Mengubah Minda Pembangunan Pertanian

| dilihat 1943

SALAH satu soal penting dalam penyusunan rencana strategis penyelenggaraan manajemen adalah bagaimana meletakkan imajinasi tentang masa depan, di pintu masuk proses perubahan. Contoh yang relevan untuk dikaji lebih jauh dan mendalam adalah bagaimana manusia menempatkan potensi sumberdaya alam yang dimilikinya, menjadi kekuatan besar membangun kemakmuran kolektif.

Thailand, di jaman Thaksin Sinawatra memulainya dengan menegaskan titik pencapaian: menjadikan produk pertanian Thailand sebagai salah satu kekuatan utama perekonomian negara, selain telekomunikasi, industri manufaktur, pariwisata, dan perniagaan. Thaksin memulainya dengan menentukan lima prinsip asasi yang menjadi focal concern.

Pertama, menjadikan produk pertanian sebagai sektor unggulan yang mampu bersaing dengan industri lain; Kedua, menjadikan produk pertanian sebagai core business spesifik di pedesaan; Ketiga, memudahkan akses petani terhadap informasi, pasar, modal, dan industri; Keempat, menguatkan industri pengolahan hasil pertanian sebagai salah satu kekuatan pendorong; dan, Kelima menjadikan petani sebagai sumberdaya utama penggerak perubahan minda (mindset) pertanian (untuk memenuhi konsumsi sendiri dan ekspor).

Berbagai kekuatan pendorong perubahan dikuatkan. Mulai dari permodalan, transformasi sains dan teknologi, manajemen, sampai promosi hipodermis yang memadukan berbagai anasir penggeraknya. Termasuk memadukan BUMN dan swasta. Kesemua itu, mendorong lahirnya berbagai kebijakan asasi (politik dan policy) yang menunjukkan keberpihakan kepada petani. Antara lain, kita kenal dengan One Village One Product Policy, Bank Pertanian, Koperasi Pertanian berbasis Desa (pusat aktivitas bisnis koperasi berada di desa) dan terbebas dari kepentingan Partai Politik, Agriculture Research and Development Center, dan strategi desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. 

Malaysia, selaras dengan itu. Sejak 2004, bahkan mengambil tindakan politik yang sangat strategis, dengan membentuk Kementerian Pertanian dan Industri Asas Tani, yang menegaskan sesanti “Pertanian adalah Niaga”. Target yang hendak dicapai adalah menempatkan pertanian sebagai unsur penting dari tiga mesin pertumbuhan ekonomi.

Minda ini, menghadirkan imajinasi Malaysia sebagai sentra industri pertanian di Asia, yang berhadap-hadapan dengan Thailand, Australia, dan berbagai negara lainnya, ditapaki dengan menegaskan berbagai kebijakan operasional.

Rancangan Malaysia Kesembilan (misi ke 9) pencapaian Wawasan 2020, menguraikan, pemerintah mengambil langkah strategis dengan memberikan porsi anggaran sebanding untuk sektor pertanian tanaman pangan..

Besarnya budget pembangunan sektor pertanian ini, diperkuat oleh berbagai program berdampak tinggi dari keseluruhan program pertanian dan industri berbasis petani. Mulai dari pengembangan kawasan khusus pertanian negara, program industri berbasis petani, Kawasan Industri Akuakultur, dan kebun abadi produksi tanaman pangan, serta perkebunan kontrak.

Kesemua program itu, diperkuat dengan berbagai program interaksi pertanian dan kelestarian lingkungan. Mulai dari peternakan negara, bumi hijau, perubahan minda cinta pertanian, eksibisi hasil pertanian dan agro wisata. Imajinasi menjadi pertanian sebagai motor penggerak perekonomian rakyat dan negara, dikuatkan pula dengan berbagai rencana aksi yang bersentuhan dengan seluruh masyarakat. Baik di perkotaan maupun perdesaan. Antara lai dengan program eksibisi besar pertanian dua tahunan.

Pertanian diposisikan sebagai faktor utama kehidupan di benak masyarakat. Dicirikan dengan aplikasi sains dan teknologi melalui berbagai riset dan pengembangan (mulai dari pembenihan sampai teknologi pasca panen) yang modern, berskala ekonomi, kualitas produk, aplikasi teknologi informasi (ICT), kewirausahaan, dan pemanfaatan bioteknologi secara optimal. Hasil riset tidak dibiarkan hanya menjadi lembaran-lembaran pemenuh lemari perpustakaan. Melainkan menjadi panduan bagi petani, karena menggunakan pola komunikasi yang karib dengan petani.

Di lingkungan perdesaan, imajinasi yang sedemikian luas dalam konteks negara, itu diterjemahkan dan diaplikasikan secara sederhana. Antara lain, dimulai dengan kampanye menanam sayur-sayuran, herbal, beternak ikan dan ayam untuk konsumsi sendiri. 

Dalam skala besar, pemerintah membuka ruang yang luas bagi masuknya investasi berbagai skala. Mulai dari investasi bagi 10.000 usahawan kecil dan menengah dengan pendapatan bersih. Peluang investasi juga terbuka bagi investor besar, dan pemerintah menyuntikkan penyertaan modal bagi Bank Pertanian dalam bilangan yang memadai.

Salah satu sasaran imagineering di sektor pertanian, adalah mengubah minda dan persepsi. Dari sektor yang kumuh, dan tidak gemerlap, menjadi sektor yang mampu membuat negara gemilang.  Dalam konteks inilah kita memandang pertanian Indonesia kini dan ke depan, tak hanya sekadar bicara swasembada dan surplus produksi terkait ketahanan pangan. Tetapi, sudah harus berpikir lebih jauh, meningkatkan produksi dengan pendekatan bisnis yang lebih aktual.

Indonesia masih beruntung, karena masih mempunyai lahan yang luas di Papua dan Sulawesi. Persoalannya tinggal bagaimana pemerintah secara khas mengatur tata ruang pertanian secara nasional. Mana saja wilayah yang akan menjadi sentra produksi, mana pula yang akan dikembangkan sebagai wilayah food industrial estate.

Dengan begitu, setiap terjadi pergantian pemerintahan, kita tak lagi dikontaminasi dengan retorika dan jargon-jargon yang tak perlu, termasuk retorika tentang pencetakan sawah baru, dan sebagainya. Karena yang diperlukan kini adalah bagaimana kita mempunyai keragaman produk yang mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan negara lain. Paling tidak negara-negara serantau (ASEAN).

Dengan nilai lebih (berdaya saing tinggi), setidaknya kita sudah harus mengisi pasar pertanian domestik kita dengan produk dalam negeri. Dengan begitu keperluan konsumsi masyarakat dapat terisi dengan produk pertanian dalam negeri. Setarikan nafas, meningkatnya daya saing itu juga harus berdampak positif bagi kesejahteraan petani kita.| JM Fadhillah

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
Polhukam
19 Okt 19, 10:03 WIB | Dilihat : 81
Obsesi Keindonesiaan
17 Okt 19, 20:45 WIB | Dilihat : 236
Langkah Anies Sudah Tepat dan Berprestasi
10 Okt 19, 12:06 WIB | Dilihat : 655
Buah Peluh Tanpa Keluh Bangsa Melayu
09 Okt 19, 09:40 WIB | Dilihat : 468
Utusan Melayu itu pun Akhirnya Ditalqinkan
Selanjutnya