- Tak ada dana cash, tak ada avtuur

Menanti Takdir Merpati

| dilihat 1516

JAKARTA, AKARPADINEWS. INI sungguh kabar samar: buruk tidak, elok apa lagi. Maskapai penerbangan milik negara, Merpati (PT Merpati Nusantara Airlines) tak lagi bisa terbang tinggi. Seluruh penerbangannya dari Surabaya, beberapa hari lalu sudah dihentikan. Di beberapa kota lain, tak bisa terbang sama sekali, lantaran tak sanggup beli tunasi avtur Pertamina.

Meski tak menyetop pengisian avtur karena tak bayar-bayar hutang kepada Pertamina, tapi Pertamina tak menyetop penyediaan avtuur untuk Merpati. Tak hanya itu. Ribuan karyawan dan karyawati, sudah mengancam akan mogok, bila gaji mereka yang sudah tertahan tiga bulan, tak dibayar-bayar.

Menteri Negara BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Dahlan Iskan (Rabu: 29/1) menegaskan, rencana dia memberhentikan Direksi Merpati, urung. Pihaknya masih memberi kesempatan Direksi membenahi maskapai yang banyak menangani rute penerbangan pendek ke daerah-daerah terpencil.

Merpati juga sudah siap melepas sejumlah anak usahanya, seperti Merpati Maintenance di Surabaya dan yang lainnya. Penjualan anak perusahaan itu, menurut Dahlan Iskan, merupakan satu-satunya cara yang dapat ditempuh untuk memulihkan kesehatan keuangan PT Merpati Nusantara Airlines.

Menteri juga mengemukakan, berbagai cara telah dilakukan untuk dapat membangkitkan perusahaan maskapai penerbangan perintis tersebut. Namun, upaya-upaya itu terus mengalami kegagalan. Oleh sebab itu, katanya, pemerintah menempuh cara penyelamatan akhir, menyerahkan anak usahanya kepada investor.

Pemerintah, bahkan ikut mencarikan partner. Termasuk, memasukkan kembali Merpati ke tangan PPA, perusahaan milik negara yang mengurusi pengelolaan aset eks Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang tidak berperkara hukum. Tapi, untuk merawat merpati di emergency care unit itu, kudu beroleh izin dari Menteri Keuangan. PPA memang bertugas merestrukturisasi atau merevitalisasi perusahaan BUMN. Jadi, Merpati harus menunggu proses itu.

Akibat kondisinya yang semacam itu, di sejumlah daerah, terutama yang terhubung dengan pulau-pulau terluar, Merpati sering menghadapi kendala. Penumpang sudah pasti ada, tapi tak bisa terbang, gara-gara tak ada dana cash untuk beli avtur. Jalur penerbangan yang selama ini mengandalkan layanan Merpati, seperti ke dan dari Bandara El Tari - Kupang, sudah sepekan ini disetop. Tak terkecuali penerbangan Kupang - Mali di Pulau Alor, Bajawa (Ende), Maumere, Waingapu, dan Tambolaka. Padahal di rute penerbangan ini, pesawat MA60 selalu penuh. Dari Mali - Alor ke Kupang, umpamanya, setiap penumpang membayar harga di atas rata-rata jalur penerbangan yang banyak dinikmati penumpang di Jawa dan Sumatera. Tiket penumpang seharga Rp600 ribu untuk penerbangan jarak pendek.

Sampai kapan Merpati akan terus begini? Haruskah Merpati yang pernah berjaya itu menanti takdir buruknya? | noora

 

Editor : Web Administrator | Sumber : Kementerian BUMN
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1092
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1930
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1616
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Lingkungan
21 Jun 20, 12:43 WIB | Dilihat : 195
Jangan Lelah Mewujudkan Jakarta Tangguh
04 Apr 20, 21:16 WIB | Dilihat : 352
Gubernur Anies Serukan Warga Pakai Masker
03 Apr 20, 15:51 WIB | Dilihat : 356
Melawan Virus dengan Lembu Akalang
22 Mar 20, 20:46 WIB | Dilihat : 273
Konferensi Virtual Bahas Covid 19
Selanjutnya