Imagineering Laksana Rahim Ibu

| dilihat 1885

IMAGINEERING banyak diterapkan untuk menemu­kan berbagai solusi atas berbagai masalah yang menimpa begitu banyak perusahaan dan bahkan bangsa. Perkembang­annya bergerak cepat di belantara Eropa dan Amerika dan merambah ke berbagai sektor kehidupan.

Thomas Wallace, me­ngembangkan Human Imagineering, diikuti oleh Jack Rasso, 1997. Terutama untuk melaku­kan perubahan di lingkungan divisi sumberdaya manusia per­usahaan.

Jack mengembangkan metode visual therapy sebagai salah satu teknik imagineering. Akan halnya Richard Bach, memperkaya imagineering dengan berbagai kajian perencana­an bisnis dalam melaku­kan “drawing” pada proses perencana­an bisnis.

Tidak hanya melihat visualisasi kesuksesan yang banyak dilahirkan oleh mimpi kolektif pada saat mendirikan perusahaan. Melainkan juga, beragam kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Termasuk kebangkrutan pada suatu masa tertentu.

Imagineering dipergunakan sebagai basic guide line dalam menyusun master business plan. Terutama untuk me­misahkan aneka obsesi dari fantasi liar yang hanya didorong oleh hasrat dan keinginan subyektif, dan realitas pertama yang akan terjadi dan dialami, ketika terjadi penyimpangan atas master business plan yang “ biasanya “ disusun berdasarkan obsesi dan asumsi-asumsi idealistik.

Dalam memprediksi masa depan suatu per­usahaan, serta menemukan solusi atas berbagai pro­blematika bisnis yang akan dihadapi, imagineering dipergunakan sebagai panduan menemukan masalah, mencari dan melaksanakan solusinya. Salah satu metode yang dikembangkan adalah visio­neering, melalui metode sceenario planning.

Suatu teknik perencanaan memprediksi masa depan dengan mengguna­kan berbagai pendekatan secara egaliter dan tetap berada dalam koridor manajemen bisnis.

Norman Vincent Peale, seorang motivator bisnis yang banyak menulis buku tentang pengem­bangan pribadi di lingkungan bisnis, di luar ke­sadarannya menerapkan metode imagineering, untuk sampai kepada pemahaman asasi atas pandangan Marcus Aurelius.

Wiseman dari Roma, itu menyatakan: “Hidup kita adalah apa yang diciptakan oleh pikiran kita”. Aurelius sampai pada kesimpulan itu, setelah ber­tahun-tahun me­renungkan hakekat pikiran, yang selalu berinteraksi dengan mimpi (yang kemudian melahirkan ilusi, fantasi, dan imaji­nasi).

Ia, sebagaimana halnya Arthur Brisbane, pakar man power planning dari negerinya Obama, baru memahami ke­biasaan John D. Rockheffeler Sr, yang membayar mahal se­orang laki-laki, yang pe­kerjaannya hanya duduk-duduk dan memikirkan gagasan-gagasan kreatif, ide-ide baru untuk bisnis­nya. Kesadaran Rockeffeler Sr., itulah yang oleh De Bono, disebut sebagai ‘kesadaran imagineering‘ .

Sevara metodologi, imagineering memandu siapa saja, untuk mau dan mampu merumuskan sentra kepedulian terhadap masalah yang di­hadapi suatu perusahaan, di tengah begitu banyaknya want dan need ber­hamburan di benak para pendirinya. Sentra kepedulian itu dihadapkan dengan berbagai in­dikator realitas di seluruh aspek kekuatan pen­dorong yang dimiliki per­usahaan. Untuk akhir­nya mampu mendeskripsi­kan kondisi terburuk dan kondisi ideal masa depan­nya.

Imagineering dalam keseluruhan konteks ke­berada­annya sebagai suatu pengetahuan aplikatif, juga disebut sebagai instrumen strategis dalam me­lakukan proses per­ubahan.

Di dunia bisnis, imagi­neering menawarkan alter­natif progresif terkait per­ubahan mindset tentang anti marketing mind. Faktor asasi aktivitas bisnis, untuk me­nendang jauh-jauh kedunguan yang menyebabkan potensi sumberdaya manusia di suatu perusahaan tergiring oleh orientasi struktural, memburu posisi, hanya untuk memper­oleh imbalan besar.

Membekuk kedunguan sebagian manusia yang me­mandang posisi managerial tertinggi se­bagai puncak pro­fesionalitas. Melempar jauh-jauh para pengambil keputusan yang ragu-ragu mengambil ke­putusan, lantaran meng­anggap para pemikir kreatif sebagai risktaker yang karib dengan para gambler.

Imagineering membantu siapa saja, terutama para profesional, membebaskan dirinya dari ke­mandegan ber­pikir, dan kelelahan batin menghadapi situasi dan kondisi yang berubah dan bergerak ter­lampau dinamis.

Para ‘tukang‘ yang ditugaskan mengelola manajemen, dan men­capai puncak karirnya hanya sebagai robot bagi para owners. Padahal, per­kembangan bisnis kontemporer lebih memerlukan para profesional yang bisa memberikan pre­diksi yang seimbang.

Imagineering sebagai instrumen per­ubahan, menurut Nijs, laksana rahim ibu yang hanya me­lahirkan bayi unggulan bagi masa depan.| Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 567
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1387
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2289
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 992
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1182
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 890
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 881
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya