Inovasi di Jalan Tol Trans Sumatera

Langkah HK Membentang Masa Depan di Sumatera

| dilihat 487

Bang Sem

Masa depan tak hanya berada di Jawa dan Kalimantan, seperti yang sering dibincangkan banyak pakar belakangan hari. Masa depan ada di seluruh Indonesia, bergantung darimana orang memandangnya.

Setelah Jawa, Sumatera dan Sulawesi akan merupakan faktor penentu utama perkembangan masa depan Indonesia. Tidak saja karena posisi strategisnya, melainkan karena berbagai kekuatan pendorong utamanya, terutama berkaitan dengan nilai sosio budaya, termasuk financial viability - kemampuan mengelola uang.   

Sumatera akan bergerak lebih awal menyusul Jawa.  Sejumlah forum dialog yang berlangsung (saya ikuti) di Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Jambi, Padang, Bengkulu, dan Palembang sejak Juli 2019 lalu memberikan gambaran yang hampir mirip satu dengan lainnya. Yakni, infrastruktur jalan lintas utama - tol - Sumatera memainkan peran sangat strategis.

Tak hanya menguatkan jalur lintas transportasi udara dan laut, lebih dari itu, akan menjadi jalur utama transformasi budaya yang akan membuka cakrawala baru dalam menciptakan lingkungan sehat, lingkungan cerdas, dan lingkungan mampu secara ekonomi, sebagai terjemahan lain dari indikator human development index.

Lepas dari pandangan pemerintahan Presiden Widodo, bahwa pembangunan infrastruktur sangat penting dan relevan dengan politik monumentasi, memodernisasi dan meningkatkan kuantitas infrastruktur - guna juga merupakan ikhtiar mencapai target pertumbuhan sebesar 7 persen per tahun, dibandingkan dengan sekitar 5 persen saat ini.

Pembangunan jalan tol Lintas Sumatera, merupakan bagian dari program pembangunan 1.000 km jalan tol baru, 3.200 km jalur kereta api, 15 bandar udara baru, 20 pelabuhan laut, 33 bendungan baru dan pembangkit listrik yang diharapkan mampu menghasilkan sekitar 35.000 megawatt - dan cukup untuk memasok listrik sekitar lima juta orang - pada masa  antara tahun 2019 - 2024.

Tak dapat dielakkan kenyataan, bahwa sampai masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri, pemerintah sibuk mengoprak-aprek infrastruktur dan suprastruktur politik, di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan transisi dari infrastruktur politik ke infrastruktur ekonomi, antara lain dengan meninggalkan legacy tentang konsep perencanaan pembangunan berbasis wilayah, dengan beberapa titik berat perencanaan pembangunan wilayah yang bergerak mengikuti perubahan orientasi dunia, dari Amerika Eropa ke Asia Pasifik.

Presiden Jokowi, mempertegas orientasi aksi governansi pada pembangunan infrastruktur, antara lain dengan menuntaskan jalur tol lintas Jawa dan membangun jalur tol lintas Sumatera, yang kelak mesti dilanjutkan dengan membangun jalur tol lintas utama Sulawesi. Sekaligus jalur lintas kereta api.

Pembangunan jalan tol lintas Sumatera adalah cita-cita lama yang kemudian mewujud, ketika diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 117 Tahun 2015, perubahan dari Perpres Nomor 100 Tahun 2014 tentang percepatan pembangunan jalan tol di Sumatera yang diberi tajuk Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Pembangunan JTTS sebagai agenda prioritas pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, akan berlanjut sebagai agenda prioritas pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin (MA).

Peraturan Presiden tersebut menugaskan PT Hutama Karya (Persero) - HK - membangun jalan tol sepanjang 2.765 kilometer (km), itu dengan pembiayaan penuh. Keputusan itu menarik dan bernilai strategis, tak hanya sebagai aksentuasi terhadap kemampuan mandiri insan Indonesia membangun infrastruktur. Namun, sekaligus memberi aksentuasi atas nation dignity.

Terutama, karena HK merupakan BUMN yang seluruh sahamnya milik Pemerintah Republik Indonesia. Eksistensi HK setara dengan Pertamina dalam konteks mind and soul BUMN, yang secara historis juga punya kaitan dengan sejarah perkembangan infrastruktur Indonesia.

HK merupakan nasionalisasi dari 'Hollandsche Beton Maatshappij' yang bertransformasi sejak 1960, dengan mewujudkan kemampuan anak bangsa di bidang konstruksi yang bernilai sejarah dan monumental, antara lain berupa Gedung DPR / MPR RI di Senayan dan Monumen Patung Dirgantara di Pancoran, Jakarta.

HK juga yang memulai penerapan teknologi Beton pra-tekan di Indonesia, dan memperkenalkan sistem prategang BBRV dari Swiss, yang kemudian dikembangkan dengan membentuk Divisi khusus Pra Tegang, yang dipraktikan dalam mengeksekusi gagasan Ir. Sutami dalam pembangunan Jembatan Semanggu. Dekade 70-an ini sekaligus menandai era kemandirian HK sebagai perusahaan negara yang menguatkan diri sebagai entitas bisnis, sebagai suatu persero.  

Pada dekade berikutnya, HK juga yang terdepan melakukan berbagai inovasi, seperti landasan putar bebas hambatan Sosrobahu hasil kreasi Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati. Dengan inovasi ini, HK kemudian menjadi pemain di pasar konstruksi internasional.

HK juga terdepan dalam pengembangan inovasi teknologi konstruksi dengan menghasilkan produk berteknologi tinggi berupa Jembatan Bentang Panjang (Suspension Cable Bridge, Balanced Cantilever Bridge, Arch Steel Badge, Cable Stayed). Kala itu, HK juga sukses memenuhi standar internasional dalam hal kualitas, keselamatan kerja dan lingkungan dengan diraihnya sertifikat ISO 90002:1999.

Kemudian HK berinovasi dengan High Risk Building dan inovasi teknologi konstruksi jalan tol dan sistem manajemen proyek yang efisien dan 'bersih.'

Menteri BUMN Rini M. Soemarno jeli, menunjuk Bintang Perbowo, sebagai Direktur Utama. Bintang, sebelumnya berhasil bersama tim manajemennya, menggerakkan transformasi Wijaya Karya selama satu dekade sebagai BUMN yang sehat. Lantas berubah dari persero menjadi perusahaan terbuka.

"Sangat tepat keputusan Bu Rini menempatkan Bintang di HK. Selain karena HK sudah berada di jalur transformasi dengan creativity kick off and innovation breakthtrough, Bintang juga inovatif dalam melihat melihat korporat dalam konteks finance viabilities," ujar seorang mantan CEO salah satu Bank BUMN.

"Apalagi di jajaran komisaris ada Adityawarman, mantan direktur utama Jasa Marga," ujarnya lagi.

Kemampuan finance viabilities dan ruh kepemimpinan Bintang yang berkembang di lingkungan perusahaan konstruksi, akan membuat HK mampu merancang sekaligus mengeksekusi finance engineering dan risk management, termasuk asset management yang tetap mengacu pada profit dan benefit secara terintegrasi.

Lebih dari itu, mantan CEO salah satu bank BUMN, ini melihat, esensi penugasan kepada HK untuk membangun melakukan percepatan JTTS, dalam situasi perekonomian nasional, regional dan global saat ini, lebih kepada penegasan tentang nation dignity. Terutama, mempercepat proses pengakhiran ketimpangan antar wilayah Jawa - Sumatera.

"Terus terang, dari perspektif investasi, untuk masuk ke JTTS dengan pola pembiayaan mandiri dan suntikan anggaran negara, memang high risk. Tentu HK akan seperti korporat yang masuk dalam area kaca pembesar. Akan terlalu banyak pihak, terutama stakesholder yang menyoroti. Termasuk elemen politik," ujar bankir itu lagi.

Tapi, dia percaya Bintang Perbowo dan jajaran direksinya, akan mampu mengubah tantangan itu menjadi peluang besar bagi HK menjadi lokomotif transformasi BUMN konstruksi.

Tak hanya bankir itu yang percaya. Sejumlah kader yang pernah ditempa di BUMN dalam kepemimpinan Bintang, juga yakin HK mampu mengemban tugas nasional yang tidak ringan itu.

Bintang dan seluruh jajaran manajemen HK terus menggeber proyek pembangunan JTTS itu. Melakukan sinergi dengan berbagai BUMN yang terkait dengan pengerjaan proyek. Juga melakukan berbagai komunikasi intensif dengan masyarakat.

Dengan biaya investasi senilai Rp475 triliun, pemerintah juga memberikan fasilitas penyertaan modal negara (PMN) sesuai dengan persetujuan DPR RI.

Tak hanya itu, obligasi yang dijamin oleh pemerintah juga  didapatkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Sejumlah ruas JTTS sudah beroperasi. Di antaranya ruas Medan-Binjai, Palembang-Indralaya dan Bakauheni-Terbanggi Besar. Ruas jalan tol Banda Aceh - Sigli juga sudah tersambung. Tentu, masih ratusan kilometer lagi ruas jalan yang harus dibangun secara bertahap.

Intinya adalah, HK sudah bergerak, mewujudkan impian menjadi kenyataan. Bentangan masa depan Sumatera tengah berproses dan HK menunjukkan kemampuannya untuk memikul nation dignity. Indonesia, Mampu ! |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 226
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1340
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
Selanjutnya
Energi & Tambang
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 322
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
03 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 79
Pertamina Bersinergi dengan PLN di Bisnis Kelistrikan
04 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 83
Sekolah Percaya Diri Pertamina
Selanjutnya