Erwiana Masih Terbaring

Kepolisian Hongkong Kunjungi TKI Korban Penyiksaan

| dilihat 1289

JAKARTA, AKARPADI.COM. ERWIANA Sulistyaningsih, TKI korban penyiksaan di Hong Kong yang masih tergolek di Rumah Sakit Islam Amal Sehat – Sragen, menjadi pusat perhatian. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyempatkan untuk menelpon orang tua dan dirinya.

Presiden SBY mengambil jeda Sidang Kabinet Indonesia Bersatu II yang membahas persoalan bencana, mengekspresikan keprihatinan dan kemarahannya karena penyiksaan itu. Pasalnya, ketika berlangsung KTT APEC di Bali, beberapa waktu lalu, Presiden SBY sempat menitipkan TKI kepada pemerintah Hongkong. Presiden juga mengirimkan bantuan untuk Erwiana dan keluarganya.

Kunjungan empat petugas dari skuad kriminal Kepolisian Hongkong yang datang ke Indonesia difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri RI dan Konsulat Jendral RI di Hongkong, keempat petugas itu, dipimpin oleh Chief Inspector Mr. Eric Chung Chi-ming dan Senior Inspector Mr. Robert Law Chi Yau, beranggotakan Senior Inspector Ms. Li Kay-yan dan Constable Mr. Wu Tang-him. Mereka juga didampingi  Secretary of Labour and Welfare Hongkong, Ms Veronica Chan Kar-Wung dan Ms Rachel Au Pui-yee. Kepala BNP2TKI, Muhammad Jumhur Hidayat pun mendampingi mereka.

Mereka datang, seperti diberitakan Akarpadinews.com, sebelumnya, untuk melakukan investigasi lebih lanjut atas kasus penganiayaan yang dialami Erwiana Sulistyaningsih di Hong Kong.  Mereka datang untuk mendapatkan dokumen medical report serta keterangan langsung dari Erwiana. 

Termasuk memerlukan kehadiran kembali Erwiana ke Hongkong untuk membantu proses penyelidikan terhadap pelaku yang sudah ditangkap di Bandara Hongkong.

Erwiana diperlukan sebagai saksi pelapor dan saksi korban. Erwiana meninggalkan Hongkong dalam keadaan memar dan harus menggunakan pampers selama penerbangan ke Bandara Juanda – Surabaya. Atas kasus yang menimpa TKI asal Ngawi – Jawa Timur yang menderita, itu kepolisian Hongkong juga meminta keterangan dari perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia yang memberangkatkan Erwiana.



Setibanya di Bandar Udara Adisumarmo (20/1), Tim KJRI Hong Kong, Kemlu RI, Tim Kepolisian Hong Kong, BNP2TKI dan perwakilan Departemen Tenaga Kerja Hong Kong langsung menuju kota Sragen, dimana Erwiana tengah dirawat di RS Islam Amal Sehat. 

Tim Kepolisian Hong Kong yang juga dibantu petugas dari Mabes Polri dan Polres Sragen, itu melakukan wawancara dengan Erwiana (21/1).

Pernyataan Erwiana mengenai penyiksaan yang dialaminya di Hong Kong amat penting bagi Kepolisian Hong Kong untuk meneruskan kasus ini ke sidang pengadilan. 
Kepolisian Hong Kong juga mengambil keterangan dari Yanti sebagai saksi yang pertama kali melihat korban di Bandara Hongkong, menolongnya dan kemudian melaporkan kondisi Erwiana kepada polisi.



Saat ini bekas majikan perempuan Erwiana telah ditahan oleh kepolisian Hong Kong. KJRI sendiri sudah bertindak, memasukkan majikan perempuan Erwiana ke dalam daftar hitam majikan, sehingga yang bersangkutan tidak diperbolehkan lagi mempekerjakan PLRT dari Indonesia. 



Selanjutnya, KJRI Hong Kong telah menerima pernyataan dari Direktur PT Graha Ayu Perkasa yang mengirim Erwiana, yang harus membiayai perawatan Erwiana hingga sembuh total. Termasuk menanggung seluruh biaya yang diakibatkan oleh tuntutan pidana dan perdata terhadap majikan. Agen TKI ini juga harus menanggung biaya tiket ke Hong Kong, akomodasi selama persidangan berlangsung di Hong Kong, serta pendampingan hukum.

Kepada Presiden SBY, Erwiana menjelaskan saat ini dirinya masih merasa pusing-pusing.  Menurut SBY, selama ini pemerintah Hongkong termasuk baik dalam memperlakukan TKI dibandingkan dengan negara lain.  “Selama ini penanganannya baik. Pemerintah dan saya tidak senang atas kejadian ini dan marah,” katanya.

Tindakan kepolisian Hongkong mengusut kasus Erwiana dapat dicontoh sebagai cara pemerintah mengelola masalah dan menyelesaikannya. | Noora

 

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1277
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1671
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 848
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1271
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Budaya
06 Jul 20, 09:30 WIB | Dilihat : 150
Puisi, Pandemi dan Kisruh Logika Publik
23 Jun 20, 15:34 WIB | Dilihat : 207
Malim Ghazali PK Berpulang di Tengah Tirani Sastra
18 Jun 20, 20:40 WIB | Dilihat : 187
Seni Dayak Titian Surgawi
Selanjutnya