Imagineering Bisnis

Menggambar Gajah Membayangkan Ular

| dilihat 183

N. Syamsuddin Ch. Haesy

BAGAIMANA merespon masa depan? Haruskah dilakukan secara reguler, laiknya lokomotif dan gerbong kereta melintas di atas relnya? Tentu tidak.

Untuk merumuskan masa depan diperlukan frame, yang terbentuk oleh berbagai unsur: struktur organisasi dan manajemen, ketersediaan modal dan kemampuan mengelola keuangan, sains dan teknologi, budaya, dan cadre. Berdasarkan ketersediaan unsur-unsur itulah, setiap perusahaan mempunyai frame masa depan berbeda-beda.

Struktur organisasi dan manajemen, memang, dalam banyak hal dianggap mampu menegakkan core bussines-nya. Tapi, bukan satu-satunya faktor dan unsur.

Beberapa perusahaan menyusun struktur organisasi dan manajemen berbentuk piramida, dan menempatkan para pemimpin perusahaan sebagai penguasa, yang harus memainkan peran sebagai superperson.

Ketersediaan modal dan kemampuan mengelolanya sebagai energizer, sedangkan sains dan teknologi, serta budaya menjadi second pile belaka. Dan modal insan (human capital) akan menjadi peggerak organisasi.

Beberapa perusahaan berkekuatan modal dan kemampuan mengelola keuangan, serta keunggulan sains dan teknologi sangat substantif, menempatkan budaya dan cadre sebagai penyangga utama. Kemudian menjadikan modal insan-nya sebagai energizer cadre.

Struktur organisasi dan manajemen, berfungsi sebagai wilayah kinerja, sesuai fungsi kebijakan dan operasional.

Perusahaan yang didominasi oleh mision (misalnya public service obligations atau part of political movement) dengan keterbatasan modal dan kemampuan mengelolanya, mesti bergulat mengokohkan budaya (dan habit kerja) untuk mengatasi terjadinya dualisme misi dalam mewujudkan visi pendiriannya.

Apalagi, perusahaan semacam ini, cenderung mengabaikan bentuk dan format struktur. Karenanya, perubahan perusahaan bertumpu pada kekuatan dayacipta, kreativitas, produktivitas, dan profesionalitas modal insan-nya, sebagai primacadre.

Pemimpin dan pimpinan perusahaan harus lebih berperan sebagai penguat simpul struktur. Mulai dari melakukan edukasi, pemanduan, motivasi, inovasi, dan pengendalian dari belakang. Khususnya untuk dapat membangun dan memelihara harmonitas.

Keberbagaian itulah yang dalam imagineering disebut sebagai picture and imagine frame. Laksana manusia memilih sudut pandang melihat obyek. Mulai dari elephant picture, sampai snakes imagine.

Manusia mempunyai kebebasan untuk melihat gajah dengan segenap deskripsinya, seperti manusia mempunyai kebebasan melukiskan abstraksi ular. Sebagian terbesar orang dengan cepat mendeskripsikan gajah dengan indikator: belalai yang panjang, mata yang nanar, cuping yang lebar, badan dan kaki yang tambun, bulu yang halus, dan tenaga dan besar. Tapi, sebagian kecil orang boleh mendeskripsikan gajah dengan cara lain: bokong yang besar, kaki yang tegap, dan buntut yang kecil.

Tak ada keharusan untuk melihat gajah hanya dari depan, sehingga terdeskripsikan elephant picture seperti yang berada di benak sebagian terbesar manusia. Karena di lihat dari manapun, dan dideskripsikan bagaimanapun, gajah tetap gajah.

Berbeda dengan snakes imagine. Nyaris, seluruh manusia akan mempunyai picture yang relatif sama, meski berbeda dalam melukiskan bayangannya, sesuai dengan asumsi pertama di dalam fikiran.

Umumnya, abstraksi primer tentang ular, adalah: binatang melata berbisa dan amat berbahaya. Bisa ular  itulah yang menjadi mulakesan, katimbang besaran bentuk fisik dan tenaga yang dimilikinya. Meskipun manusia tetap bisa membedakan perbedaan Anakonda dan Cobra dengan Fieldsnake secara deskriptif.

Tapi apapun deskripsi dan ‘picture’ masa depannya, suatu perusahaan, akhirnya sangat bertumpu kepada primacadre-nya. Modal insan kreatif, inovatif, produktif, profesional, bertanggungjawab terhadap profesi, tanggungjawab sosial (yang melahirkan dedikasi), dan loyalitasnya kepada perusahaan, merupakan energi yang akan berkembang menjadi energizer, dan menentukan eksistensi perusahaan itu.

Merekalah orang-orang mulia yang pandai menghargai hakekat kemanusiaannya sebagai insan kreatif dan produktif. Merekalah yang menentukan sallary dan imbalan kesejahteraan atas dirinya, melalui pencapaian income dan keuntungan perusahaan. Bukan perusahaan dan pemilik modal.

Banyak perusahaan, tumbuh, berkembang dan besar hanya dengan sedikit orang, namun mempunyai militansi luar biasa. Frame masa depan perusahaan bergantung kepada mereka. Merekalah yang layak menjadi pemimpin perusahaan di masa depan.

Tugas pemimpin perusahaan dalam banyak hal, mesti memusatkan perhatian terhadap pembentukan cadre, melalui proses kaderisasi. Lantas, pada waktu yang ditetapkannya, menyerahkan kepemimpinan kepada cadre yang disiapkannya.

Dalam proses ke arah itu, hanya ada dua sikap yang mesti dipegang: hantarkan yang pergi, dan kendalikan yang datang.

Pada satu tahap, orang-orang yang dinilai ‘bagus’ secara subyektif, membawa punggungnya. Saat itulah, mereka yang datang, mesti dicermati betul wajah dan hatinya, karena kecerdasan dapat dilatih secara sistemik. |

 

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
07 Jan 20, 09:55 WIB | Dilihat : 191
Naturalisasi Sungai Pilihan Tepat Respon Banjir
03 Jan 20, 12:11 WIB | Dilihat : 146
Buruk Akhlak Manusia Penyebab Air Murka
02 Jan 20, 14:54 WIB | Dilihat : 136
Siapa Mampu Lawan Rezim Angin
Selanjutnya
Humaniora
19 Jan 20, 12:54 WIB | Dilihat : 152
Chairul Montir Terbang dari Pinrang
15 Jan 20, 12:30 WIB | Dilihat : 223
Cinta adalah Kedalaman Nurani
13 Jan 20, 16:27 WIB | Dilihat : 261
Civitas Akademika ITB Jangan Berhenti Menebar Inovasi
12 Des 19, 14:29 WIB | Dilihat : 166
Harmoni
Selanjutnya