Matamu Itu !!!

| dilihat 549

N. Syamsuddin Ch. Haesy

BUDI Waseso yang biasa dijukuki Buwas, tak henti menjadi buah bibir. Sejak dia menjabat Kapolda Gorontalo, Kabareskrim Polri, Kepala BNN (Badan Narkotika Nasional) sampai Direktur Utama Bulog.

Jejak digital Buwas bisa ditelusuri. Dari situ tertampak, meski tak jarang diseruduk beragam praduga dan isu, Buwas menunjukkan dirinya laksana lokomotif yang meluncur kencang di relnya.

Polisi yang datang dari keluarga tentara ini tak pernah menutupi berbagai hal yang semesstinya memang diketahui khalayk ramai. Meski hal itu, boleh jadi tak menyenangkan berbagai pihak yang terkait.

Sejak sepekan terakhir, Buwas menghiasi laman-laman media (baik media mainstream maupun media sosial). Terkait dengan sikapnya soal impor beras.

Menurut Buwas, sampai bulan Juni 2019, tak perlu impor beras. Dia menyatakan hal itu, sesuai dengan temuan tim ahli yang kompeten dalam meneliti data perberasan di lapangan. Hasil temuan itu dia yakini dan dia percaya. Karenanya, dia berani menyatakannya kepada khalayak.

Ada yang menarik. Ketika Buwas menggunakan istilah provokasi. Tentu dialamatkannya kepada berbagai pihak yang kerap menyatakan, stock beras nasional menghadapi persoalan.

Lugas, Buwas menyatakan, “Kita tidak boleh membuat provokasi masyarakat. Pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk kepentingan rakyat. Jangan ada lagi provokasi seolah pemerintah tidak bekerja.”  

Itu sebabnya Bulog menggelontorkan dana sekitar 45 miliar rupiah untuk sewa gudang. Buwas menegaskan, Bulog bekerja untuk bangsa dan negara. Yang diurusi, persoalan rawan, beras, dan menyangkut perut rakyat. Karena itu, dia tak mau berpolemik soal itu, termasuk soal impor pangan, yang menjadi wilayah core corporate Bulog, sekaligus kewenangannya.

Dari kajian internal Bulog, beras tak perlu diimpor. Karenanya, dia mempertanyakan, dari mana hitung-hitungan mereka yang impor beras? Lugas Buwas menyatakan, “Jangan jadi pengkhianat bangsa dan negara. Jangan merusak situasi dengan kepentingan. Jangan campur adukkan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Jangan asal ngomong, karena Buwas bisa mengklarifikasi dengan dirinya selaku Dirut Bulog.

Terkait dengan itu, Buwas bicara tentang koordinasi semua lini di jajaran pemerintah untuk seiring sejalan melaksanakan tugas dan kewajiban negara, melayani rakyat. Menciptakan situasi tenang bagi rakyat dengan cara yang benar.

Ketika bicara di hadapan juruwarta di lobi kantornya, Buwas sampai pada kalimat, “Ada yang bilang urusannya Bulog itu, soal gudang. Matamu itu! Seharusnya kita berpikir bersama-sama. Kita kan aparatur negara..”

Buwas mengucapkan kata, “Matamu itu!” secara aksentuatif. Dia tidak menyebut nama, kepada siapa kata itu dia dia alamatkan.

Tapi khalayak bisa menerka, kata aksentuatif itu ditujukan kepada Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito. Enggar menyebut, urusan gudang itu urusan Bulog.

Dari pernyataan Enggar, secara etimologis tersirat, urusan dia adalah urusan kebijakan, termasuk kebijakan impor beras. Urusan menyediakan gudang untuk menampung beras itu, urusan Bulog.

Enggar terkesan tak ambil peduli teriakan Buwas yang sudah berusaha ke sana ke mari, sampai meminjam gudang tentara dan menyewa gudang untuk menampung pasokan beras. Pasalnya? Pasokan dalam negeri dari hasil panen, masih melimpah, antara lain dari Sulawesi Selatan.

Buwas memperkirakan, sampai akhir tahun sekitar 3 juta ton beras harus ditampung.

Kosakata “Matamu itu..” yang dipilih Buwas, mengekspresikan kejengkelan.

Wajar Buwas jengkel. Karena secara logika kebijakan, memang tidak pas, karena kebijakan impor beras yang ditempuh tidak relevan dengan kondisi lapangan. Dari sudut pandang lain, kebijakan impor beras akan menghambat cara yang sedang ditempuh pemerintah mengatasi pelemahan rupiah.

Dari sudut pandang lain, tradisi Sunda misalnya, “matamu itu..” secara konotatif relevan dengan interaksi manusia dengan fakta, realitas, kondisi obyektif lapangan. “Boga panon ulah satempo-tempona..” (Punya mata jangan sembarang melihat). Artinya, setiap manusia mesti tangkas dan cerdas melihat realitas, fakta sebenar yang ada di lapangan. Tidak hanya berdasarkan asumsi-asumsi, apalagi asumsi presumtif.

Mata terkorelasi dengan telinga, asupan informasi. Boga ceuli ulah sadenge-dengena (Punya telinga jangan sembarang mendengar – menyerap informasi). Ujungnya? “Boga leungeun ulah sacabak-cabakna” – punya tangan jangan sembarang dipergunakan. Maknanya : punya kekuasaan jangan sembarang beraksi, mengambil kebijakan yang berdampak buruk bagi orang banyak.

Dan… punya mulut jangan sembarang berucap. Salah berucap, lidah bisa berkata, “Matamu itu… “ |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
18 Okt 18, 21:22 WIB | Dilihat : 185
Zahid Hamidi Ditangkap, UMNO Marah
16 Okt 18, 13:49 WIB | Dilihat : 371
Rima Politik Malaysia Selepas Anwar Kembali ke Parlemen
04 Okt 18, 13:17 WIB | Dilihat : 470
Memulai Percakapan Penguasa dengan Rakyat
01 Okt 18, 22:27 WIB | Dilihat : 412
Menjadi Pemilih Berdaulat
Selanjutnya
Budaya
18 Okt 18, 13:42 WIB | Dilihat : 188
Majelis Adat Bamus Betawi Mesti Kembangkan Kebudayaan
06 Okt 18, 10:24 WIB | Dilihat : 535
ISBI Bandung Garda Depan Transformasi Budaya
15 Sep 18, 01:15 WIB | Dilihat : 301
Di Tengah Pusaran Zaman Fitan
13 Sep 18, 13:36 WIB | Dilihat : 296
Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams
Selanjutnya