Eco Bag, Solusi Atasi Sampah Plastik

| dilihat 2096

AKARPADINEWS.COM | Sejak 21 Februari 2016, pemerintah menerapkan regulasi soal kantong plastik berbayar di seluruh gerai pasar modern Indonesia (mall). Kebijakan ini merupakan salah satu strategi guna menekan laju timbunan sampah kantong plastik yang selama ini mencemari lingkungan hidup.

Terbitnya ketentuan mengenai kantong plastik berbayar tersebut menindaklanjuti hasil pertemuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Asosiasi Pengusaha Ritel Seluruh Indonesia (APRINDO).

Dan, dalam Surat Edaran KLHK, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun Nomor S. 1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan  Mekanisme Penerapan Kantong Plastik berbayar, dijelaskan minimal harga satu kantong plastik adalah Rp200. Sementara terkait jenis kantong plastik yang disediakan pengusaha ritel, pemerintah, BPKN, YLKI, dan APRINDO sepakat, spesifikasi kantong plastik yang dipilih adalah yang paling minimal menimbulkan dampak pencemaran lingkungan.

Sampah menjadi persoalan yang kian serius. Setiap hari, kota-kota besar di Indonesia menghasilkan volume sampah yang menakjubkan. Di Jakarta misalnya, volume sampah mencapai 7.000 ton per hari. Sementra di kota-kota lainnya di Indonesia, volume sampah sudah mencapai 2-3 ton per hari. Sebagian besar gunungan sampah itu adalah sampah plastik yang sangat susah terurai dan memiliki dampak buruk bagi lingkungan.

Karenanya, aturan pemerintah disambut positif sebagian khalayak. Pihak mall juga menerima aturan tersebut. Bagi pengunjung mall, harga plastik Rp200 bukan masalah. Namun, yang perlu dikritisi, mengapa peraturan tersebut harus dibebankan pada masyarakat sebagai pembeli? Mengapa tidak dikenakan kepada pihak mall? Mengapa pihak mall yang tidak menyiapkan kantong yang lebih ramah lingkungan? Bila hanya dibebankan pada masyarakat, tentu yang diuntungkan adalah pengusaha.

Masyarakat tentu akan mendukung kebijakan pemerintah itu asal lebih tepat sasaran. Idealnya, regulasi pemerintah ditetapkan secara matang dan tidak merugikan masyarakat.

Dalam pelaksanaanya, ada juga pemerintah kota yang menerapkan harga minimal di atas Rp200. Di Balikpapan misalnya, terbit Surat Edaran Walikota Balikpapan Nomor: 005/0123/BLH yang menerapkan harga ukuran kantong plastik minimal Rp1.500 dengan jenis plastik yang harus bersifat ramah lingkungan.

Harga yang rada mahal itu tujuannya agar setiap orang yang akan berbelanja di ritel-ritel, mengubah kebiasaan yang selama berbelanja menggunakan kantong plastik. Kedepan, masyarakat diharapkan membawa kantong sendiri.

Sebelum Indonesia, diet kantong plastik juga dilakukan negara-negara lain seperti Inggris, Amerika dan Skotlandia. Sedangkan di Asia, gerakan diet plastik dipelopori Jepang, India, dan Cina. Negara Tirai bambu yang menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunai ini mengurangi sampah kantong plastil sejak tahun 2008.

Penerapannya mirip dengan Indonesia. Namun, Cina sudah sampai pada tahap pembatasan produksi, penjualan, dan penggunaan kantong plastik. Hasilnya, setelah tiga tahun kebijakan itu dijalankan, penggunaan kantong plastik di Cina turun hingga 60.000 ton plastik yang jika dinominalkan mencapai Rp24 miliar.

Penggunaan plastik memang sudah tak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat. Tak terkecuali untuk kemasan makanan. Ketergantungan masyarakat terhadap plastik, semakin tinggi. Namun, sebagian besar masyarakat kurang mengetahui dampaknya. Plastik dipakai karena ringan dan murah. Namun, memiliki resiko tinggi terhadap lingkungan lantaran kantong plastik tidak mudah hancur di tanah.

Regulasi yang dilakukan pemerintah tidak akan menghasilkan dampak yang signifikan tanpa kemandirian masyarakat. Di Indonesia sendiri sudah mulai diterapkan penggunaan Eco Bag atau My Bag sebagai solusi pintar pengganti plastik.

Menurut gerakan peduli lingkungan, Greeneration Indonesia, sekitar 150 juta kantong plastik dapat dikurangi melalui kampanye diet kantong plastik dengan Eco Bag, tas belanja yang bisa dipakai berkali-kali, dengan bahan kain, plastik atau apa saja. Tas belanja itu tidak langsung buang saat selesai dipakai. Namun, bisa disimpan, dan digunakan kembali jika diperlukan. Tas itu bernilai ekonomis, hemat pengeluaran, dan sangat ramah lingkungan.

Peluang usaha Eco Bag menjadi bisnis menarik untuk dikembangkan. Tas itu pun merupakan upaya mengolah limbah plastik lebih bermanfaat. Beberapa wirausaha kreatif mulai mengembangkan Eco Bag dengan desain dan warna yang menarik untuk mendorong minat konsumen, sekaligus menciptakan gaya hidup masyarakat yang peduli lingkungan.  

Plastik memang membuat semuanya mudah dan praktis. Namun, dengan mengurangi penggunaanya dan menggantikannya dengan Eco Bag, menjadi sebuah ikhtiar dalam mengatasi pencemaran lingkungan.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Seni & Hiburan
19 Mei 19, 23:20 WIB | Dilihat : 210
Peter Seeger Suara Lirih Di Tepian Sungai Hudson
25 Mar 19, 17:31 WIB | Dilihat : 636
Dangdut dan Betawi dalam Minda Musika Chrisye
12 Mar 19, 13:09 WIB | Dilihat : 493
Mengenang Chrisye Merawat Cinta di Ancol
Selanjutnya
Lingkungan
24 Mar 19, 11:13 WIB | Dilihat : 618
Surat Gubernur Anies Baswedan untuk Pekerja Proyek MRT
06 Mar 19, 12:36 WIB | Dilihat : 357
Sungai Bersih dan Masjid Jamek Pesona Khas Kuala Lumpur
02 Mar 19, 00:45 WIB | Dilihat : 382
Beranda Jakarta dan Rekacita Masjid Terapung Ancol
27 Feb 19, 13:14 WIB | Dilihat : 348
Jangan Menutup Matahari dengan Jemari
Selanjutnya