu, mereka tengah antri untuk membeli daging sapi dan ayah di pasar murah yang digelar PT Berdikari (Persero). Perusahaan plat merah itu menggelar operasi pasar di tengah harga daging yang tengah meninggi.

Harga daging sapi misalnya, jelang puasa, sempat menembus Rp130 per kilogram, melonjak tajam dari harga sebelumnya yang berkisar Rp80 ribu per kilogram. Di pasar murah itu, warga rela antri lantaran ingin membeli paket daging sapi seharga Rp80 ribu per kilogram. Sementara harga daging ayam, dibandrong Rp22 ribu.

Operasi pasar yang digelar PT Berdikari itu sebagai upaya mengembalikan kestabilan harga daging sapi. Tak tanggung-tanggung, pada operasi pasar kali ini, PT Berdikari membawa stok daging sapi sebanyak 2,5 ton dan ayam satu ton.

Transaksi dimulai sekitar pukul 7.30 WIB. Warga dapat membeli daging di pasar murah itu setelah mendapatkan tiket daging yang dijual di stand yang disediakan. Satu-persatu, warga yang mengantri pun dilayani. Masing-masing warga, hanya diperbolehkan membeli maksimal dua kilogram daging sapi atau daging ayam.

Neli, seorang warga, rela mengantri lantaran ingin membeli daging yang harganya lebih  murah dari harga pasaran. “Sebelum puasa kemarin, daging sapi di pasar harganya Rp130 ribu. Kalau sekarang mungkin kisaran di atas itu,” kata wanita yang mengenakan daster dan jilbab biru itu.

Kebutuhan daging di kala puasa memang mengalami kenaikan. Karena kebutuhan meningkat, para spekulan daging pun berlomba-lomba cari keuntungan. Caranya, menahan stok. Di kala kebutuhan terbatas, sementara permintaan tinggi, mereka pun menaikan harga. Satu persatu para pengantri telah mendapatkan dagingnya. Di antara mereka terlihat sumringah. Tetapi, ada juga yang menggerutu. Pasalnya, sudah lama antri, mereka hanya bisa membeli dua kilogram daging.

Mungkin, mumpung ada daging murah, warga yang kebetulan ada duit, mereka ingin membeli daging lebih dari dua kilogram. Lantaran banyak peminat, tak sampai setengah hari, persediaan daging yang digelontorkan PT Berdikari pun habis terjual.

Pelaksanaan operasi pasar di Bojong Gede itu cukup lancar. Tak ada insiden serius, meski sesekali ada saja warga yang berupaya menyerobot antrian. Menurut Ria Kusumaningrum, Manajer Peternakan PT Berdikari, operasi pasar setidaknya menjadi alternatif masyarakat untuk mendapatkan daging dengan harga murah. “Adanya operasi pasar membuat masyarakat lebih tenang dan merasakan daging murah,” ungkapnya.

Ria menambahkan, operasi pasar yang digelar pihaknya telah berlangsung sejak 21 Febuari 2016 lalu. “Awalnya berjalan setiap minggu. Menjelang Ramadan dan pas Ramadan, operasi pasar ini lebih sering. Rencananya, operasi pasar akan terus kami laksanakan hingga H+7 lebaran nanti,” ujarnya. Operasi pasar rencananya menyebar di beberapa titik di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Daging yang dijual PT Berdikari itu berasal dari daging impor dan lokal. Daging impor di datangkan dari Australia. Sementara daging lokal berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Bagaimana soal stok? Menurut Ria, PT Berdikari baru bisa menyediakan sekitar 10 persen dari kebutuhan daging nasional.

Kenaikan harga daging menjadi fenomena di tiap menjelang Ramadan hingga Idul Fitri. Itu karena kebutuhan daging meningkat, sementara stok sangat terbatas. “Saya melihatnya (keterbatasan daging) lebih kepada stok daging sapi siap potong yang kurang sehingga membuat harganya menjadi meningkat,” ujarnya.

Agar fenomena itu tidak lagi terjadi, Ria mengatakan, PT Berdikari akan membangun industri peternakan dari hulu ke hilir. “Nanti akan ada pembibitannya, penggemukkannya, dan ada rumah potong hewannya. Jadi, nanti kami juga akan masuk ke meat processing yang akan mengolah produk daging seperti sosis, bakso dan lain sebagainya,” kata Ria.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, menurut Ria, pihaknya akan berkerja sama dengan beberapa perusahaan, seperti PT Sang Hyang Seri (SHS) dan Perhutani. Dia menjelaskan, pihaknya membutuhkan lahan yang cukup luas untuk membangun industri peternakan. Karenanya, PT Berdikari mengembangkan sinergi dengan PT SHS untuk pemanfaatan lahan. Demikian pula dengan Perhutani, terkait pemanfaatan lahan hutan yang tidak produktif.

PT Berdikari juga akan memanfaatkan lahan sendiri dan lahan milik anak perusahaan, PT Berdikari United Live Stock (BULL) di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. “Kami ada lahan 6,7 ribu hektar di Sulawesi Selatan dan 2,3 ribu hektar di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, yang bisa dimanfaatkan. Kami juga akan mencoba bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk penyediaan lahan ini,” terangnya.

Ditargetkan, rencana itu dapat terlaksana pada tahun 2018. Tahun depan, diharapkan sudah ada tempat penggemukkan sapi. “Semua itu telah masuk dalam grand design kami. Optimisnya, semua akan terlaksana tahun 2018. PR besar ialah pembibitan. Karena, harus mendatangkan induk, entah itu impor ataupun lokal. Tapi, untuk fatting atau penggemukkan sapi, sudah dapat terealisasi tahun 2017. Karena itu, sudah kami mulai sejak sekarang,” jelasnya.

Idealnya, jika stok mencukupi, harga daging tidak akan tinggi di jelang puasa, lebaran, maupun perayaan hari besar lainnya. Minimnya stok membuktikan produksi sapi domestik tidak optimal. Dari sisi jumlah, populasi sapi di Indonesia memang tidak mencukupi. Di tahun 2015, jumlah memang mencapai 17,2 juta ekor.

Tetapi, tidak semua sapi-sapi itu layak potong karena masih anak sapi. Dan, tak sedikit pula sapi betina yang tidak boleh dipotong untuk menjamin keberlanjutan produksi. Di tahun 2015, sapi yang layak potong jumlahnya hanya sekitar 2,339 juta ekor. Dibutuhkan sekitar 247 ribu ton daging sapi atau setara dengan 1.383.000 ekor sapi lagi untuk memenuhi kebutuhan daging sapi buat masyarakat.

Sementara di sisi lain, operasi pasar, tidak bisa melulu dilakukan setiap tahunnya. Apalagi, harga daging sapi yang dijual di pasar itu merugikan peternak domestik. Karenanya, sudah selayaknya pemerintah, swasta, dan semua pihak, mengembangkan produksi daging sapi domestik. Apa yang dilakukan PT Berdikari perlu dicontoh BUMN terkait lainnya. Dan, sudah pasti, urusan tersebut menjadi tugas Kementerian Pertanian. Kapan negara ini bisa berswasembada daging?

Dengan mengembangkan industri peternakan dari hulu ke hilir, setidaknya dapat meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri, tidak melulu bergantung dari daging impor. Jika tak mampu meningkatkan produksi daging, ada pula baiknya tingkat konsumsi masyarakat terhadap daging yang kelewat tinggi jelang puasa dan saat lebaran, dikurangi. Toh, saat puasa maupun lebaran, tidak harus menyediakan santapan menu daging.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Energi & Tambang
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 693
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 886
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 233
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 377
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya