Menyimak Nilai Hidup Pebisnis jepang

Percik Nurani Yasuo Furukawa

| dilihat 2130

JAKARTA, AKARPADINEWS.COM | Sebuah buku, bertajuk Hidup Tak Henti Memberi Arti, tentang inspirasi, motivasi dan solusi bisnis dar pengusaha Jepang, Yasuo Furukawa, diluncurkan, Selasa (16/2/16). Buku yang ditulis Lisman Suryanegara dan Zeni Zaelani, dengan penulis pendamping sekaligus penyunting Bambang Trim, ini diluncurkan di Hotel Marriot, Kuningan – Jakarta.

Hadir pada peluncuran itu, Dr. H. Berliana Kartakusuma – Sekretaris Jenderal Partai Hanura, Komjen Pol (P) Nanan Soekarna, mantan deputi Kepala BKPM Ahmad Kurniadi, sejumlah dosen, pengusaha, dan mahasiswa.

Dalam pengantar yang disampaikannya, Yasuo Furukawa pemilik Furukawa Shell Co., Ltd. Di Indonesia, Yasuo membangun pabriknya di Karawang. Yasuo mengatakan, buku ini hanya sebuah pesan dari sebagian besar perjalanan hidupnya, yang juga mengisahkan tentang perjuangan dalam membangun perusahaan yang sudah berlangsung 44 tahun lebih. “Kami bisa bertahan karena adanya perhatian, bantuan, dan kerjasama dari banyak pihak.”

Buku ini disusun dalam bahasa Indonesia, dan hari saat peluncuran ini, Yasuo mengaku sangat bahagia. Dikatakannya, setiap orang ingin merasa bahagia, namun hal itu sangat tidak mungkin. Perjalanan hidup, tidak akan selamanya bahagia. Ada masa sulit dan masa senang yang akan berulang-ulang kita alami selama perjalanan hidup. Dia juga menegaskan, “Saya selalu berusaha semaksimal mungkin agar selalu dicintai banyak orang. Hal ini menjadi pondasi untuk hidup lebih santun.”

Buku ini berisi lima bagian dengan Prolog dan Epilog, dengan menggunakan logika bahasa Indonesia yang cerdas dan santun, komunikatif dan populer. Bahasanya ‘renyah,’ sehingga membantu untuk memahami esensi dan isi buku ini. Memberi inspirasi tanpa basa basi, memberi motivasi tanpa penetrasi, memberi solusi tanpa induksi (prabawa).

Dalam prolog bertajuk : Memberi Arti Kehidupan, Yasuo memberi inspirasi yang menggugah. Ia ungkapkan, bahwa alam raya ini merupakan sekolah kehidupan bagi kita, sambil menyebut lingkungan sosial dan orang-orang di sekitar yang memengaruhi. 

“Saya menyerap semua energi yang disediakan alam lewat pergaulan, sehingga kemudian banyak pertolongan yang saya dapatkan dari pergaulan,” tuturnya.

Pada Bagian I bertajuk, Renjana Cita dan Cinta,  penulis menyajikan informasi perjalanan  Yasuo Furukawa sejak masa kanak-kanak dengan cerita sangat menarik, dan menjadi pencetus perubahan hidupnya. Realitas hidup yang terbatas di masa kanak-kanak, menginspirasi Yasuo untuk bekerja keras dalam membalikkan keadaan dan mencapai takdir baiknya. Termasuk ketika dia harus mengubah haluan dari mimpi semula menjadi atlet olimpiade menjadi pengusaha.

Kata kunci menarik pada bagian ini adalah sikap Yasuo yang tak larut dalam kekecewaan dan memilih bakti kepada orang tua sebagai pilihan sikap hidup yang memikat.  Selebihnya adalah keyakinan untuk mendefinisikan modal, karena baginya modal minim bukan halangan. Terutama dalam menentukan sikap untuk berkompetisi secara elegan. Khasnya dalam mengembangkan intuitive reason yang jernih. Termasuk bagaimana menentukan pilihan tantangan, antara renjana (passion) dan konjou.

Hati, Simpul Nalar dan Nurani

Hal menarik lain dari buku ini adalah perihal bagaimana harus bertahan secara konsisten dalam menjalankan bisnis sebagai proses mewujudkan cita-cita berbasis cinta. Yosuo menyadari, membangun pondasi pabrik dan bisnis bisa dilakukannya dengan isteri. Tapi, membangun pondasi nilai-nilai, merupakan sesuatu yang lebih kompleks. 

Dalam konteks itu, Yasuo yang lulusan SMA ini punya sikap penting: menempatkan karakter lebih penting daripada kecerdasan. Semua itu dilandasi oleh kebersihan hati: menghargai pemberian orang lain, menciptakan lingkungan yang dicintai, dan bagaimana mencintai profesi atau pekerjaan.

Kesemua itu mewujud dalam perilaku kongkret, selalu berterima kasih, selalu menghargai setiap usaha, rendah hati (herikudara), senang memberi apresiasi, berempati dan peduli.

Hal lain terungkap dalam Bagian II, tentang Nurani untuk Keluarga dan Persahabatan, yang menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip nilai dalam pergaulan hidup antar manusia berpijak pada kesadaran nurani terdalam. Di Bagian III, bertajuk Nurani dan Profesionalitas, mengungkap kegelisahan dirinya ihwal regenerasi yang terancam lost generation. Dalam konteks itu, maka karakter unggul merupakan hal penting dalam membangun profesionalitas. Termasuk menerima realitas manis atau pahit.  Begitulah seterusnya, buku ini bercerita pandangan hidup Yasuo tentang etika dan moralitas.

Bagian IV yang bertajuk Inspirasi dari Negeri Matahari Terbit, bercerita banyak tentang pandangan berbasis pengalaman hidup Yasuo tentang entrepreneurship. Mulai dari bekerja sebagai jiwa dan nilai hidup, jarak hidup dengan uang, pentingnya proses pendidikan dalam konteks learning by doing, bersikap setia yang terkorelasi dengan kepercayaan dan kejujuran dan bakti dengan orang tua.

Yasuo juga bercerita ihwal kekuatan karakter pebisnis Jepang, bagaimana harus menghadapi tantangan dan perubahan, serta manifestasi filosofi hidup tentang Kaizen, Monozukuri, dan Hitozukuri. Pada bagian berikutnya, secara mozaik diungkapkan berbagai kesan banyak kalangan terhadap Yasuo.

Yang menarik adalah epilog yang dihadirkan secara sederhana, tapi sangat dalam. Tentang komitmen hidup yang diwujudkan ke dalam cara agar terus memberi arti. Terutama dalam memberi kepercayaan kepada orang lain, termasuk dalam menilai kinerja karyawan, sekaligus terapan edukasi praktikal dalam laku bisnis sehari-hari. Dan, prinsip hidup bahagia dalam menjalankan bisnis, sehingga membuatnya tampak sebagai the smiling bussinessman.

Buku terbitan Trim Komunikata Publishing House, ini menarik, enak dibaca, mudah dicerna, penuh dengan cara untuk bertransformasi, serta merupakan cermin jernih untuk mengenali diri. Selebihnya, boleh disebut sebagai suluh untuk melihat rumput hijau di antara ranjau. Khasnya untuk menempatkan hati (simpul nalar dan naluri) dalam memanifestasikan visi hidup sungguh sebagai visi, bukan jebakan fantasi (fantacy trap).

Jadi, tak salah bila, Berliana berminat mengundang Yasuo untuk berbagi ilmu dengan para kader Partai Hanura. Karena yang diungkapkan buku ini tentang Yasuo, sungguh relevan dengan hati nurani semua orang, baik hati nurani pemimpin maupun rakyat.

Tapi, membaca dengan tartil buku ini, saya berfikir, mustinya banyak orang Sunda tumbuh berkembang sebagai Yasuo, karena di dalam buku ini banyak sekali filosofi dan nilai yang relatif sama dengan apa yang ditinggalkan leluhur Sunda. Tapi, seperti ungkap Komjen Pol (P) Nanan Soekarna, banyak orang Sunda yang mengabaikannya. Yasuo berhasil, karena mampu memadupadan nilai hidup yang berkembang dari kearifan lokal masyarakatnya, mempraktikannya, dan mengubahnya menjadi nilai yang akhirnya terlahir dari seluruh hidupnya. | Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Budaya
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 561
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
22 Jul 19, 16:15 WIB | Dilihat : 488
Dimensi Kaum Betawi
21 Jul 19, 14:19 WIB | Dilihat : 269
Refleksi dari Arena Lebaran Betawi
Selanjutnya
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 730
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1553
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2466
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 1175
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya