EKONOMI DESA

Desa Belum Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi

| dilihat 1461

AKARPADINEWS.COM | MENTERI Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Menteri Tertinggal), Marwan Jafar mengklaim, dana desa terbukti mampu menghidupkan geliat perekonomian masyarakat desa, sehingga punya daya tahan terhadap krisis. Klaim sepihak itu disampaikannya secara tertulis, dan diterima media, Ahad (28/2/16).

Dalam keterangan tertulis yang disampaikannya kepada media, Menteri Tertinggal itu menyatakan, dana desa bisa dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan yang bersifat padat karya. Dia juga mengungkapkan, ketika banyak pihak memprediksi masyarakat desa akan kelimpungan ketika terjadi krisis ekonomi global maupun adanya kenaikan harga BBM tahun 2015, ternyata masyarakat desa tetap mempunyai daya tahan.

Menurut Menteri Tertinggal yang adalah politisi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), dana desa digunakan untuk membangun infrastruktur : jalan desa, irigasi, sanitasi, dalan usaha tani, embung, dan proyek infrastruktur desa. Pembangunan sepenuhnya memaksimalkan potensi desa. Mulai dari tenaga kerja, bahan baku, dan peralatan. Artinya, dana desa sungguh berputar di desa tersebut.

Marwan menyebut, dana desa yang sungguh cash for work dan dirasakan masyarakat dengan program yang sepenuhnya ada di desa, itu tak lagi hanya program pusat yang sekedar menetes ke desa. Menurutnya, kebijakan dana desa ini termasuk kebijakan radikal yang diterapkan pemerintahan Jokowi – JK.  Dia juga mengatakan, meskipun baru pertama kali dijalankan penggunaan dana desa 2015 tergolong sukses, karena hanya enam persen yang tidak sesuai arah pembangunan.

Dikatakannya, penggunaan dana desa berbasis kemandirian masyarakat desa secara utuh. Dia mengaku, Kementerian Tertinggal yang dipimpinnya, mengawal agar proses pembangunan di desa itu berjalan secara cepat, tepat, dan sesuai kebutuhan masyarakat desa, dan sesai keperluan masyarakat desa.

Menteri Tertinggal itu menegaskan, pihaknya mengarahkan, mengawal, sehingga desa-desa tumbuh menjadi mandiri. Masyarakat desa, katanya, didorong agar merdeka secara ekonomi, sosial, politik, dan dengan kepribadian yang berwibawa di mata dunia.

Dalam penelusuran akarpadinews, tidak seluruh pernyataan Menteri Tertinggal itu nyata di lapangan. Di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak, yang terletak tak lebih dari 70 sampai 120 kilometer dari ibukota Jakarta, kesenjangan pertumbuhan antar desa masih nampak dan terasa.

Dana Desa yang dirancang di era SBY-Budiono, itu memang diperuntukan bagi pengembangan desa, terutama untuk memperkuat kemandirian masyarakat desa. Sejak lama, masyarakat desa dengan segala keterbatasannya memang sudah ‘tahan banting.’ Bahkan nyaris tak terpengaruh dengan kebijakan ekonomi apapun yang dilakukan pemerintah, termasuk kenaikan harga BBM.

Maman, mantan Kepala Desa di Kabupaten Pandeglang mengemukakan, “Dari dulu masyarakat desa juga sudah tahan banting, walaupun menghadapi kondisi sangat sulit, seperti di tahun sembilan puluh tujuh.” Dia mengandaikan, produk pedesaan dari desa Tamanjaya di Kecamatan Sumur – tak jauh dari Ujung Kulon – lebih mahal diongkos, ketika tiba di pasar Labuan.

Dana desa yang diputuskan DPR RI periode 2009-2014, memang bisa menolong untuk kepentingan membangun infrastruktur desa. Tapi, semangatnya masih membangun desa, belum desa membangun. Program di jaman Orde Baru justru lebih baik, ketika masih berada di bawah Undang Undang No. 5/79. Ketika itu, menurut Maman, hampir seluruh infrastruktur desa terbangun. Tapi, penduduk desa tidak bisa mengatur harga jual produksi desa.

Di Kecamatan Cisolok – Kabupaten Sukabumi, Muharram aktivis salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mengatakan, pembangunan pedesaan kita berjalan biasa-biasa saja. Tak ada perubahan yang berarti. Untuk melihat seberapa besar pengaruh dana desa terhadap geliat perekonomian desa, tidak bisa diklaim secara serta merta.

“Make logika bodo aja. Kalau dua tahun baru menyelesaikan infrastruktur desa, perubahannya paling kongkret baru bisa dilihat nanti tahun 2019,”tuturnya.

Menurut Muharram, tidak jaman lagi lah mengklaim keberhasilan dengan pernyataan-pernyataan yang tidak perlu. Ada atau gak ada dana desa, geliat perekonomian di pedesaan gak akan pernah mati. “Selagi orang perlu hidup pasti ada usaha. Perekonomian desa menggeliat sudah dari jaman dulu,”ujarnya.

Emad, petani kopra di Malingping mengatakan, di desanya sampai ke Bayah, ekonomi desa tumbuh dari jaman dulu. “Saya produksi kopra turun temurun dari aki saya,”cetusnya. Emad cerita, aki dan bapaknya mendapat bantuan dari koperasi ketika jaman Pak Harto, Bu Mega dan Pak SBY jadi Presiden. Sekarang? Dia menjawab dengan gelengan kepala.

Selain produksi kopra, Emad juga berdagang kelapa muda, setiap akhir pekan di pantai Bayah. Di daerah wisata itu, dia dan beberapa petani dari desa-desa tetangganya, menangguk penghasilan yang lumayan. Apalagi, sejak 2014 ada pembangunan jalan provinsi, dengan pengecoran.

Taufik mengatakan, pertumbuhan ekonomi di Malingping didukung oleh industri desa tradisional yang sudah berlangsung sejak jaman Orde Baru. Antara lain, industri gula aren dan kopra seperti yang diusahakan oleh Emad. Juga karena di Malingping ada perkebunan milik negara (PTP VIII). “Gak ada hubungannya dengan dana desa,” ungkapnya.

Menurut Taufik, aktivis LSM di Malingping, pembangunan jalan Saketi – Malingping tahun 2012 - 2013 membuat ekonomi desa-desa di sekitar Malingping tumbuh. Dia mengatakan, klaim keberhasilan pembangunan desa, terutama desa tertinggal, baru bisa dinyatakan, ketika beberapa hal sudah tercapai.

“Tapi, di sini desa belum menjadi pusat pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. “Ekonomi rumah tangga di desa-desa sini masih bergantung kiriman warga desa yang merantau ke Jakarta, Serang, Bandung, serta jadi TKI di Malaysia, Taiwan, dan Arab Saudi,” lanjutnya.

Ungkapan senada dikemukakan Muharram, yang menyebut Pemerintah Provinsi Jawa Barat, gencar membangun infrastruktur yang membuka akses masyarakat desa terhadap pasar. 

“Pak Wagub Deddy Mizwar, sering ke desa-desa terpencil di Sukabumi Selatan. Pak Wagub membawa inovasi dengan program Jabar Caang, penggunaan listrik desa menggunakan accu,” jelasnya. Termasuk penggunaan kompor berbahan bakar sampah.

Baik Maman, Muharram, maupun Taufik sama menilai terlalu dini mengklaim keberhasilan pembangunan desa. Masih banyak desa yang tertinggal dan bergantung dana yang masuk dari kota besar dan TKI di luar negeri. | Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 567
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1387
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2289
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 992
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya
Humaniora
27 Mei 19, 14:39 WIB | Dilihat : 29
Perempuan Bukan Embel Embel
22 Mei 19, 20:55 WIB | Dilihat : 135
Mengenang Perang Badr 17 Ramadan 02 Hijriah
18 Mei 19, 20:34 WIB | Dilihat : 276
Kejujuran Pergi Menjemput Petaka
06 Mei 19, 14:58 WIB | Dilihat : 445
Jujur itu Mulia, Curang itu Hina
Selanjutnya