Aksi Korporasi Hutama Karya

Jalan Tol Sumatera Telangkai Mega Region

| dilihat 894

Catatan Luar Pagar Sém Haésy

Akankah pembangunan jalan tol Trans Sumatera selesai pada 2024, lima tahun lebih cepat dari target semula, 2030?

Kita optimistis. Terutama ketika melihat JTTS sebagai bagian utama dari program integrasi nasional.

Direktur Utama Hutama Karya, Bintang Perbowo meyakini, Hutama Karya (HK) yang dipimpinnya dapat melaksanakan amanah sekaligus penugasan pemerintah, itu selama lima tahun ke depan.

Membangun JTTS bagi HK bukan sekadar membangun jalan tol, melainkan membangun jalan transformasi menuju Indonesia Maju, yang multi dimensi,  terkait kedaulatan negara, kemajuan dan kemandirian ekonomi, serta keunggulan peradaban.

Percepatan pembangunan JTTS dari sudut pandang lain, menurut Sofhian Mile -- mantan ketua Komisi DPR RI yang meliputi infrastruktur -- mesti dilihat sebagai upaya strategis dalam menempatkan Indonesia pada konstelasi dan strategis yang tepat. Yakni sebagai negara utama di rantau Asia Tenggara.

JTTS mesti juga dilihat dalam konteks global. Karena, ketika kita berpikir tentang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, kita juga mesti berfikir tentang kebangkitan unit ekonomi baru, mega region, yang sekurang-kurangnya meliputi seluruh provinsi di Sumatera sebagai representasi Indonesia dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Konsep mega region sudah berkembang beberapa dekade terakhir.

Dalam suatu seminar internasional, salah satu sesi dalam Bernama - Antara Summit di Malaka (2013) sempat berkembang pemikiran untuk menghubungkan Dumai dengan Malaka -- via Teluk Gong (Malaysia) dan Pulau Rupat (Riau) melalui jembatan sepanjang 48,69 km di atas Selat Malaka.

Menurut Datuk Seri Idris Haron - Ketua Menteri Malaka ketika itu, gagasan pembangunan jalur lintas Malaka - Dumai sudah berkembang sejak 2006, namun mengendap selama  tujuh tahun.

Ketika pembangunan JTTS di ruas Pekanbaru - Dumai selesai tahun 2019 secara tepat waktu, sejumlah rekan di Malaysia terusik kembali untuk menghidupkan gagasan lama, itu.

Jika gagasan itu diimplementasikan, akan terbentang jembatan terpanjang di dunia, yang melintasi jalur pelayaran internasional tersibuk. Apalagi, bila pemerintah Provinsi Riau atau Pemerintah Republik Indonesia, meningkatkan kualitas jalan raya sepanjang 71,2 km antara Dumai dan Pulau Rupat, sebagai titik penghubung terdekat dengan Malaka.

Pada 12 Sepotember 2013, gagasan itu telah dibahas dalam Forum Ketua Menteri dan Gubernur (CMGF) ke 10 - Segitiga Pertumbuhan Indonesia - Malaysia - Thailand (IMT) di Koh Samui, Thailand.

Dalam Forum itu mengemuka gagasan dan konsep strategis pembangunan Jembatan Malaka - Dumai untuk memanifestasikan potensi ekonomi Indonesia - Malaysia, yang akan berdampak positif juga bagi Thailand.

Gagasannya sendiri sudah terbetik dan mulai dibahas serius dalam berbagai forum sejak 1995 sebelum muncul krisis moneter Asia tahun 1997, khasnya terkait dengan gagasan utama menumbuhkan peluang ekonomi baru di sektor perdagangan dan pariwisata.

Lepas dari soal itu, pembangunan JTTS ruas Pekanbaru - Dumai dibangun HK dengan menerapkan sistem lean construction. Sistem ini, menurut Direktur Utama Hutama Karya, Bintang Perbowo merupakan sistem untuk mencapai efisiensi, tepat waktu, dengan tetap mencapai mutu terbaik dalam pembangunan konstruksi, tak terkecuali jalan tol. (Lihat : HKWay dan Lean Construction)

Ruas JTTS Pekanbaru - Dumai diproyeksikan selesai Nopember 2019 ini, sehingga dapat diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tepat waktu.

Dari sudut pandang mega-region yang akan memperkuat kawasan pertumbuhan empat negara (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand) penyelesaian JTTS ruas Pekanbaru - Dumai, sepanjang 131 kilometer, merupakan feeder (pengumpan) bagi pertumbuhan masa depan Provinsi Riau, sekaligus peran strategis Indonesia di ASEAN.

Dari segi panjangnya, ruas JTTS Pekanbaru - Dumai melampaui ruas terpanjang jalan tol Trans Jawa, yakni Cikopo - Palimanan (116,75 kilometer).

Transformasi Budaya

Pembangunan JTTS, yang akan menghubungkan Bakauhuni sampai Banda Aceh, tak bisa tidak harus selesai tepat waktu. Terutama, sebagai implementasi pidato pelantikan Presiden Jokowi yang menegaskan, bahwa "Pembangunan infrastruktur akan... menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, yang mempermudah akses ke kawasan wisata, yang mendongkrak lapangan kerja baru, yang mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat," (Ahad,20/10/2019).

Dalam konteks regional ASEAN dan ASIA, pembangunan JTTS juga mesti dilihat sebagai respon terhadap perkembangan dinamika ekonomi baru yang khas, dan berbeda ketika pemikiran ekonomi klasik besar membingkai teori, bahwa negara merupakan ruang di mana tenaga kerja dan modal dialokasikan kembali oleh proses ekonomi.

Ke depan, gagasan ekonomi baru memberikan isyarat lain, tentang penguatan akses produksi dengan distribusi dan pasar, mesti menjamin berlangsungnya deliveri ke pasar secara lebih cepat dan efisien.

Apalagi, pada abad ke-21, ini globalisasi membuat batas -batas nasional -- baik dalam  konteks produksi, distribusi dan pasar -- tidak begitu berarti. Hal itu, antara lain, disebabkan oleh realitas, bahwa kini, modal dapat dialokasikan secara bebas di seluruh dunia - mencari pengembalian maksimum di mana pun mereka berada.

Selaras dengan itu, pembangunan jalan tol, termasuk JTTS, akan terlihat sebagai pilar bagi berlangsungnya unit ekonomi mega-region, yang dapat dipahami sebagai struktur makro yang paralel.

Mega-region, khasnya di Sumatera, melalui JTTS, akan membentuk rangkaian kota yang terintegrasi dan daerah sub urban di sekitarnya, di mana tenaga kerja dan modal dapat dialokasikan kembali dengan biaya yang efisien.

Tak hanya itu. Dalam perbincangan di kantornya, Bintang Perbowo mengisyaratkan bahwa pembangunan JTTS berhubungan langsung dengan transformasi budaya masyarakat.

"Ada pertimbangan budaya, terutama berkaitan dengan adat istiadat dan tradisi dalam proses awal pembangunan, serta asimilasi dan akulturasi yang akan terjadi ke depan, setelah pembangunan selesai dan JTTS dioperasikan," ungkap Bintang.

Sofhian Mile melihat, pembangunan JTTS akan mampu menghubungkan sentra-sentra budaya dan peradaban masa lalu dan masa depan, sekaligus menggerakkan kreativitas dan inovasi baru masyarakat yang terkoneksi.

Pembangunan JTTS akan dengan sendirinya menjadi salah satu faktor penting dalam menggerakkan transformasi budaya. Antara lain dengan tumbuh kembanguna metropolitan dan kota-kota baru.

Pertumbuhan itu, dari sudut pandang mega-region, akan menjalankan fungsi menyatukan bakat dan kemampuan produktif modal insan lokal, kreativitas, inovasi, dan pasar dalam skala yang jauh lebih besar. Menggerakkan secara paralel percepatan informasi dan transformasi budaya yang digerakkan oleh teknologi informasi, dengan infrastruktur fisik (JTTS) yang menguatkan akses modal insan lokal untuk masuk ke dalam ajang kompetisi berbasis kompetensi.

Terbayangkan, ketika JTTS selesai dan beroperasi disertai secara paralel dengan pembangunan cyber optic dengan kecepatan yang memadai, akan terjadi gerakan transformasi multi dimensi. Termasuk berkembangnya desa dan kota sebagai pusat-pusat pertumbuhan baru.

Di situ transformasi budaya bergerak bersama modal insan yang berkualifikasi hutama (primer) dan karya (kreatif dan inovatif).|

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 337
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
03 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 93
Pertamina Bersinergi dengan PLN di Bisnis Kelistrikan
04 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 97
Sekolah Percaya Diri Pertamina
Selanjutnya
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 148
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 618
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 159
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya